Govtech

Mahasiswa UNSIQ Wonosobo Didorong Cerdas di Media Sosial

Susetyo Prihadi
Mahasiswa UNSIQ Wonosobo Didorong Cerdas di Media Sosial

Uzone.id - Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Wonosobo, bersama Uzone.id dan Telkomsel menggelar Seminar Nasional Literasi Digital di Era Kecerdasan Artifisial pada Kamis (20/11), menghadirkan sejumlah pembicara dari ranah komunikasi digital dan edukasi publik.

Acara ini dirancang untuk membekali mahasiswa komunikasi dan politik UNSIQ dengan pemahaman komprehensif mengenai tantangan dan peluang literasi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial.


Acara ini sendiri buka oleh Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat.  Dalam sambutannya, dia mengapresiasi acara tersebut apalagi kecerdasan artifisial yang dulu hanya kita lihat dalam film, hari ini sudah menemani kehidupan sehari-hari: dari mesin pencarian, rekomendasi konten, sampai alat bantu akademik dan kreatif.

“kita juga berhadapan dengan tantangan baru, seperti hoaks yang menyebar lebih cepat daripada klarifikasinya, Penipuan digital berbasis AI, deepfake, dan social engineering, manipulasi algoritmik yang mempengaruhi opini dan perilaku, rendahnya kesadaran tentang privasi, jejak digital, dan keamanan data, hingga ketimpangan pemahaman literasi digital antara daerah, usia, dan lapisan sosial,” ujarnya.





Afif juga menambahkan, mahasiswa adalah generasi yang paling terhubung dengan teknologi, yang besar kemungkinan untuk menjadi paling terdampak, atau juga paling bisa memberi dampak. Dengan kehadiran seminar ini, diharapkan mahasiswa, sebagai kaum terdidik, harus menjadi garda terdepan untuk melawan ancaman ini.

Di sisi lain, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Wonosobo, Khristiana Dhewi, mengatakan bahwa manusia yang unggul bukanlah manusia yang paling sering menggunakan teknologi, melainkan mampu memanfaatkan teknologi dengan kritis, etis dan bertanggung jawab.

Ini sejalan dengan visi dan misi dari kampus UNSIQ, seperti yang disampaikan oleh Wakil Dekan Fakultas Komunikasi dan Sosial Politik Universitas Sains Al-Qur’an Jawa Tengah Wonosobo, Irwan Abdu Nugraha, S.I.P M.Si, yang juga menyambut baik kehadiran seminar nasional ini.



“Saya berharap mahasiswa-mahasiwa di UNSIQ ini menjadi agen perubahan untuk lebih kritis dalam menjadi agen literasi digital, khususnya di Wonosobo dan Indonesia pada akhirnya,” ujar Irwan.

Personal Branding: Nyata vs Maya

Sementara itu, Wildan A. Nugraha, Supervisor Corporate Communications Telkomsel Regional Jawa Tengah & DIY, mengajak mahasiswa untuk melihat sisi peluang dari dunia digital melalui Personal Branding. Ia mendefinisikan personal branding sebagai "kombinasi unik dari keterampilan, pengalaman, dan kepribadian yang ingin kamu tunjukkan kepada dunia".





Wildan mengingatkan bahwa penetrasi seluler di Indonesia sangat tinggi, bahkan jumlah "koneksi seluler melebihi populasi manusia". Dengan fakta bahwa sepertiga hidup manusia habis di internet, konsistensi menjadi kunci utama.

"Rahasia dari personal branding yang sukses adalah konsistensi," ujar Wildan. Ia menekankan pentingnya keselarasan antara citra di media sosial dan kehidupan nyata. "Pastikan personal branding Anda di kehidupan nyata dan media sosial itu cocok," pesannya kepada para peserta.

Dalam paparan yang lain, Susetyo Prihadi, Vice Editor in Chief Uzone.id menyoroti pergeseran drastis pola konsumsi informasi masyarakat. Ia memaparkan data bahwa saat ini "68 persen masyarakat Indonesia mengakses berita dari Medsos". Fenomena ini diperkuat dengan perilaku Generasi Z, di mana "74% menggunakan TikTok sebagai mesin pencari"




Dia memperingatkan mahasiswa tentang bahaya hilangnya peran redaksi sebagai penyaring informasi "Di era digital dan medsos, semua orang bisa memublikasikan informasi. Tidak ada 'gerbang' atau filter redaksional," ungkap Susetyo. Hal ini menyebabkan media sosial menjadi "sumber informasi dengan hoaks terbanyak," mengalahkan grup percakapan dan situs berita resmi.

Menutup seminar, sejumlah narasumber sepakat bahwa literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga etika dan verifikasi. Susetyo menegaskan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, prinsip dasar mencari kebenaran tidak boleh luntur.