Internet Kencang 100 Mbps Harga Rp100 Ribuan, Mungkinkah?
Uzone.id —
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah resmi membuka membuka lelang
seleksi pengguna pita frekuensi radio 1,4 GHz pada akhir Juli 2025 lalu. Lelang
frekuensi ini semakin mempercepat kehadiran internet murah 100 Mbps direntang
Rp100 ribuan.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) sendiri menilai bahwa adanya layanan internet murah seharga Rp100 ribu dengan kecepatan 100 Mbps bukan hal yang mustahil, apalagi saat ini tidak ada peraturan mengenai penetapan harga atas dan bawah bagi operator seluler.
Menurut Ketua Umum APJII, Muhammad Arif Angga saat ini
kehadiran internet murah 100 Mbps ini sepenuhnya bergantung pada mekanisme
permintaan pasar.
"Di industri kita ini kan kita enggak menetapkan batas
harga atas dan bawah, maupun juga enggak menetapkan speed juga dari kecepatan.
Jadi kalau itu back to market sih, jadi ya itu masing-masing operator
aja," kata Arif dalam acara seminar Digital Transformation Summit 2025
(DTS), Selasa, (26/08).
Sebagai salah satu operator seluler yang akan menghadirkan layanan internet murah, Telkomsel sendiri masih melakukan kajian lebih mendalam terkait peluang layanan internet berkecepatan tinggi dengan harga murah tersebut.
Jockie Heruseon, VP Corporate Strategy, Innovation,
Sustainability & Marketing Telkomsel mengatakan jika infrastruktur dan
ekosistemnya mendukung, maka internet murah tersebut akan memungkinkan terjadi.
“Selama infrastruktur, ekosistemnya, semuanya mendukung, itu
bukan sesuatu yang tidak mungkin, kita akan selalu ikut regulasi lah,”
tambahnya.
Sejalan dengan itu, dari perusahaan telekomunikasi ZTE
Indonesia juga memastikan bahwa penerapan internet murah ini tidak ada kendala,
termasuk dalam sisi teknologi.
"Kalau dari sisi vendor sih, kalau ada yang beli kita
buat gitu kan. Jadi secara teknologi sih no issue ya, kita akan support selama
customer kita require produk 1,4 GHz berbasis TDD (Time Division Duplex),” kata
Principal Telecom Architect and Business Consultant ZTE Indonesia, Iman
Hirawadi.