Internet 100 Mbps RI Baru Sanggup Tercapai dalam 5 Tahun?
Uzone.id – Kemampuan internet Indonesia dari segi kecepatan memang masih menjadi PR besar bagi pemerintah, dan juga industri telekomunikasi karena masih ketinggalan jauh di Asia Tenggara. Hingga saat ini, kecepatannya masih di bawah 100 Mbps – dan hal ini menjadi target pemerintah agar dapat segera diwujudkan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan bahwa konektivitas menjadi kuci dalam memajukan transformasi digital di Indonesia.
“Untuk soal konektivitas, saya kira kita sudah banyak melakukan kemajuan-kemajuan yang penting, kita tahu bahwa konektivitas sudah bisa menjangkau 97 persen dari peningkatan yang ada di Indonesia dan dipakai internet masih harus ditingkatkan, memang belum sampai kepada 100 Mbps, masih sekitar 39,7 Mbps, namun kemudian peningkatan internet sudah 80 persen,” jelas Nezar saat ditemui awak media usai acara Empower Indonesia Report 2025 yang digelar Indosat Ooredoo Hutchison di Jakarta, hari ini, Senin (27/10).
Melalui rangkaian program penguatan konektivitas di Indonesia, Nezar Patria yakin dalam lima tahun ke depan, Indonesia akan dapat bersaing dengan negara tetangga yang telah mencapai jaringan 100 Mbps dan memanfaatkan jaringan 5G.
“Jika kita bandingkan dengan Malaysia, Malaysia sudah 80 persen, kita mungkin kurang dari 10 persen untuk jaringan 5G. Pemerintah mencanangkan 32 persen setidaknya jaringan 5G itu bisa tersambung hingga tahun 2030,” jelas Nezar.
Terkait upaya mengejar ketertinggalan konektivitas dalam mendukung percepatan transformasi digital, Nezar menjelaskan ada dua hal yang akan difokuskan, yakni persoalan infrastruktur dan talenta.
Dari sisi infrastruktur menuntut ketersediaan compute power yang memadai untuk pemrosesan data, serta pengembangan data center dengan infrastruktur berkepadatan tinggi (High-Density Infrastructure/HDI) di masa depan.
Upaya ini membutuhkan keterlibatan dan inisiatif dari perusahaan teknologi di Indonesia.
“Dan dalam konteks ini, saya kira indosat sudah mengambil jalan yang tepat dengan mencoba fokus menjadi AI tech company, dan saya kira ini inisiatif membuat industri terdapat satu langkah di depan di industri tech company. Jadi bapak-ibu sekalian peluang bisnis digital ataupun pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia sangat potensial,” ungkap Nezar.
Kemudian soal talenta, potensi sumber daya Indonesia yang besar memperkuat keyakinan Nezar Patria bahwa Indonesia mampu memimpin dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan.
“Memang saat ini kita masih ada shortage di digital talent, kita butuh kurang lebih 9 juta digital talent di 2030 untuk bisa mendongkrak ekonomi digital ini atau untuk bisa mengambil benefit dari pertumbuhan ekonomi digital. Dan yang dikira-kira akan bertumbuh untuk kawasan sekitar 1 triliun USD di 2030. Dan 40 persen dari jumlah itu disumbangkan oleh Indonesia,” ungkap Nezar.
Nezar menjelaskan bahwa keterbatasan infrastruktur bisa ditaklukan oleh kekuatan talent yang mumpuni. Namun, pembangunan infrastruktur tangguh tetap menjadi upaya krusial untuk memastikan daya saing Indonesia yang kuat di masa mendatang.
“Jadi 2025 ini hingga 2029 saya kira jembatan yang kritikal bagaimana kita mempersiapkan talent digital, kita memperkuat infrastruktur untuk kita bisa sampai ke pintu gerbang 2030. Saya kira bonus demografi dan lain-lain akan mencapai peak-nya sampai dengan 10 tahun atau 15 tahun ke depan hingga 2045. Dan itu sangat ditentukan dari lima tahun yang kita kerjakan sekarang,” tutup Nezar.