Ramadan Lyfe

Menjadi Santri di Era Digital

  • 04 Apr 2022 WIB
    Bagikan :

    Jika Anda saat ini masih sedang belajar di pesantren, berarti Anda termasuk generasi santri milenial. Anda sudah hidup di era internet, yang darinya melahirkan era digital. Dari situ kemudian melahirkan lagi yang namanya era konektivitas. Munculnya pelbagai media sosial (medsos), seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, WhatsApp, dan lain-lain, membuat kita mudah terkoneksi satu sama lain. Semua itu telah mengubah gaya hidup dan budaya masyarakat, tak terkecuali Anda dalam menjalankan studinya di pesantren.

    Saya jadi ingat, waktu menjadi santri di akhir 90-an dan awal 2000, sebuah era awal kemunculan internet di Indonesia, saya masih begitu asing dengan dunia tersebut. Pada saat belajar maupun mengerjakan tugas, saya harus ke perpustakaan untuk mencari pelbagai referensi. Kadang harus beli ke toko buku/kitab. Tentu itu sangat menyita waktu dan tenaga, bahkan materi.

    Waktunya dihabiskan untuk mencari referensi, padahal yang lebih penting adalah membaca dan menulisnya. Tenaganya dihabiskan untuk ke sana ke mari dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, dari satu toko buku ke toko buku lainnya, padahal stamina lebih dibutuhkan untuk membaca dan menulisnya. Dan materinya dihabiskan buat beli kitab/buku maupun foto kopi.

    Tapi sekarang, di era digital ini, Anda tidak perlu mengalami hal yang sama. Anda bisa mengunjungi perpustakaan online. Ada banyak perpustakaan online gratis yang bisa Anda kunjungi untuk mencari referensi yang Anda perlukan. Di antaranya perpusnas.go.id, Google Schooler atau Google Cendikia, literatur.org, waqfeya.com.

    Atau bisa pula mencari artikel dari pelbagai situs lewat Google terlebih dahulu. Jika mau beli buku, Anda tinggal menghubungi online bookstore alias para penjual buku di toko buku online. Segalanya serba mudah, tidak menyita waktu, tenaga, maupun materi. Anda bisa fokus membaca dan menulis sebagaimana yang diperintahkan guru-guru Anda. Nyaris tanpa kendala dalam mencari referensi yang Anda perlukan.

    Di era digital ini juga Anda bisa belajar dengan cepat pelbagai modal skill yang Anda perlukan yang bisa menunjang studi Anda di pesantren, seperti kemampuan bahasa inggris, bahasa arab, menulis karya ilmiah, maupun berbicara di depan umum (khitabah/muhadatsah). Jadi, semua orang di zaman yang terkoneksi dan serba digital ini punya kesempatan yang sama untuk dapat melakukannya, tentunya termasuk Anda juga yang masih studi di pesantren.

    Anda juga layaknya generasi muslim milenial lain yang punya karakter open-minded, stylish, melek teknologi, fashionable, dan modern. Kini santri tidak lagi mempunyai konotasi kuno, konservatif, dan jadoel. Selain belajar langsung di pesantren dengan kyai dan ustaz, Anda juga bisa mengikuti pengajian di ruang-ruang virtual, seperti di Youtube, Facebook, Instagram, blog, WhatsApp, dan lain-lain.

    Dengan memanfaatkan sarana teknologi digital saat ini, sejatinya Anda turut serta menjadi bagian dari masyarakat digital. Artinya, Anda tidak lagi menjadi konsumen maupun penonton, tetapi bisa menjadi kreator yang dapat membuat produk atau konten digital sesuai dengan bidang dan passion Anda.

    Oleh karena itu, skill dan pengetahuan sudah selayaknya Anda punyai dan dengan keduanya, isilah ruang-ruang media sosial tersebut. Salah satu skill yang bisa kamu gunakan adalah kemampuan menulis. Bahan tulisan bisa Anda dapatkan dari pesantren: kyai, ustaz, teman, kitab, buku, majalah, koran, dan lain-lain. Anda bisa mengolahnya sehingga menjadi tulisan yang menarik. Tulisan Anda tersebut bisa Anda kirim ke media cetak (koran, majalah, buletin, buku), maupun online (website, blog, Facebook, WhatsApp, dan lain-lain).

    Dengan begitu Anda sudah bisa memanfaatkan pengetahuan yang Anda dapat dari pesantren. Hal itu pula yang saya lakukan meskipun sedikit terlambat, karena saya melakukannya setelah lulus dari pesantren. Saya mengolah semua pengetahuan yang saya dapatkan di pesantren, yang produknya ada yang berupa buku, artikel, resensi, cerpen, dan puisi. Dan kini saya juga sedang merambah ke konten-konten digital audio-visual.

    Misalnya, ketika saya membaca kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, saya mendapatkan hal yang menarik, yaitu perihal mata lahir dan mata batin. Al-Ghazali menyebutnya Bashar dan Bashirah. Bashar adalah mata lahir yang hanya dapat melihat fisik yang dalam Bahasa Arab artinya Khalqun, sedangkan Bashirah atau mata batin mampu melihat wujud ruhani yang dalam Bahasa Arab artinya Khuluq. Kata Khuluq jamak dari kata Akhlaq (diserap ke bahasa Indonesia menjadi akhlak). Menurut Jalaluddin Rakhmat, akhlak itulah wujud ruhaniah kita. Sedang yang menentukan akhlak adalah amal-amal kita.

    Dari situ kemudian saya mengaitkannya ke dalam dunia keseharian, perihal bagaimana kita berakhlak baik dan seterusnya. Intinya, kita bisa mulai menulis dari yang kita tahu dan menarik. Kemudian kita baca buku yang terkait dengan subjek yang kita tulis untuk memperkaya tulisan kita. Saya kira itu paling sederhana.

    Jika saya bisa melakukannya, tentunya Anda pun bisa, bahkan lebih dahsyat lagi, lebih kreatif, dan inovatif lagi. Karena ini adalah zaman Anda, yakni generasi muslim milenial yang lahir di era digital.

    Saya tunggu karya Anda!

    ###

    *Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

    **Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.