Kaleidoskop 2025: Tren & Fenomena Viral, dari Velocity hingga Pacu Jalur
Uzone.id – Di dunia yang semakin kompleks dan serba cepat ini, tren di media sosial terus datang silih berganti. Misalnya saja, di awal tahun ini, tagar #KaburAjaDulu berhasil meramaikan jagat media sosial, terutama di X.
Tidak sedikit pengguna X yang mengungkapkan keinginannya untuk pindah ke luar negeri. Fenomena ini merupakan bentuk kekecewaan rakyat terhadap negara karena ketidakstabilan ekonomi-politik, serta ketidakpastian hukum di negara ini.
Bulan berganti, begitu pula dengan tren. Beberapa di antaranya bahkan sempat viral secara global. Untuk mengingat kembali deretan tren yang mewarnai setahun ke belakang, berikut rangkuman kilas baliknya.
Tren efek Velocity di TikTok
Tren efek Velocity menjadi salah satu fenomena viral di TikTok, khususnya selama bulan Ramadan. Pada periode tersebut, banyak kreator memanfaatkan efek ini untuk menghasilkan konten yang selaras dengan suasana bulan suci.
Popularitasnya kian meningkat setelah sejumlah idola K-pop ikut mengunggah video dengan efek Velocity di akun mereka masing-masing.
Edit foto jadi animasi Ghibli
Tren lain yang sempat viral pada tahun 2025 adalah mengedit foto menjadi animasi ala Ghibli hanya dengan menggunakan prompt di chatbot ChatGPT. Hasilnya dinilai sangat mirip dengan gaya animasi karya Hayao Miyazaki.
Banyak pengguna yang kemudian mengunggah hasil editan mereka ke Instagram dan X hingga akhirnya membuat tren ini kian populer. Namun, tidak sedikit yang menilai bahwa konten tersebut melanggar etika.
Dalam sebuah wawancara, Hayao Miyazaki menyatakan bahwa pembuatan animasi dengan bantuan AI adalah bentuk penghinaan. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah menggunakan teknologi tersebut dalam karya-karyanya.
Setelah tren edit foto menjadi animasi Ghibli mereda, muncul tren baru. Kali ini, banyak pengguna mengedit foto mereka dengan AI menjadi gaya miniatur, foto bersama idola, foto ala polaroid, hingga foto menggunakan jas hitam di dalam lift.
Chatbot AI terus mendapat pembaharuan dengan tujuan untuk meningkatkan kenyamanan para penggunanya. Seiring waktu, jawaban chatbot tidak lagi terasa seperti mesin, melainkan semakin menyerupai respons manusiawi.
Perkembangan ini mendorong banyak pengguna untuk mulai terlibat dalam percakapan intim yang akhirnya melahirkan tren AI-Lationship.
Tren AI-Lationship ini merujuk pada upaya membangun hubungan romansa dengan AI. Bahkan, sebuah survei dari perusahaan AI yang bernama Joi AI mengungkapkan bahwa delapan dari sepuluh Gen Z tengah mempertimbangkan untuk menikahi pasangan AI.
Pacu Jalur
Joget Pacu Jalur telah menjadi fenomena global. Semua ini berawal saat video Rayyan Arkhan Dikha yang mengenakan busana tradisional dan kacamata hitam yang tengah berjoget di atas perahu balap panjang viral.
Gerakan yang dilakukan Rayyan dari atas perahu kemudian dengan cepat diikuti oleh puluhan kreator TikTok, bahkan dicoba oleh pembalap MotoGP Marc Marquez saat ia mengunjungi Indonesia.
Dampak viralnya juga sampai merambah ke ranah digital di mana game Free Fire menghadirkan gerakan Pacu Jalur di dalam permainan mereka, serta Google membuat animasi doodle Pacu Jalur untuk memeriahkan HUT RI ke-80.
Galbay a.k.a Gagal Bayar
Kasus gagal bayar (galbay) sempat menjadi fenomena viral di Tanah Air. Istilah galbay merujuk pada tindakan sengaja menghindari kewajiban pelunasan utang pinjaman online (pinjol).
Fenomena ini didorong oleh kampanye di media sosial seperti Facebook, TikTok, dan X, yang aktif mengajak masyarakat untuk melakukan galbay.
Di Facebook, kampanye #aksigagalbayar muncul dan bahkan sebuah grup bernama "Komunitas Pinjol Gagal Bayar Se-Indonesia 2022/2025" telah memiliki lebih dari 20 ribu anggota.
Prank orang masuk rumah
Sempat viral di TikTok konten prank yang memanfaatkan foto AI.
Di dalam konten tersebut, banyak pengguna yang membuat konten prank ke orang terdekat mereka dengan menampilkan foto orang asing yang hendak masuk ke dalam rumah.
Setelah ditelusuri, ternyata foto yang dijadikan konten tersebut adalah buatan AI. Karena hasilnya yang realistis, nggak mengherankan kalau banyak orang yang berhasil terkecoh.
Stop Tot Tot Wuk Wuk
Setelah tagar #KaburAjaDulu viral di awal tahun, jagat media sosial kembali diramaikan dengan gerakan Stop Tot Tot Wuk Wuk. Gerakan tersebut muncul sebagai bentuk protes publik terhadap penggunaan sirene, strobo, dan rotator oleh kendaraan yang tidak seharusnya memakai perangkat tersebut.
Banyak warganet memberikan sorotan pada kesetaraan di jalan raya: jika sirene/strobo/rotator adalah simbol prioritas, masyarakat berharap simbol itu digunakan dengan benar, bukan semata status.
Gaji petugas Google Maps
Belum lama ini, seorang petugas Google Maps viral di media sosial khususnya X. Usut punya usut, ternyata ia bekerja untuk Google Maps Street View versi jalan kaki dengan tugas untuk memotret dan merekam lingkungan sekitar dari sudut pandang orang berjalan kaki.
Salah satu yang jadi daya tarik dari pekerjaan ini tentunya adalah gaji.
Menurut berbagai sumber, gaji dari petugas Google Maps Street Views yang berjalan kaki ini diklaim mencapai Rp3 juta per hari, atau jika dijumlahkan dengan mengurangi waktu libur Sabtu dan Minggu, gajinya bisa mencapai Rp66-69 juta per bulan.
Banjir Sumatra
Pesan solidaritas digaungkan netizen untuk seluruh warga yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa titik wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Lewat tagar #PrayforSumatera yang trending di sejumlah media sosial, termasuk X, netizen menyampaikan doa dan dukungan kepada semua orang yang terdampak.
Proses evakuasi korban banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra juga masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Simpati publik juga terlihat luas di media sosial lewat berbagai inisiatif penggalangan donasi.