Ketika Investor Startup Lebih Percaya ke Vietnam dibanding Indonesia
Uzone.id — Investor global saat ini banyak membidik startup AI. Sayangnya, ini menjadi kabar yang cukup mengecewakan untuk Indonesia.
Pasalnya, banyak investor yang lebih memilih dan lebih optimis untuk berinvestasi ke startup AI di Singapura dan Vietnam, alih-alih di Indonesia. Hal ini terungkap dalam Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, Bain & Company yang diluncurkan pada Kamis, (13/11).
“Pertama, fokus para investor jauh lebih besar untuk startup AI, baik sebagai fitur maupun produk inti,” kata Senior Partner Bain & Company Aadarsh Baijal dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (13/11).
Selain itu, dalam laporan tersebut, seluruh investor (100 persen) memperkirakan pendanaan pada startup khususnya AI akan terus meningkat di Singapura dalam kurun waktu 2025 hingga 2029 ke depan. Disusul dengan Vietnam (79 persen) dan Malaysia (64 persen).
“Ekspektasi para investor, mereka kemungkinan besar akan menemukan startup seperti itu yang berbasis di Singapura, mengingat rekam jejak dan cara negara ini dalam membangun ekosistem,” tambah Adash.
Ia melanjutkan, “Jadi, sebagian alasannya adalah karena fokus saat ini adalah membangun startup AI yang berpotensi memiliki basis target global dengan AI sehingga para investor ini memperkirakan sebagian besar startup jenis ini akan banyak muncul di Singapura.
Sementara itu, Indonesia berada di posisi keempat dengan kepercayaan dari investor hanya sebanyak 50 persen. Meski tidak dirinci lebih jauh mengapa kepercayaannya bisa lebih rendah, namun hal ini terlihat dari jumlah startup AI dan kesiapan Indonesia mengenai AI.
Meski saat ini Indonesia jadi pengguna teratas dalam beberapa platform AI, namun ‘produksi’-nya sendiri masih jauh lebih kecil dibanding negara lain. Laporan ini mencatat bahwa Indonesia hanya memiliki 45 startup yang memiliki fitur atau berfokus pada AI.
“Jadi, sebagian alasannya adalah karena fokus saat ini adalah membangun startup AI yang berpotensi memiliki basis target global dengan AI sebagai intinya. Mereka memperkirakan sebagian besar startup jenis ini akan muncul di Singapura," kata Aadarsh, melalui sambungan video conference, Kamis (13/11).
Namun, Adash tetap melihat adanya peluang dimana ia mengatakan banyak investor yang melihat pertumbuhan pendapatan berasal dari pasar terbesar yakni Indonesia.
"Oleh karena itu, saya berharap akan melihat lebih banyak pendanaan yang keluar dari Singapura dan masuk ke pasar-pasar tersebut, dan sebagian besar akan masuk ke pasar-pasar yang lebih besar seperti Indonesia," jelasnya.
Dalam laporan yang sama juga disebutkan jumlah startup AI di Singapura berkisar lebih dari 495 perusahaan.
Angka yang jauh lebih banyak dibandingkan negara lain di Asia Tenggara, seperti 60 startup di Malaysia, 45 startup AI di Indonesia, 20 di Thailand, Vietnam sebanyak 40, dan juga Filipina.
Country Director Google indonesia Veronica Utami mengatakan ada banyak faktor yang ingin disoroti oleh laporan itu. Termasuk mendorong banyak pemain untuk berinovasi dan produksi.
"Perbedaan yang saya rasa cukup besar antara startup AI dan startup teknologi konvensional. Startup AI membutuhkan daya komputasi dengan pemrosesan tinggi, yang berarti juga memerlukan capital expenditure (capex) yang besar. Dan itu berlaku terus-menerus. Jadi, mungkin hambatan untuk masuk (barrier to entry) memang lebih tinggi. Itu hanya hipotesis saya," jelas Veronica.
Laporan itu juga melihat jumlah pendanaan di Indonesia mengalami penurunan sejak 2021. Saat itu sebanyak 649 pendanaan tercatat, sementara selama enam bulan pertama tahun 2025 hanya 20 dan menurun dari tengah tahun kedua 2024 sebanyak 22 pendanaan.
Penurunan ini tidak hanya terjadi di Indonesia namun terjadi juga di seluruh Asia Tenggara. Pada 2021 tercatat 2.697 investasi, menurun hingga 191 investasi pada pertengahan tahun pertama 2025.
Aadarsh menyebut bahwa penurunan itu bisa disebabkan karena investor banyak mencari apa yang bisa didapatkan setelah berinvestasi sehingga membuat mereka berhati-hati, termasuk beralih ke sektor lain.