Menang Apple Swift Student Challenge, Dua Pelajar RI ke WWDC 2026
Uzone.id - Dua pelajar asal Indonesia berhasil mencuri perhatian di ajang Apple Swift Student Challenge 2026. Keduanya terpilih sebagai Pemenang Unggulan dalam kompetisi tahunan Apple yang menantang pelajar dari berbagai negara untuk membuat app playground orisinal menggunakan bahasa pemrograman Swift.
Tahun ini, Apple memilih 350 karya pemenang dari 37 negara dan wilayah. Dari jumlah tersebut, hanya 50 peserta yang masuk kategori Pemenang Unggulan, termasuk dua wakil dari Indonesia, yakni Francesco Emmanuel Setiawan dan Ghazali Ahlam Jazali.
Keduanya pun mendapatkan undangan resmi dari Apple untuk hadir langsung ke Worldwide Developers Conference atau WWDC 2026 di Apple Park, Cupertino, California, Amerika Serikat (AS), yang berlangsung pada 8 hingga 12 Juni 2026 mendatang.
Di sana, mereka akan mengikuti pengalaman khusus selama tiga hari, mulai dari menyaksikan sesi keynote secara langsung, belajar dari para ahli dan engineer Apple, sampai mengikuti hands-on labs sepanjang pekan WWDC.
Against the Silence, aplikasi latihan bicara yang dikemas menyenangkan
Francesco Emmanuel Setiawan menjadi salah satu wakil Indonesia yang masuk daftar Pemenang Unggulan Apple Swift Student Challenge 2026. Mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Komputer di BINUS University sekaligus lulusan Apple Developer Academy Tangerang tahun 2025 ini membuat aplikasi seru berjudul ‘Against the Silence’.
Aplikasi tersebut dibaut berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri. Francesco tumbuh sebagai sosok yang kerap merasa cemas secara sosial. Dalam banyak momen, ia memilih diam ketimbang menyampaikan pendapat, meski sebenarnya punya ide yang bisa dibagikan.
Pengalaman itu membuatnya sadar, kemampuan berbicara spontan bukan hal yang mudah bagi banyak orang. Bahkan ketika ia mewawancarai 22 profesional muda, dan 75 persen di antaranya mengaku pernah mengalami kesulitan serupa.
Masalah ini kemudian ia olah menjadi sebuah app playground berbasis game. Di Against the Silence, pemainnya diajak menghadapi demon yang menjadi simbol dari rasa takut terhadap penilaian orang lain.
Ini yang menarik. Cara mengalahkannya bukan dengan senjata, melainkan dengan suara.
Pemain harus mempertahankan opini yang tidak populer, misalnya menjelaskan kenapa nanas cocok menjadi topping pizza. Di saat yang sama, pemain juga harus menyebutkan kata-kata tertentu dan menghindari kata lain yang dilarang.
Setiap kata pengisi seperti ‘umm’ atau ‘hmm’ akan mengurangi skor. Dengan begitu, latihan bicara tidak terasa kaku, karena dibungkus seperti permainan yang punya tantangan dan progres yang bisa diukur.
“Bagi saya, dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan Swift Student Challenge bukan sekadar penghargaan biasa. Ini adalah bukti bahwa perjuangan pribadi kita dapat menjadi sarana yang membantu orang lain. Tumbuh dengan rasa cemas secara sosial, saya dulu membiarkan rasa takut akan penilaian orang lain membungkam saya,” katanya.
Ia melanjutkan, “Kini, diakui oleh Apple atas sebuah aplikasi yang membantu orang-orang menaklukkan rasa takut seperti yang dulu saya alami, adalah suatu kehormatan luar biasa dan merupakan validasi terbaik atas perjalanan hidup saya.”
Ke depannya, Francesco berencana terus menyempurnakan “Against the Silence” sebelum merilisnya secara resmi di App Store.
They Have Your Fingerprint!, ajak pengguna sadar soal privasi digital
Wakil Indonesia lainnya adalah Ghazali Ahlam Jazali. Ia adalah lulusan Ilmu Komputer dari Universitas Sanata Dharma dan juga jebolan Apple Developer Academy pada 2025.
Di Apple Swift Student Challenge 2026, ia membuat app playground berjudul ‘They Have Your Fingerprint!’, yang mengangkat isu privasi digital, khususnya teknik pelacakan online yang sering tidak disadari pengguna.
Ghazali melihat masih banyak orang merasa aman setelah menghapus cookies dari browser. Padahal, pelacakan digital tidak berhenti sampai di sana. Ada metode lain yang bekerja lebih halus di belakang layar, salah satunya canvas fingerprinting.
Teknik ini dapat mengenali pengguna dari perbedaan kecil pada cara perangkat me-render font, warna, hingga emoji. Buat sebagian orang, konsep seperti ini terdengar teknis dan sulit dibayangkan. Karena itu, Ghazali mencoba menjelaskannya lewat pengalaman interaktif yang lebih mudah dicerna.
Dalam app playground buatannya, pengguna ditempatkan dari sudut pandang seorang pelacak. Bukan untuk mengajarkan cara melacak orang, melainkan agar pengguna bisa memahami bagaimana jejak digital mereka dapat dikenali tanpa disadari.
Agar terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, informasi di dalam aplikasi disajikan melalui dokumen virtual seperti name tag, paspor, kartu penerbangan, dan tiket. Lewat pendekatan ini, isu privasi yang biasanya abstrak dibuat lebih nyata dan gampang dipahami.
“Tujuan saya adalah mengambil ancaman privasi yang tak kasat mata seperti canvas fingerprinting, dan membuatnya terlihat agar orang-orang benar-benar dapat memahaminya,” ujar Ghazali.
“Dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan Swift Student Challenge adalah kehormatan yang luar biasa karena menunjukkan bahwa Apple tidak hanya menghargai cara kita menulis code, tetapi juga masalah nyata yang coba kita selesaikan,” tambahnya.
Sama halnya, ia pun berencana untuk terus mengembangkan aplikasinya dengan target merilis They Have Your Fingerprint! di App Store.