Digilife

Lagi-lagi karena AI, Induk Platform Jira PHK 10 Persen Karyawan

Vina Insyani
Lagi-lagi karena AI, Induk Platform Jira PHK 10 Persen Karyawan

Uzone.id — Atlassian, perusahaan software yang juga induk dari platform Jira mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 10 persen dari total karyawannya atau sekitar 1.600 orang.

Pengumuman ini disampaikan langsung oleh sang CEO, Mike Cannon-Brookes dalam situs resmi Atlassian.

“Hari ini saya ingin menyampaikan kabar penting. Saya mengambil keputusan yang sangat sulit untuk mengurangi jumlah anggota tim kami sekitar 10 persen (atau sekitar 1.600 karyawan),” katanya.

Sebagian besar karyawan yang terdampak berasal dari Amerika Utara (40 persen), diikuti Australia (30 persen), dan India (16 persen). Sementara itu, PHK dalam jumlah lebih kecil juga akan terjadi di wilayah Eropa, Timur Tengah, Afrika, Jepang, dan Filipina.




Mike menambahkan bahwa semua karyawan Atlassian akan menerima email baik itu yang terkena dampak atau tidak. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari strategi perusahaan yang ingin memperkuat fokus mereka pada AI dan bisnis enterprise.

Tapi, Mike menegaskan bahwa keputusan ini bukan berarti AI berhasil menggantikan manusia, khususnya di perusahaan mereka.

“Pendekatan kami bukan ‘AI menggantikan manusia’. Tapi tidak bisa dipungkiri, AI mengubah kebutuhan skill dan jumlah peran di beberapa area,” ujarnya dalam memo internal ke karyawan tersebut.

Langkah Atlassian ini mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi, di mana perusahaan mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan AI yang pesat.




Beberapa investor mulai khawatir bahwa AI bisa mengganggu model bisnis software tradisional. 

Kekhawatiran ini tentu bukan tanpa alasan, apalagi Atlassian sendiri menaungi platform Jira yang cukup populer di kalangan untuk developer software sebagai alat manajemen proyek dan pelacakan isu (issue tracking).

Namun di sisi lain, Analis dari D.A. Davidson, Gil Luria, menyebut perusahaan software justru punya peluang untuk jadi lebih efisien dengan memanfaatkan AI, terutama dalam pengembangan produk.

“Dengan adopsi AI, perusahaan bisa mengurangi kebutuhan sumber daya sekaligus meningkatkan profit,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari Reuters.