Telco

Keamanan Telko 2026: Ancaman Lama, Risiko Baru dari AI dan Satelit

Hani Nur Fajrina
Keamanan  Telko 2026: Ancaman Lama, Risiko Baru dari AI dan Satelit

Uzone.id — Industri telekomunikasi global sedang memasuki fase yang menarik sekaligus penuh tantangan. Jika satu dekade terakhir diwarnai oleh pembangunan jaringan besar-besaran seperti 4G, 5G, fiber optik, hingga cloud, maka kini fokusnya mulai bergeser ke tahap implementasi masif dan optimalisasi. Di sinilah persoalan keamanan siber justru menjadi semakin kompleks.

Laporan terbaru dari Kaspersky yang terangkum dalam Buletin Keamanan Telekomunikasi 2025 menyebut bahwa operator telekomunikasi saat ini berada di persimpangan antara ancaman lama yang belum hilang dan risiko baru yang muncul akibat adopsi teknologi yang semakin canggih.

Menurut Kaspersky, tahun 2026 akan menjadi periode krusial karena ancaman siber tidak hanya datang dari pelaku jahat, tetapi juga dari kesalahan operasional dan kompleksitas sistem itu sendiri.





Ancaman lama belum pergi

Sepanjang 2025, sektor telekomunikasi masih dibayangi oleh empat jenis ancaman utama.

Pertama: serangan APT (Advanced Persistent Threat), intrusi yang ditargetkan secara spesifik untuk mendapatkan akses jangka panjang ke jaringan operator. Tujuannya bukan sekadar merusak, melainkan melakukan spionase, pengintaian trafik, atau memanfaatkan posisi strategis di dalam jaringan.

Kedua: kompromi rantai pasokan. Ekosistem telekomunikasi melibatkan banyak vendor perangkat keras, penyedia software, integrator sistem, hingga mitra layanan. Celah di satu titik saja bisa menjadi pintu masuk ke sistem yang lebih besar.

Ketiga: serangan DDoS masih menjadi momok klasik. Bagi operator, DDoS bukan sekadar masalah keamanan, tapi juga masalah kapasitas dan ketersediaan layanan yang berdampak langsung ke pelanggan.


Ilustrasi foto: Shutterstock
Ilustrasi foto: Shutterstock


Keempat: ransomware dan malware di perangkat. Data Kaspersky menunjukkan bahwa antara November 2024 hingga Oktober 2025, sekitar 12,79 persen pengguna di sektor telekomunikasi menghadapi ancaman online, 20,76 persen menghadapi ancaman di perangkat, dan hampir 10 persen organisasi telko global mengalami insiden ransomware.

Angka ini menunjukkan satu hal penting: ancaman-ancaman ini belum pergi, bahkan justru masih menjadi “lapisan dasar” risiko yang harus selalu dihadapi operator.

Risiko baru datang dari teknologi baru

Menjelang pergantian tahun, muncul prediksi bahwa hal yang berbeda di 2026 adalah masuknya teknologi baru ke dalam operasi inti jaringan. Berikut rinciannya:

1. Manajemen jaringan berbasis AI
Otomatisasi memang menjanjikan efisiensi, tapi juga membawa risiko. Kesalahan konfigurasi bisa menyebar lebih cepat, data yang bias bisa menghasilkan keputusan yang salah, dan sistem bisa bereaksi otomatis terhadap input yang keliru dalam skala besar.

2. Transisi menuju kriptografi pasca-kuantum
Banyak organisasi mulai bereksperimen dengan skema enkripsi baru untuk menghadapi era komputasi kuantum. Namun penerapan yang terburu-buru atau tidak konsisten berpotensi menimbulkan masalah interoperabilitas, performa, dan bahkan celah keamanan baru.

3. Integrasi 5G dengan satelit (Non-Terrestrial Network/NTN)
Integrasi ini memperluas jangkauan layanan ke wilayah terpencil, laut, dan udara, tetapi sekaligus memperluas permukaan serangan. Lebih banyak titik integrasi berarti lebih banyak potensi kegagalan.



Leonid Bezvershenko, peneliti keamanan senior di Kaspersky GReAT, menyebut bahwa ancaman lama dan risiko baru ini kini saling beririsan.

“Ancaman yang mendominasi 2025 tidak akan hilang seperti kampanye APT, serangan rantai pasokan, dan DDoS. Namun sekarang ancaman tersebut beririsan dengan risiko dari otomatisasi AI, kriptografi siap kuantum, dan integrasi satelit,” ujarnya.

Ia melanjutkan, “operator telekomunikasi membutuhkan visibilitas di kedua dimensi tersebut: memiliki pertahanan kuat terhadap ancaman yang diketahui sambil membangun keamanan ke dalam teknologi baru ini sejak hari pertama. Kuncinya adalah intelijen ancaman berkelanjutan yang mencakup dari titik akhir hingga orbit.”

Jika sebelumnya keamanan jaringan lebih berfokus pada mencegah serangan, ke depan fokusnya dipercaya akan bergeser ke ketahanan sistem (resilience). Artinya bukan hanya mencegah gangguan, tapi juga mampu mendeteksi cepat, membatasi dampak, dan memulihkan layanan dengan cepat.

Secara umum, ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan operator:

  • Memperlakukan otomatisasi sebagai perubahan besar, bukan sekadar upgrade teknis. Tetap perlu kontrol manusia untuk keputusan kritis dan jalur rollback yang jelas
  • Memperkuat visibilitas trafik dan ancaman, bukan hanya di jaringan inti, tapi juga di edge, mitra, dan titik integrasi baru
  • Menjadikan kesiapan DDoS sebagai manajemen kapasitas, bukan sekadar isu keamanan
  • Meningkatkan kesiapan respons insiden, termasuk latihan rutin dan skenario krisis.

Tahun 2026 kemungkinan tidak akan melahirkan jenis serangan yang sepenuhnya baru. Namun yang berubah adalah komposisi risikonya: serangan klasik yang masih aktif, bertemu dengan sistem yang semakin otomatis, terdistribusi, dan kompleks.