Menangkap Keindahan Bromo dengan Kamera Leica Xiaomi 15T
Uzone.id - Xiaomi 15T memang bawa spesifikasi kamera lebih rendah dari versi Pro. Meski begitu, kemampuan kameranya tetap bisa diandalkan untuk menangkap momen dari berbagai sudut pandang, termasuk saat kami merekam indahnya pesona alam di Bromo, Jawa Timur.
Xiaomi 15T mengandalkan kamera utama 50 MP dengan sensor Light Fusion 800 dan sudah OIS, ditemani kamera telephoto 50 MP dengan 2x optical-zoom, kamera ultrawide-nya 12 MP, serta kamera selfie-nya yakni 32 MP.
Di Indonesia, Xiaomi 15T meluncur pada akhir September lalu. Ponsel ini dibanderol dengan harga mulai Rp6,9 jutaan untuk versi 12/256 GB dan Rp7,4 jutaan untuk model 12/512 GB.
Langsung dari Bromo, kami memotret berbagai momen menggunakan kamera Leica di Xiaomi 15T, mulai dari tarian adat, pesona alam, dan berbagai tempat wisata. Berikut beberapa hasil jepretannya:
Hasil lensa Ultrawide
Kamera ultrawide Xiaomi 15T mampu menghasilkan konsistensi warna yang baik, terlihat dari saturasi dan gradasi pepohonan yang terlihat vibrant, namun tetap terlihat natural di mata.
Detail pada tekstur awan, pepohonan serta suasana sebelum matahari terbit di area pegunungan Bromo pun masih terjaga dengan baik.
Bahkan, hasil warnanya lebih dramatis dan sinematik, yang tidak terlihat soft atau pecah di bagian pinggir frame yang biasanya sering jadi penyakit lensa sudut lebar atau ultrawide.
Garis horizon awan dan strukturnya tetap terlihat proporsional dan lurus, tanpa efek lengkung yang berlebihan di sisi-sisi foto.
Dynamic range-nya pun tergolong luas, dengan kemampuan kamera Leica, mampu seimbangkan dengan cahaya terik agar tidak terlihat over-exposed pada hasil foto ini.
Hasil 1x Zoom
Kamera utama 50 MP Xiaomi 15T menunjukkan performa terbaiknya di kondisi sebelum matahari terbit serta cahaya terang seperti di Gunung Bromo.
Dynamic range bekerja sangat baik, mampu menahan highlight pada awan yang terkena matahari sehingga tidak over-exposed.
Detail objek seperti pohon, area gunung, dan objek yang kami tangkap hasilnya pun tetap tajam, dengan akurasi tekstur yang menjadi kelebihan utamanya.
Kontras warna biru pada langit, serta warna hijau dari dedaunan dan citra pegunungan, semuanya terekam dramatis dan jelas.
Saat membidik adat ‘Bujang Ganong’ dengan fitur Leica B&W, kamera ini mampu memproses secara jelas dan tetap natural, tanpa kesan oversharpening atau detail yang dipaksakan, terlebih dengan hasil foto dengan nuansa monokrom yang terlihat sangat elegan.
Selain itu dengan Mode Low Light 1x Zoom-nya juga mampu memberika hasil yang sangat tajam dan objek yang terlihat jelas saat situasi sudah larut malam.
Hasil 2x Zoom
Kualitas perbesaran 2x pada 46mm juga memiliki kualitas gambar yang sangat layak. Kamera ini mampu menangkap detail dari jarak jauh, seperti objek patung hindu, area pegunungan saat sunrise, serta foto yang kami tangkap pun masih terlihat jelas kontras warna dan ketajaman gambarnya.
Tidak terlihat adanya penurunan kualitas atau noise yang berarti, bahkan saat kami memperbesar hasil fotonya di layar, masih terlihat secara detail.
Lalu, saat kami memotret aksi pertunjukan tarian adat budaya ‘Bujang Ganong’ dengan menggunakan mode Leica B&W, ciri khasnya justru mampu memberikan gaya siluet monokrom dengan kontras tinggi, memunculkan bentuk tubuh subjek secara tegas dan dramatis berkat pencahayaan backlight yang sangat detail.
Hasil 5x Zoom
Detail yang dihasilkan punya warna dan detail yang terlihat lebih tajam, dengan tekstur awan yang tampak realistis serta tetap tegas.
Separasi warnanya pun konsisten, terlebih saat sebelum momen matahari terbit di area Gunung Bromo.
Sementara itu, kami juga mencoba lagi dengan fitur Leica B&W pada 5x zoom ini saat pertunjukan adat budaya ‘Bujang Ganong’ yang memberikan hasil dengan detail objek yang lebih tajam, warna saturasi yang begitu pekat, dan tidak terlihat seperti cat air untuk bagian objek pohon.
Hasil 10x Zoom
Kalau hasil 10x zoom-nya, meski sudah diproses secara digital, tapi Xiaomi 15T tetap kasih gambar yang masih baik.
Detail kecil dari objek yang jauh pun masih terlihat cukup jelas, seperti ikon adat budaya, genteng rumah, pepohonan, patung hindu, serta area pegunungan Gunung Bromo.
Hasil fotonya tetap tajam, minim noise, dan warnanya tidak pudar, membuktikan kalau kamera yang dihadirkan oleh Xiaomi 15T bukan sekedar gimmick Leica saja.
Max Zoom
Bagaimana kalau hasil foto saat perbesaran dimaksimalkan?
Menurut kami, hasil beberapa foto ini terlihat pecah ketika kami zoom secara maksimal. Namun hasilnya tidak terlalu mengecewakan, berkat bantuan AI yang hadir di Xiaomi 15T untuk mengoptimalkan gambar agar tampak lebih baik lagi.
Portrait Mode
Lalu, hasil mode Portrait-nya, kami mencoba 2 opsi, yang pertama di kondisi yang maksimal pencahayaan dan yang kedua minim pencahayaan.
Untuk mode Potrait di siang hari, hasil yang diberikan menunjukkan saturasi warna dan detail objek yang baik, terlebih dengan background bokeh-nya yang begitu oke.
Kemudian untuk mode Potrait di minim pencahayaan, hasilnya juga memberikan warna dan detail yang sangat baik, meski minim pencahayaan, bokeh-nya pun tetap terlihat jelas.
Gak ketinggalan juga kami juga mencoba kamera depannya dengan mode biasa serta mode potraitnya.
Selfie
Hasil kamera selfie tanpa mode portrait, detail objek di belakang masih terlihat jelas.
Sedangkan dengan mode portrait, terlihat jelas efek blur-nya dengan separasi antara latar depan dan belakang yang rapi.
Kalau kalian kurang cocok dengan hasil foto dari pencahayaan, warna dan sebagainya, Xiaomi 15T juga memberikan aplikasi editing foto bawaan di aplikasi Gallery. Di sini, kalian bisa atur sesuai dengan keinginan yang kalian mau.
Xiaomi 15T sendiri sudah meluncur di Indonesia pada akhir September lalu. Ponsel ini dibanderol dengan harga mulai Rp6,9 jutaan untuk versi 12/256 GB dan Rp7,4 jutaan untuk model 12/512 GB.
Gimana menurut kalian? Mana hasil foto yang paling bagus?









