Digilife

Menjadi Santri yang Melek Teknologi

  • 03 Apr 2022 WIB
    Bagikan :
    Ilustrasi: Mufid Majnun/Unsplash

    Ada sebuah kaidah populer di kalangan pesantren yang berbunyi “Al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (Menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik). Dalam konteks kekiniain, tafsirannya bisa menjadi seperti ini yakni menjaga tradisi pesantren sembari mempelajari hal-hal-hal baru yang bersifat kekinian. Kekinian tersebut bisa berupa teknologi.

    Sebagaimana kita ketahui, teknologi industri berkembang dengan pesat. Perubahannya begitu cepat. Jika tidak beradaptasi maka siapapun akan tertinggal. Termasuk santri. Pesantren selayaknya mempersiapkan para santrinya menghadapi revolusi industri 4.0. Revolusi industri pertama (1.0) cirinya adalah mesin uap. Sedang revolusi industri 2.0 cirinya adalah kemunculan industri dan lini produksi. Kemudian revolusi industri 3.0 cirinya adalah penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Kemudian saat ini, revolusi 4.0, cirinya adalah konektivitas manusia, mesin, dan data. Semua terkoneksi dalam jaringan.

    Revolusi sekarang ini semua sistemnya berbasis teknologi. Maka, pihak pesantren dituntut kreatif dan inovatif dalam mendidik para santrinya. Guru atau ustaz harus lebih dari sekadar mentransfer pengetahuan terjadap santrinya. Jika hanya transfer ilmu, ustaz bisa digantikan oleh teknologi. Ustaz zaman sekarang harus mampu menginspirasi, memberi sugesti dan memotivasi para santrinya agar mampu bersaing di era revolusi industri.

    Industri 4.0 ini ditandai dengan kemunculan komputer super, kecerdasan buatan atau Intelegensi Artifisial (IA). Disadari atau tidak, saat ini, sebagaimana dikatakan Andrey Andoko, wakil rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN), pekerjaan yang bersifat rutin dan harian sudah banyak diambil alih mesin. Ke depan pekerjaan yang masih belum bisa diambil alih oleh mesin dan robot adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan dalam melakukan analisa, mengambil keputusan atau berkolaborasi (Kompas/2/5/18).

    Berkaca pada pendapat Andrey di atas, seorang ustaz dapat memaksimalkan proses pembelajarannya terhadap hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin tersebut. Hal itu bisa dijabarkan ke dalam lima kompetensi yaitu kemampuan memecahkan masalah, mempunyai jiwa kepemimpinan, mampu beradaptasi, serta kreatif dan inovatif. Dengan mempunyai sudut pandang seperti itu, smartphone sebagai perangkat teknologi bukan lagi harus dijauhi, tapi justru digunakan untuk mendukung program pembelajaran tersebut di pesantren.

    Dengan smartphone, ustaz maupun kyai tidak lagi sekadar menjadi sumber ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator. Artinya, ustaz dapat menggunakan smartphone sebagai asistennya untuk membantu para santri menyerap segala ilmu pengetahuan. Bagaimana pun smartphone sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Ia menjadi bagian dari manusia, termasuk para santri. Maka, sudah semestinya smartphone dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendukung proses pembelajaran di pesantren.

    Melalui internet, untuk mendapatkan pengetahuan bisa dengan cepat didapatkan, yang notabene-nya berbeda dengan zaman sebelum era internet. Maka, tugas ustaz adalah membimbing, mengontrol, dan mengarahkan para santri pada saat menggunakan smartphone-nya ketika melakukan proses pembelajaran. Smartphone bisa lebih cepat dari otak manusia.

    Di sini saya sertakan beberapa contoh aplikasi yang dapat digunakan santri dalam mendukung proses belajarnya di pesantren. Pertama, Google Translate. Aplikasi ini adalah layanan yang disediakan oleh Google Inc. untuk menerjemahkan bagian teks atau halaman web dalam satu bahasa ke bahasa lain. Sebagai alat terjemahan otomatis, Google Translate memiliki keterbatan yaitu bisa saja terjemahannya tidak akurat seratus persen. Tapi setidaknya aplikasi ini akan membantu para santri untuk menerjemahkan bahasa yang diinginkannya pada tahap awal. Oleh karena itu, para santri butuh didampingi oleh ustaznya.

    Kedua, Isantri. Aplikasi ini dikeluarkan oleh Kemenag dalam menyediakan sarana informasi berupa perpustakaan digital, baik buku maupun kitab. Jumlahnya sudah mencapai ribuan judul. Hal yang mirip juga dengan situs yang bernama Waqfeya. Situs berbahasa arab ini memiliki koleksi ribuan kitab berbahasa Arab, baik klasik ataupun kontemporer. Kedua perpustakaan digital ini dapat membantu para santri dalam mengakses kitab yang diperlukan di pesantrennya.

    Ketiga, Quran Kemenag. Ini adalah aplikasi hafalan Al-Quran yang dibuat oleh Kementerian Agama. Selain itu, aplikasi iQuran Lite juga dapat membantu dalam menghafal Al-Quran. Dengan menggunakan aplikasi ini, para santri akan ditawarkan dengan fitur-fitur yang dapat membantu dalam menghafal Al-Quran.

    Keempat, Youtube. Tentu sudah tidak asing lagi dengan aplikasi ini. Aplikasi ini bisa digunakan untuk misalnya pada saat belajar khitabah (Pidato) dengan melihat orang berpidato dengan menggunakan bahasa Arab maupun bahasa Inggris, sehingga bisa diikuti gayanya.

    Selain keempat aplikasi di atas, para santri bisa mencari aplikasi maupun informasi di Google maupun Playstore sesuai dengan kebutuhannya. Mengingat teknologi terus berkembang, dengan meleknya para santri terhadap teknologi, semoga bisa menjawab tantangan zamannya di mana para santri sudah siap dengan perubahan yang sedang menantinya.

    Santri yang notabene-nya mengenyam pendidikan agama di pesantren, tentu telah membekali dirinya dengan mental yang baik, berupa wawasan keagamaan yang baik, berakhlak mulia, dan dibekali pula kemandirian yang mumpuni. Maka hal itu sudah menjadi kelebihan tersendiri. Jadi sangat baik apabila santri bisa menggabungkan kekayaan iman dan takwa (Imtak) dan ilmu pengetahuan dan intelektual (Iptek).

    Kini, tidak selayaknya santri buta teknologi. Zaman informasi terbuka ini santri turut berpartisipasi untuk menjadikan dunia lebih baik. Jika tidak berperan, di luar sana, pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab seperti menyebarkan hoaks berbau agama akan mengambil alih. Tugas santrilah yang menangkal semua itu.

    Seorang santri dengan mental yang baik, punya tradisi membaca kitab kuning yang baik, berpegang teguh pada Al Quran dan hadis, serta hati yang baik, kemudian mempunyai kecakapan teknologi mutakhir, maka dia akan menjadi santri par-exellence.

    Imam Syafi’i pernah berkata:

    “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu.Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu.Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”

    ###

    *Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

    **Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.