Startup

Korbankan Karyawan, Startup ClickUp Lebih Pilih Rekrut Ribuan Agen AI

Vina Insyani
Korbankan Karyawan, Startup ClickUp Lebih Pilih Rekrut Ribuan Agen AI

Uzone.id — AI kembali memakan korban, kali ini giliran startup ClickUp yang resmi memangkas 22 persen karyawan mereka karena lebih memilih untuk ‘merekrut’ ribuan agen AI untuk operasional perusahaan mereka.

Dalam keterangannya, CEO startup yang menawarkan layanan produktivitas ini mengatakan kalau pemangkasan karyawan ini bukan sekedar untuk menghemat biaya perusahaan.

“Ini bukan soal penghematan biaya. Sebagian besar penghematan dari perubahan ini akan langsung dinikmati oleh karyawan yang bertahan,” kata Zed Evans dikutip dari Business Insider.

Tak sampai disitu, Evans juga mengiming-imingi kalau lewat pemangkasan ini, gaji karyawan akan langsung naik, bahkan hingga jutaan dolar.



“Kami akan menyiapkan tingkatan gaji hingga jutaan dolar,” tambahnya.

Gaji ini akan diberikan bagi karyawan yang mampu menciptakan dampak luar biasa dengan menggunakan ribuan AI yang baru saja mereka ‘rekrut’. Agen-agen AI ini hadir di perusahaan untuk memusatkan alur kerja dan komunikasi perusahaan.

Andy Cabasso, seorang manajer operasi pertumbuhan di ClickUp baru-baru ini juga membocorkan kalau perusahaan mereka memiliki kebijakan baru agar pengguna lebih banyak menggunakan agen AI dan berbagi workflow dengan AI tersebut.

Bahkan, Cabasso sendiri mengatakan bahwa ia saat ini sudah mulai ‘berkolaborasi’ dengan AI dan mengawasi 37 agen AI.




Total ada sekitar 3.000 agen AI internal yang diatur untuk menangani pekerjaan kompleks di seluruh perusahaan. Alih-alih mengerjakan tugasnya secara manual, para karyawan punya tugas baru yaitu membimbing agen-agen tersebut untuk mengerjakan setiap tugas yang ada.

Perekrutan agen AI ini semakin menunjukkan kalau tren AI semakin bergeser, dimana saat ini bukan sekadar alat yang membantu tapi menjadi bagian integral dari perusahaan itu sendiri.

Peran manusia juga bergeser dari “melakukan tugas” menjadi “mengelola AI yang melakukan tugas tersebut.” Hal itu dapat membantu tim bekerja lebih cepat. Namun, hal itu juga dapat membuat pekerjaan menjadi lebih menegangkan, karena karyawan kini harus memahami tugas, alat AI, risikonya, dan standar kualitas akhir.