Meizu Pamit (Lagi) dari Bisnis HP, Kini Fokus Garap AI Mobil Pintar
Uzone.id - Setelah Asus yang mundur dari industri smartphone, sekarang giliran Meizu yang tampaknya keluar lagi dari industri smartphone. Lagi, karena pada 2024 lalu, Meizu sempat mengumumkan pengunduran diri dari bisnis smartphone, sebelum akhirnya meluncurkan beberapa ponsel baru, termasuk di Indonesia pada tahun 2025.
Info saja, pada Mei tahun lalu, Meizu umumkan comeback ke pasar dalam negeri dengan menghadirkan Mblu 21 yang dibanderol dengan harga Rp1 jutaan. Di pasar global sendiri, Meizu sempat juga menghadirkan Meizu 22, smartphone flagship yang ditenagai Snapdragon 8s Gen 4.
Seolah deja vu, langkah comeback tersebut harus terhenti di tahun ini. Meizu secara resmi mengumumkan bahwa mereka tidak lagi memproduksi ponsel sendiri karena persaingan yang sangat ketat di pasar domestik China.
Selain itu, ada faktor krusial lain yang bikin Meizu angkat tangan, yakni meroketnya harga komponen memori gegara tren AI yang kian meningkat.
Komponen ini diborong perusahaan-perusahaan teknologi untuk membangun infrastrukrur AI dan pusat data mereka. Hal ini membuat pasokan untuk perangkat elektronik jadi sangat terbatas, dan harganya pun melambung tinggi.
Gara-gara kondisi ini, seperti dikutip dari LightReading, Meizu sampai harus membatalkan peluncuran ponsel terbarunya, Meizu 22 AI.
Meski mengonfirmasi akan sepenuhnya berhenti memproduksi smartphone, perusahaan di bawah naungan Geely ini akan beralih fokus mengembangkan perangkat lunak berbasis AI untuk Flyme, sistem operasi khusus mobil pintar.
Kondisi pasar memang sedang lesu
Keputusan Meizu sebenarnya sangat masuk akal jika melihat proyeksi pasar ke depan. Setelah sempat pulih di tahun 2024 dan 2025, industri elektronik global diprediksi bakal menurun lagi di tahun 2026.
Berbagai firma riset sepakat bahwa pengiriman smartphone global akan kembali merosot, mencetak penurunan tahunan pertama sejak 2023. Prediksinya pun sama-sama pesimis, seperti Omdia yang meramalkan penurunan sebesar 7 persen, Gartner memprediksi kontraksi 8,4 persen, sementara IDC memperkirakan penurunan mencapai 12,9 persen.
Di China sendiri, enurut data dari China Academy of Information and Communications Technology (CAICT), pengiriman smartphone 5G di sana pada Januari 2026 anjlok 16 persen secara year-on-year menjadi 19,9 juta unit. Total penjualan ponsel secara keseluruhan juga ikut turun 16 persen di angka 22,9 juta unit.
Pelemahan di China ini turut diperparah oleh lesunya konsumsi domestik mereka. Tahun lalu, pertumbuhan ritel di sana berada di kisaran 3 persen, tertinggal dari pertumbuhan PDB yang mencapai 5 persen. Pemerintah China bahkan sampai harus memangkas target pertumbuhan PDB 2026 mereka menjadi 4,5 hingga 5 persen.
Zaker Li, Analis Utama dari Omdia, menyebutkan bahwa kenaikan biaya memori dan kondisi ekonomi makro ini akan sangat memukul produsen kelas menengah ke bawah.
"Perangkat dengan harga di bawah USD 100 (sekitar Rp1,6 jutaan) diproyeksikan akan anjlok hingga 31 persen pada 2026. Ini mencerminkan tekanan margin keuntungan yang sangat berat bagi para vendor," jelasnya.
Dampak nyatanya pun sudah mulai terlihat di pasaran. Laporan dari portal bisnis 36kr mencatat bahwa smartphone-smartphone baru yang dirilis pada bulan Januari kemarin rata-rata sudah mengalami kenaikan harga antara 200 hingga 1.000 yuan (sekitar Rp490 ribu hingga Rp2,4 jutaan) jika dibandingkan dengan model generasi sebelumnya.