Digilife

Konten AI Asal-asalan Malah Laris di YouTube, Cuan Rp1,9 Triliun

Aisyah Banowati
Konten AI Asal-asalan Malah Laris di YouTube, Cuan Rp1,9 Triliun

Uzone.id – Sebuah laporan dari perusahaan edit video, Kapwing, menemukan bahwa konten video AI slop tengah mendominasi YouTube. Survei tersebut melibatkan 100 channel YouTube terpopuler dari berbagai negara. 

Dari hasil survey tersebut, ditemukan ada 278 channel YouTube yang isi kontennya hanya berupa AI slop.

Saluran-saluran tersebut diperkirakan telah mengumpulkan lebih dari 63 miliar view dan 221 juta subscriber, serta menghasilkan sekitar USD 117 juta atau sekitar Rp1,9 triliun per tahun.






Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa 21 persen dari video yang ditampilkan YouTube kepada pengguna baru mereka merupakan konten AI slop.

Istilah AI slop sendiri merujuk pada konten video berkualitas rendah yang dibuat menggunakan AI. Konten-konten AI slop seperti ini ternyata memang banyak dibuat dengan tujuan untuk mengejar view dan pendapatan dari iklan.

Analisis dari Guardian menyebutkan bahwa satu dari sepuluh saluran YouTube yang paling cepat berkembang adalah saluran YouTube yang mengunggah konten AI slop.





Bos Microsoft ikut menyinggung AI slop, apa maksudnya?

Perusahaan penerbit Merriam-Webster memilih ‘slop’ atau ‘sampah’ sebagai Word of the Year 2025. Beberapa minggu setelahnya, CEO Microsoft Satya Nadella ikut menyebut istilah ‘slop’ dalam unggahan blog pribadinya.

Namun, unggahan tersebut bukan menyinggung soal konten video AI slop yang tengah marak di YouTube. Lewat blog tersebut, Satya meminta publik dan industri berhenti memandang AI sebagai ‘slop’ atau ‘sampah’.

Alih-alih menganggap AI sebagai pengganti manusia, Satya Nadella berharap publik dan industri mulai menganggapnya sebagai alat bantu produktivitas bagi manusia.

“Sebuah konsep baru yang mengembangkan gagasan “sepeda bagi pikiran”, di mana kita selalu memandang AI sebagai penopang bagi potensi manusia, bukan sebagai pengganti. Yang terpenting bukanlah seberapa besar kekuatan suatu model, melainkan bagaimana manusia memilih untuk memanfaatkannya demi mencapai tujuan mereka,” tulis Satya Nadella.

“Kita perlu melampaui perdebatan antara hasil yang asal-asalan versus kecanggihan, dan mengembangkan keseimbangan baru dalam 'teori tentang pikiran' yang memperhitungkan bahwa manusia kini dibekali alat-alat penguat kognitif baru ketika kita saling berinteraksi.”

Baca lebih lengkap unggahan Satya Nadella di sini.