Gadget

Krisis RAM Bikin Harga Gadget Ugal-ugalan, Semuanya Gegara AI Bubble

Muhammad Faisal Hadi Putra
Krisis RAM Bikin Harga Gadget Ugal-ugalan, Semuanya Gegara AI Bubble

Uzone.id - Industri teknologi sedang menghadapi krisis RAM, membuat harga komponen ini meroket tak terkira. Gara-garanya? Siapa lagi kalau bukan karena tren AI, atau bisa disebut sebagai fenomena AI Bubble yang mengacu pada pertumbuhan pesat permintaan dan penggunaan AI. 

Singkatnya, gegara ini, industri sedang mengalami pasokan DRAM (dynamic random access memory) yang langka. Bukan cuma langka, harganya juga digoreng habis-habisan karena semua kapasitas produksi tersedot ke proyek data center AI yang berani bayar lebih mahal. 

Bayangkan, saking tingginya permintaan dan harga yang ditawarkan oleh perusahaan AI, membuat Micron nggak lagi fokus di pasar consumer, dan Samsung Semiconductor jadi ‘pilih kasih’ ke saudaranya sendiri, Samsung Electronics. 


Info saja, saat ini ada tiga pemain utama yang bisa dibilang ‘mengendalikan’ pasar RAM, yakni SK Hynix, Samsung Semiconductor, dan Micron. Ketiga perusahaan ini memproduksi sebagian besar chip DRAM yang digunakan di dunia. 


Micron, lewat rilis resminya, memutuskan untuk angkat kaki dari pasar consumer. Mereka bakal menyetop pengiriman produk memori dengan merek Crucial setelah Februari 2026. Alasannya klise tapi jujur, yakni fokus melayani klien enterprise dan data center yang lebih cuan

“Pertumbuhan pusat data yang didorong oleh AI telah menyebabkan lonjakan permintaan akan memori dan penyimpanan. Micron telah mengambil keputusan sulit untuk keluar dari bisnis konsumen Crucial guna meningkatkan pasokan dan dukungan bagi pelanggan strategis kami yang lebih besar di segmen yang tumbuh lebih cepat,” jelas Sumit Sadana, EVP & Chief Business Officer di Micron, dikutip dari situs resmi Micron.

Keputusan ini otomatis menjadikan Samsung dan SK Hynix sebagai dua perusahaan besar terakhir yang memasok DRAM untuk konsumen. Tapi, situasi makin kacau, khususnya di lingkup grup Samsung. 


Gegara tren AI yang makin melonjak, Samsung Semiconductor sampai menolak memberikan prioritas stok ke saudaranya sendiri, Samsung Electronics yang memproduksi smartphone, tablet, laptop, smartwatch, dan lainnya. 

Dikutip dari PC World, saat divisi Mobile Experience Samsung Electronics mau minta kontrak suplai jangka panjang untuk mengamankan produksi ponselnya di tahun depan, tapi justru ditolak mentah-mentah oleh saudaranya sendiri. 

Alasannya, kapasitas produksi lebih untung kalau dijual ke perusahaan AI. Akibatnya, divisi HP Samsung harus negosiasi harga per kuartal dengan tarif ‘chipflation’ yang jauh lebih mahal, tanpa ada kesepakatan pasokan jangka panjang. 


RAM langka, harga gadget bakal ugal-ugalan?


Dampak kenaikan komponen ini bukan cuma buat kalian yang hobi rakit PC gaming saja, tapi juga gadget lainnya, seperti laptop, smartphone, tablet, TV, konsol game, semua perangkat yang butuh DRAM. 

Hal ini sudah diramalkan oleh IDC. Dilaporkan sebelumnya, Research Director IDC, Anthony Scarsella mengatakan, biaya produksi yang bakal membengkak gegara harga memori yang naik, membuat vendor smartphone dalam posisi yang sulit. Menurutnya, vendor harus atur strategi lagi untuk menyelamatkan pangsa pasar dan keuntungan mereka. 

Pilihannya cuma dua, yakni terpaksa menaikkan harga jual ke konsumen, namun berdampak buruk untuk segmen entry-level dan mid-range. Sebab, kelas harga terjangkau yang margin keuntungannya tipis, bakal terkena dampak paling signifikan karena segmen ini sangat sensitif terhadap perubahan harga sedikit saja.

Atau, mengubah fokus jualan ke model-model flagship yang harganya lebih mahal. Kenapa harus flagship? Karena margin keuntungan di segmen ini biasanya lebih besar, jadi bisa dipakai buat ‘subsidi silang’ untuk menambal kenaikan biaya komponen tadi.

Kenaikan ini pun berdampak pada naiknya harga jual rata-rata smartphone di tahun depan menjadi USD465 atau sekitar Rp7,4 jutaan. 

Bukan cuma itu, efek dominonya pun sudah mulai terasa. Raspberry Pi, komputer mini yang terkenal murah meriah dan ramah kantong, baru-baru ini terpaksa menaikkan harga. Mereka bilang kalau biaya komponen memori adalah penyebab utamanya.

Pemain besar seperti Lenovo juga tidak mau ambil risiko. Kabarnya, perusahaan sekarang sibuk menimbun atau stockpiling stok memori sebagai antisipasi sebelum harganya makin melonjak tinggi. Bahkan, Lenovo juga telah memperingatkan pelanggannya bahwa penawaran penjualan dan pedoman harga saat ini tidak lagi berlaku mulai 1 Januari 2026.

Menurut laporan TrendForce, Dell bahkan berencana menaikkan harga PC sekitar 15-20 persen mulai akhir tahun depan. Pun demikian dengan HP, CEO-nya, Enrique Lores menyatakan bahwa bisa saja kenaikan harga signifikan untuk PC akan terjadi pada paruh kedua tahun depan, bila situasi DRAM tak kunjung membaik.


Tetap suram sampai 2027?

Ilustrasi foto: Nsys Group/Unsplash
Ilustrasi foto: Nsys Group/Unsplash

Jujur saja, sulit untuk memprediksi kapan kelangkaan komponen dan kenaikan harga ini akan berakhir. Karena menurut beberapa ahli, fenomena ini baru permulaan saja. 

Dikutip dari TechPowerUp, GM dari TeamGroup, Gerry Chen menyatakan bahwa harga kontrak Desember untuk DRAM naik 80 persen hingga 100 persen. Ia juga percaya kalau situasinya mungkin akan memburuk pada awal tahun 2026, setelah stok yang dibeli dengan harga wajar saat ini sudah habis terjual.

Dengan asumsi fenomena AI Bubble terus berlanjut, serta permintaan tinggi untuk DRAM dan NAND berkinerja tinggi terus berlanjut, pasokan diprediksi bakal tetap seret dan harga akan terus merangkak naik setidaknya sampai tahun 2027 mendatang. 

Kecuali, pasar AI tiba-tiba kolaps yang membuat pembangunan data center AI kemungkinan akan terhenti secara tiba-tiba. Dikutip dari Windows Central, hal tersebut bisa saja membuat kelebihan pasokan DRAM dan NAND, yang pada akhirnya membuat harganya kembali wajar.