Startup

Kaleidoskop 2025: Indonesia Cuma Nambah Satu Unicorn Baru

Aisyah Banowati
Kaleidoskop 2025: Indonesia Cuma Nambah Satu Unicorn Baru

Uzone.id – Indonesia berhasil menambah satu unicorn baru di tahun 2025. Di tengah gersangnya iklim startup Indonesia, platform streaming lokal Vidio berhasil menyentuh valuasi di atas US$ 1 miliar.

Perolehan tersebut menjadikan Vidio sebagai satu-satunya unicorn baru di Tanah Air sepanjang 2025.

Selain Vidio, iklim startup di Tanah Air yang masih bertahan sebagai unicorn hingga tahun 2025 masih didominasi pemain lama. Untuk mengetahui peta startup unicorn yang masih bertahan di Indonesia, berikut daftarnya.



Traveloka

Traveloka pertama kali menyandang status sebagai unicorn pada 2017. Layanan penjualan tiket online ini mendapatkan kucuran dana dari Expedia senilai USD350 juta atau sekitar Rp4,6 triliun.

Sebelumnya, Traveloka sendiri sudah mendapatkan pendanaan dari investor asing seperti GFC dan Sequoia Capital dari AD, serta Hilhouse Capital dan JD.com dari Tiongkok.


Xendit

Xendit didirikan pada tahun 2015 dan berfokus menyediakan solusi pembayaran serta menyederhanakan proses pembayaran bisnis di Indonesia. Sejak awal berdiri, startup ini berhasil mendapatkan pendanaan hingga tujuh kali dari 18 lembaga yang berbeda.

Xendit juga merupakan startup Indonesia pertama yang mendapatkan pendanaan dari white komanditer yang merupakan akselerator ternama di Silicon Valley. Pada tahun 2021, Xendit kembali mendapatkan pendanaan Seri B yang dipimpin oleh Accel dan diikuti oleh Y Combinator serta Amasia.

Kemudian, pada kuartal II tahun 2022, Xendit kembali mendapatkan pendanaan Seri D senilai Rp4,3 triliun. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Coatue dan Insight Partners, serta diikuti oleh Accel, Tiger Global, Kleiner Perkins, EV Growth, Amasia, Intudo, dan Goat Capital.

Ajaib

Startup Ajaib turut menjadi salah satu startup di Tanah Air yang berhasil menembus valuasi USD1 miliar. Ajaib berhasil menyandang gelar unicorn setelah mendapat suntikan dana Seri B senilai USD123 juta dari DST Global.

Ajaib berhasil meraih pencapaian ini hanya dalam waktu dua setengah tahun sejak startup ini didirikan. Alhasil, Ajaib bukan hanya menjadi fintech unicorn berbasis investasi pertama di Asia Tenggara, tetapi juga dinobatkan sebagai startup tercepat yang menyandang gelar unicorn di kawasan tersebut.



Kopi Kenangan

Kopi Kenangan berhasil menjadi perusahaan F&B pertama di Asia Tenggara yang meraih gelar unicorn.

Startup yang memulai bisnisnya pada tahun 2017 ini berhasil mendapatkan status unicorn setelah mendapatkan pendanaan Seri C yang dipimpin oleh Tyborune Capital Management senilai USD96 juta atau sekitar Rp1,3 triliun.

Akulaku

Startup fintech lending Akulaku berhasil jadi unicorn setelah mendapat pendanaan sebanyak USD10 juta atau sekitar Rp143 miliar dari Lend East di tahun 2022.

Lend East sendiri merupakan platform pinjaman digital yang menghubungkan modal institusional global dengan pemberi pinjaman alternatif di Asia Tenggara dan India.

Dana segar tersebut kemudian digunakan perusahaan untuk mengembangkan dan meningkatkan portofolio kredit di Indonesia, Filipina, dan Thailand.

Sebelumnya, Akulaku juga sempat mendapatkan pendanaan senilai USD100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun dari Siam Commercial Bank asal Thailnd. Serta, juga pernah mendapatkan pendanaan USD125 juta atau sekitar Rp2,1 triliun dari Silverhorn Group.

Dana

Startup fintech dompet digital Dana berhasil menjadi unicorn setelah valuasi perusahaan mencapai USD1,13 miliar atau senilai Rp16,9 triliun di tahun 2022. Capaian tersebut diraih Dana setelah mendapat suntikan pendanaan dari Sinar Mas dan Lazada Group.

Sinar Mas sendiri menginvestasikan sekitar USD250 juta atau sekitar Rp3,7 triuliun. Namun, nilai investasi dari Lazada sendiri tidak dipublikasikan.



Vidio

Vidio berhasil menjadi startup unicorn terbaru di Indonesia setelah mendapatkan suntikan dana dari anak usaha Sinar Mas, PT DSST Video Gemilang, pada 21 Mei 2025. Investasi tersebut berjumlah USD2 juta atau setara Rp32,8 miliar.

Dengan adanya pendanaan ini, Vidio telah memenuhi syarat untuk menjadi unicorn, yaitu memiliki valuasi di atas USD1 miliar.

Performa Vidio beberapa tahun terakhir memang menunjukkan pertumbuhan yang positif. Laporan AMPD SEA Premium VOD Landscape mengungkapkan bahwa Vidio merupakan platform OTT terpopuler di Indonesia dengan jumlah pelanggan berbayar mencapai 4,7 juta pelanggan.

Di tahun 2024 saja, Vidio berhasil menggaet lebih dari 800 ribu pengguna baru di mana mayoritas dari pelanggan banyak mengakses konten eksklusif olahraga dan original series.