Kenapa Green SM Bisa ‘Mati’ di Rel? Dugaan Penyebabnya Beragam
Uzone.id - Insiden kecelakaan fatal yang menimpa taksi listrik Green SM (Xanh SM) di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur kembali memicu perdebatan serius mengenai ketahanan mobil listrik terhadap gangguan eksternal.
Mobil taksi tersebut dilaporkan berhenti mendadak di atas rel dengan tegangan arus tinggi sesaat sebelum tertemper KRL Commuter Line.
Dua pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan analisis teknis, namun dengan fokus dan kesimpulan yang berbeda.
Hipotesis Kebocoran Unit Kontrol dan Medan Magnet Tinggi
Peneliti dari National Center for Sustainable Transportation Technology (NCSTT) ITB, Agus Purwadi, menduga kuat bahwa insiden ini disebabkan oleh adanya kebocoran pada sistem kelistrikan taksi yang membuatnya lumpuh.
Menurut Agus, setiap perlintasan kereta—terutama yang dialiri listrik—pasti menghasilkan medan magnet.
Medan magnet ini akan membesar seiring meningkatnya arus listrik saat kereta (seperti KRL) melintas.
Apabila perlindungan (shielding) atau proteksi pasif pada kendaraan tidak baik, interaksi dengan medan magnet eksternal yang tinggi ini dapat menyebabkan masalah.
“Medan magnet itu pasti ada. Kalau listrik kan pasti menghasilkan magnet. Jadi kalau dia sudah di atas rel, kan itu memang di atas jalur magnet. Makanya standarnya itu diatur di standar nasional,” kata Agus dalam keterangannya dikutip Uzone.id.
Agus menduga bahwa proteksi control unit taksi listrik mengalami kebocoran. Hal ini membuat unit kontrol menjadi rentan dan terganggu, bahkan hingga mengalami kondisi seperti reset total sehingga mobil tidak bisa dioperasikan atau digerakkan sama sekali.
Karenanya, ia menekankan pentingnya pengujian Electromagnetic Compatibility (EMC), yang merupakan standar wajib dan harus lolos sebelum kendaraan digunakan.
Regulasi otomotif internasional, seperti UNR100, mengatur agar kendaraan tidak boleh mengganggu atau terganggu oleh medan magnet yang masih dalam batas toleransi.
Agus menambahkan, sebenarnya masalah ini bisa diantisipasi sementara dengan cara mematikan dan menghidupkan kembali kendaraan, karena baterai 12 volt atau aki mobil tidak akan terpengaruh oleh medan magnet tersebut.
Faktor Teknis dan Situasional
Berbeda pandangan, Hilwadi Hindersah, seorang Pakar Sistem Kendali dan Komputer Teknik Elektro ITB, justru menolak anggapan bahwa penyebab kecelakaan ini hanya karena "elektromagnetik tidak kompatibel dengan arus listrik di rel kereta."
“Pendapat saya bukan karena elektromagnetik tidak kompatibel dengan arus listrik di rel kereta listrik, melainkan kombinasi beberapa faktor teknis dan situasional. Isu ini sering disalahpahami,” ujarnya.
Hilwadi menyebut isu ini sering disalahpahami oleh publik. Ia berpendapat bahwa kecelakaan ini kemungkinan besar merupakan kombinasi dari beberapa faktor teknis dan situasional.
Secara teknis, mobil listrik memang memiliki sistem elektronik kompleks, termasuk sensor, inverter, dan Battery Management System (BMS), namun komponen ini telah dirancang sesuai standar keselamatan internasional untuk memiliki ketahanan terhadap interferensi elektromagnetik.
Sistem kelistrikan pada rel kereta pun umumnya terisolasi agar tidak mengganggu perangkat elektronik di sekitarnya.
Hilwadi menggarisbawahi bahwa gangguan eksternal tetap dapat memengaruhi sistem, tetapi faktor non-teknis juga berperan besar.
Hal-hal seperti kondisi jalan di perlintasan yang tidak rata, adanya celah rel, atau pengemudi yang mengurangi kecepatan secara drastis dapat menyebabkan kendaraan kehilangan momentum.
Selain itu, ia juga menyoroti kemungkinan mode perlindungan (fail-safe) pada mobil listrik. Jika sistem mendeteksi potensi bahaya atau anomali tertentu, kendaraan dapat secara otomatis masuk ke mode perlindungan yang justru menghentikan mobil untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Seruan untuk Investigasi Lanjutan
Meskipun kedua pakar ITB ini memberikan analisis mendalam, keduanya sepakat bahwa diperlukan investigasi lebih lanjut.
Agus Purwadi menegaskan investigasi harus dilakukan oleh pihak yang benar-benar ahli dalam bidang elektromagnetik.
Sementara itu, Hilwadi Hindersah berharap klarifikasi dari pakar dapat meredam kesalahpahaman publik dan mendorong solusi berbasis data dan analisis teknis yang akurat, sebagai pengingat bahwa aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama seiring perkembangan teknologi kendaraan listrik.