Internet Rakyat Rp100 Ribu 100 Mbps Mulai Diterapkan, Ideal Gak Sih?
Uzone.id — Internet rakyat
atau internet murah sudah mulai diterapkan di Indonesia. Dengan harga Rp100
ribu, masyarakat Indonesia sudah bisa menikmati layanan internet 5G Fixed
Wireless Access (FWA) 1.4GHz murah berbasis Open RAN.
Internet rakyat ini merupakan inisiatif dari perusahaan
Surge dan OREX SAI dengan menawarkan layanan internet rumah dengan hingga 100
Mbps, kuota unlimited, tarif flat sekitar Rp100 ribu per bulan.
Kehadiran Internet Rakyat ini menjadi bagian dari perwujudan
dari strategi nasional untuk mempersempit kesenjangan digital dan memperkuat
fondasi ekonomi digital Indonesia.
Tak hanya itu, jika dilihat dari kondisi saat ini, kehadiran Internet Rakyat ini diharapkan bisa menjadi solusi di tengah harga internet keseluruhan di Indonesia masih belum ideal saat ini.
Apalagi, harga Internet Rakyat yang ditawarkan sudah jauh di bawah rata-rata harga internet di Indonesia saat ini yang masuk dalam urutan termahal se-Asia Tenggara.
Teuku Rifki selaku Pengamat Ekonomi dan Peneliti
LPEM UI pun menjelaskan bahwa saat ini, harga internet di Indonesia masih belum masuk dalam skala ideal. Pasalnya, harga internet di Indonesia dianggap lebih mahal jika
dibandingkan dengan negara-negara lainnya, termasuk di Asia Tenggara.
“Saya nggak tahu harga idealnya berapa tapi apakah (harga) yang sekarang
ideal? most likely tidak, karena harga internet di Indonesia itu adalah yang
paling mahal di ASEAN dengan speed yang paling lambat juga di ASEAN jadi tentu
nggak ideal,” katanya, dalam acara
Sementara itu, jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara
lainnya, salah satunya Malaysia, Indonesia masih tertinggal jauh perihal harga
internet dan kualitas jaringannya.
Di Malaysia misalnya, Menteri Komunikasi Malaysia, Fahmi Fadzil mengatakan bahwa saat ini Malaysia masuk dalam 10 besar negara dengan harga internet termurah di dunia per gigabyte yaitu seharga RM0,02 per GB.
Diketahui, per Mbps, harga
internet Malaysia dibanderol dengan tarif sekitar USD0,09 atau sekitar
Rp1.494 per Mbps.
Sementara itu, Indonesia menempati urutan ke-12 dalam daftar negara dengan biaya internet termahal sebesar USD0,41 per Mbps atau setara Rp6.806. Salah satu penyebab utama mahalnya harga internet di Indonesia adalah kondisi geografis sebagai negara kepulauan.
Dalam hal kecepatan pun, Speedtest Global menunjukkan bahwa median kecepatan unduh internet Indonesia baru sebesar 39,88 Mbps untuk layanan fixed broadband per Agustus 2025, berada di posisi terakhir di ASEAN sekaligus ke-116 dari 154 negara dalam daftar.
Sementara Singapura memuncaki daftar dengan median kecepatan unduh mencapai 394,3 Mbps, diikuti Thailand (262,42 Mbps), Vietnam (261,8 Mbps), Malaysia (154,03 Mbps), Filipina (105,17 Mbps), Brunei Darussalam (83,14 Mbps), dan Laos (47,46 Mbps).
Maka dari itu, Teuku berharap bahwa nantinya harga internet dan kualitas internet di Indonesia bisa terus menyusul negara-negara tersebut.
“Untuk harga idealnya berapa, saya kurang tahu. Dalam waktu
dekat pun Indonesia masih belum bisa memiliki level
infrastruktur yang sama dengan Singapura, tapi ya harusnya gak jauh dari
Vietnam dan Thailand juga ya (untuk harga standarnya),” tambahnya.