Malware Infostealer Makin Horor, 1 Juta Rekening Bank Dikuras Habis
Uzone.id — Ancaman siber di
sektor finansial makin berkembang dan semakin mengkhawatirkan. Laporan terbaru
dari Kaspersky mengungkap bahwa jutaan akun perbankan online diretas sepanjang
tahun lalu, terutama gara-gara malware jenis infostealer.
Ini menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber kini tidak lagi terlalu bergantung pada malware perbankan tradisional di PC tapi beralih ke metode yang lebih “halus” seperti pencurian kredensial, rekayasa sosial, hingga memanfaatkan pasar dark web.
Di tahun 2025 kemarin, data Kaspersky menunjukkan kalau
phishing berbasis e-commerce mencapai 48,5 persen, naik signifikan dibanding
tahun sebelumnya. Sementara itu, phishing perbankan justru menurun menjadi 26,1
persen, dan sistem pembayaran berada di angka 25,5 persen.
Meski begitu, serangan perbankan seluler terus meningkat 1,5
kali lipat pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Ini sejalan dengan
kebiasaan pengguna yang kini lebih sering mengakses layanan keuangan lewat
smartphone.
Di balik serangan tersebut, malware Infostealer masih jadi
“senjata utama” dalam kejahatan siber finansial. Malware ini mampu mencuri
berbagai data sensitif, mulai dari username, password, cookie, hingga data
kartu dan aset kripto.
Menurut Kaspersky Digital Footprint Intelligence (DFI), pada
tahun 2025 lebih dari satu juta akun perbankan online yang dilayani oleh 100
bank terbesar di dunia menjadi korban infostealer kredensial untuk akun-akun
ini dibagikan secara bebas di dark web.
Negara-negara yang menjadi korban dengan rata-rata akun yang
diretas per bank tertinggi adalah India, Spanyol, dan Brasil.
Tak berhenti di situ, data yang dicuri kemudian
diperjualbelikan di dark web. Bahkan, menurut Kaspersky Digital Footprint
Intelligence, kredensial dari lebih satu juta akun perbankan dibagikan secara
bebas di sana.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ternyata sebanyak 74 persen kartu pembayaran yang bocor gara-gara malware ini masih valid hingga Maret 2026. Artinya, data lama pun masih bisa dimanfaatkan pelaku untuk melakukan penipuan.
“Dark web telah menjadi pusat utama kejahatan siber
finansial. Kredensial dan kartu perbankan yang dicuri oleh infostealer
dikumpulkan, dikemas ulang, dan dijual di sana,” kata Polina Tretyak, analis
Kaspersky Digital Footprint Intelligence.
Ia juga menambahkan bahwa ekosistem ini membuat serangan
semakin mudah dilakukan, bahkan oleh pelaku dengan pengalaman minim.
“Hal ini menciptakan ekosistem berkelanjutan di mana
pencurian data dan operasi penipuan saling menguatkan satu sama lain, membuat
serangan dapat diskalakan dan mudah dilakukan oleh penipu dengan pengalaman
minimal,” lanjutnya.
Melihat tren yang semakin kompleks, pengguna dan bisnis
perlu lebih waspada. Kaspersky pun membagikan beberapa langkah sederhana yang
bisa dilakukan.
Kalian bisa mengaktifkan autentikasi multifaktor dan gunakan
password yang kuat serta unik, jangan lupa untuk menghindari klik tautan
mencurigakan dan selalu cek ulang alamat website, dan tetap gunakan solusi
keamanan terpercaya untuk mendeteksi phishing.
Sementara untuk akun bisnis/perusahaan, lakukan audit sistem
dan perbaiki celah keamanan, gunakan platform keamanan terintegrasi untuk
deteksi dan respons cepat dan pantau aktivitas di dark web untuk
mendeteksi potensi ancaman lebih dini.