Automotive

Kok Bisa Mobil MBG Tabrak Siswa SD? Ini Kata Pakar Safety Driving

Brian Priambudi
Kok Bisa Mobil MBG Tabrak Siswa SD? Ini Kata Pakar Safety Driving

Uzone.id - Baru-baru ini kejadian mengerikan mobil pengangkut Makan Bergizi Gratis (MBG) menabrak puluhan siswa di SDN 01 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (11/12). Pakar safety driving pun memberikan dugaan dan masukan agar kejadian serupa tak berulang kembali.

Kapolsek Cilincing, Kompol Bobi Subasri mengatakan pemicu utama kecelakaan diduga kuat adalah human error dari pengemudi berinisial AI berumur 34 tahun, warga Kalibaru.

Dijelaskan saat mobil menanjak, sopir merasa sistem pengereman tidak bekerja optimal atau kurang pakem. Panik karena takut mobil akan merosot mundur, sopir berniat menginjak rem lebih dalam.

Naasnya, sopir bukan menginjak rem, melainkan pedal gas yang membuat mobil menjadi melaju lebih kencang.

"Dia mau ngerem, katanya remnya enggak pakem. karena takut nabrak (mundur), dia injak yang dalam. Nah, kirain itu rem, ternyata gas," jelas Kompol Bobi dikutip dari Detik.




Kabar lain juga mengatakan, kalau yang membawa mobil MBG di insiden tersebut merupakan sopir pengganti.

Jusri Pulubuhu selaku Founder dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC) mengatakan jika benar faktor human error dan sopir pengganti, maka pengemudi tidak terbiasa menggunakan mobil tersebut.

"Kalau dia sudah terbiasa secara motorik, kakinya sudah tau di mana rem, gas, dan lain-lain," ujar Jusri saat dihubungi Uzone.id, Kamis (11/12).

"Kontributor faktornya adalah kendaraan. Yang mungkin, kendaraan ini kondisi remnya tidak benar," lanjut Jusri.





Jusri hal ini bisa menjadi pembelajaran, karena seharusnya institusi yang menangani proyek MBG ini membuat kebijakan standar pengoperasian kendaraan, termasuk sertifikasi pengemudi.

Menurutnya MBG merupakan proyek besar skala nasional, sehingga dalam mobilisasi transportasi makanan harus benar-benar sesuai standar operasi prosedur (SOP) yang benar dan tepat.

"Pengemudi menceritakan mau nginjak rem malah nginjak gas, berarti dia enggak familiar dong? Kalau dia enggak familiar dan dia sopir pengganti ada standarisasinya enggak? Bisa jadi dia baru bisa nyetir beberapa hari dan belum terbiasa," jelasnya.

"Kalau sebuah program sebesar ini, itu seluruh aspek operasional harus ada namanya standarisasi, SOP. bagaimana SOP mendistribusikan dengan kendaraan darat, bagaimana kualitas tonasenya, muatan volume, kan harusnya ada standarnya," lanjutnya.




Menurut Jusri jika dalam hal distribusi MBG dilakukan secara serampangan, maka otomatis insiden-insiden tersebut bisa terjadi dan berpotensi untuk terjadi lagi.

"Ini tidak bisa diterima. Ini menyangkut nyawa, menyangkut keselamatan," tegasnya.

Sebelumnya Uzone.id beritakan, insiden ini mengakibatkan total 21 korbal luka-luka yang menjalani perawatan intensif. Lima di antaranya dirawat di RSUD Koja, sementara enam korban lainnya di RSUD Cilincing.

Sepuluh korban lainnya, sejauh ini masih dikonfirmasi oleh pemerintah daerah setempat.

Saat ini, unit GranMax sudah diamankan sebagai barang bukti, sementara sopir AI telah ditahan kepolisian untuk pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan apakah ada unsur kelalaian berat dalam pengoperasian kendaraan tersebut.