Lesunya Investasi Startup RI, Efek Maraknya Kasus?
Uzone.id — Startup Indonesia
saat ini mengalami masa-masa yang bisa dibilang suram. Selain karena ekonomi
yang memang dalam kondisi yang menantang, beberapa startup lokal juga mengalami
kasus-kasus yang bikin investor mulai berpikir ulang untuk investasi di Indonesia.
Gundy Cahyadi, Research Director Prasasti melihat bahwa
investasi ke Indonesia semakin surut pasca Covid-19 karena adanya konsolidasi. Para investor mulai melihat keuntungan yang mereka dapat tidak sebanding
dengan apa yang mereka harapkan.
“Makanya itu kita melihat di dua tahun terakhir, terjadi adanya, boleh dibilang tech winter atau apalah itu,” katanya dalam acara Peluncuran Riset Ekonomi Digital Prasasti, Selasa, (12/08).
Di saat yang bersamaan, startup Indonesia yang tadinya
moncer kini banyak tersandung kasus–bahkan sampai berhenti beroperasi. Yang
terbaru adalah kasus eFishery yang menyebabkan startup unicorn tersebut berada
di ujung tanduk.
Gundy melihat bahwa kasus-kasus ini seakan menjadi ‘citra’
startup ekosistem di Indonesia.
“Memang di saat bersamaan, kita juga tahu di Indonesia ada beberapa startup yang desas-desusnya memang gak baik ya. Itu juga menjadi citra terhadap startup ekosistem di Indonesia. Walaupun kita juga mesti ingat bahwa ini merupakan isolated cases,” kata Gundy.
Meski terlihat lesu dan ‘babak belur’, Gundy menjelaskan
kalau kondisi-kondisi di atas tidak serta merta membuat investor langsung kabur
dari Indonesia. Ini justru menjadikan investor lebih hati-hati lagi dalam
berinvestasi.
“Funding-funding tetap ada ke beberapa startup yang sebenarnya dibilang cukup baik, yang tata kelola atau governance-nya masih ada, menurut kami itu yang penting ke depan bahwa governance ditingkatkan,” ujarnya.
Ia melanjutkan, “Karena mungkin masuk awalnya terlalu
banyak, mereka sekarang konsolidasi, sekarang kita lebih normal. Maybe this
is a good thing after all. Karena investor juga lebih hati-hati, masuk
uangnya lebih realistis, dia punya ekspektasi profit,lebih hati-hati juga,
lebih selektif.”
Sepinya investasi ke startup-startup lokal ini memang
terlihat buruk di permukaan, namun Gundy menyebut bahwa ini justru menjadi hal
yang positif untuk ekosistem secara luas.
“On the surface memang kelihatannya buruk sekali,
mungkin kalau kita deep dive lebih dalam, this could be a good thing
for Indonesia ecosystem as a whole,” tambahnya.
Terlepas dari itu, saat ini tingkat potensi Indonesia untuk
di sektor digital economy masih sangat tinggi. Laporan dari Prasasti Center for
Policy Studies (Prasasti) menyebut bahwa sektor ekonomi digital berpotensi
mempercepat indonesia dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen,
termasuk membuka lapangan kerja.