Digilife

Marak Tren Edit Foto Pakai AI, Warganet Perlu Tahu Batasan Ini

Vina Insyani
Marak Tren Edit Foto Pakai AI, Warganet Perlu Tahu Batasan Ini

Uzone.id — Tren edit foto menggunakan kecerdasan buatan (AI) sedang ramai di media sosial. Mulai dari foto ala-ala miniatur, foto bareng idola, foto ala polaroid, animasi, foto bersama keluarga tercinta hingga terbaru foto menggunakan jas hitam di lift.

Di satu sisi, tren ini menjadi bukti kemajuan teknologi yang memberikan pengalaman baru bagi pengguna, apalagi akses dan cara yang instan membuat ini menjadi tren yang cepat menyebar luas.

“Teknologi yang sebelumnya hanya tersedia bagi kalangan creator profesional kini bisa dinikmati masyarakat umum dengan sekali unggah foto,” kata Pratama Persadha, pengamat siber dari CISSReC.

Tapi, di balik euforia ini. Muncul pro dan kontra di kalangan masyarakat. Ada yang mendukung dan menggunakan AI ini untuk seru-seruan, ada juga yang merasa was-was karena aspek privasi dan juga etika.




Salah satu yang paling nyaring bersuara adalah kelompok yang khawatir foto pribadi yang diunggah ke platform AI menjadi celah penyalahgunaan data, baik oleh pengembang aplikasi maupun oleh pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab.

“Kekhawatiran lain juga muncul terkait potensi pencampuradukan batas antara realitas dan manipulasi digital. Misalnya, hasil edit AI yang sangat realistis bisa digunakan dalam konteks menyesatkan atau bahkan membentuk narasi palsu,” tambah Pratama.

Contoh nyatanya adalah para pemain Timnas Bola Indonesia yang speak up dan geram karena foto-foto mereka diedit secara tidak wajar dan condong ke tindakan pelecehan. 

Oleh karena itu, Pratama menjelaskan harus ada batasan-batasan dalam penggunaan fitur edit AI. Baik itu untuk keamanan data mereka maupun dalam hal kode etik.

“Secara etis, pengguna sebaiknya menyadari bahwa apa yang mereka unggah bisa menjadi jejak digital permanen. Jangan mengunggah foto yang terlalu sensitif, termasuk yang menampilkan dokumen resmi, anak di bawah umur, atau pose yang rentan disalahgunakan,” tambahnya.




Saat mengunggah foto pribadi atau foto wajah ke platform chatbot AI, ada resiko nyata yang akan dihadapi.

“Foto wajah adalah bentuk data biometrik yang unik, dan jika jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab, data ini bisa digunakan untuk berbagai bentuk kejahatan siber,” ujar Pratama.

Kejahatan yang ramai muncul adalah pembuatan deepfake yang merusak reputasi, pemalsuan identitas untuk aktivitas kriminal, hingga pengumpulan data biometrik massal untuk dijual di pasar gelap digital. 

“Risiko lain datang dari kebijakan privasi aplikasi yang seringkali samar, di mana foto yang diunggah bisa disimpan untuk melatih model AI lebih lanjut tanpa persetujuan jelas dari pengguna. Selain itu, ada pula ancaman teknis berupa aplikasi yang menyisipkan malware atau meminta izin berlebihan seperti akses kamera, lokasi, dan kontak, yang semuanya berpotensi mengancam keamanan digital pengguna,” tuturnya.

Oleh karena itu, masyarakat harus paham bahwa keberadaan AI ini cukup untuk kepentingan hiburan dan kreativitas saja dan bukan untuk menciptakan konten yang menyesatkan atau merugikan pihak lain. 

“Regulasi pun masih beradaptasi menghadapi perkembangan teknologi ini, sehingga batasan moral dan kesadaran pribadi menjadi pertahanan pertama,” jelas Pratama.

Melihat tren AI yang semakin  masif ini, Pratama menjelaskan bahwa tren edit foto AI adalah cermin dari dua sisi mata uang. 

Satu sisi, Ia menawarkan kesenangan dan peluang kreatif yang luas, tapi sisi lain membawa ancaman privasi dan keamanan yang tidak bisa dianggap remeh. 

Ia menuturkan, “Kuncinya ada pada literasi digital dan kewaspadaan pengguna. Jika diperlakukan sebagai sarana hiburan dengan tetap menjaga batasan penggunaan yang aman, AI dapat menjadi bagian menyenangkan dari interaksi digital kita.”