Automotive

Ini Alasan Polytron Pilih Cell Lithium untuk Motor Listriknya

Brian Priambudi
Ini Alasan Polytron Pilih Cell Lithium untuk Motor Listriknya

Uzone.id - Polytron memiliki fokus yang sangat tinggi soal keselamatan dan keamanan konsumen pengguna motor listrik mereka. Merek dalam negeri yang satu ini turut mengedukasi mengenai cell baterai motor listrik agar masyarakat tidak salah beli.

Edukasi ini disampaikan ketika Polytron mengundang awak media untuk mengunjungi pabrik mereka di tiga lokasi yakni Krapyak dan Sidorekso, Kudus, Jawa Tengah dan satu lagi berlokasi di Sayung, Demak, Jawa Tengah.

Hariono selaku CEO Polytron menjelaskan teknologi baterai menjadi komponen paling penting dari motor listrik yang juga berkontribusi untuk mendukung keamanan.

Oleh karenanya, Polytron lebih memilih menggunakan baterai dengan cell dari lithium dibandingkan dari nikel.

"Polytron menerapkan standar pengujian setingkat internasional untuk memastikan setiap cell baterai yang digunakan aman sebelum dipasang pada motor listrik Fox Series. Standar ini mengacu pada UN 38.3, QC/T 743, SNI 8872:2019, UN R136, hingga ISO 26262 yang mencakup pengujian thermal, getaran, guncangan, tusukan, benturan, hingga simulasi risiko kecelakaan," ujar Hariono di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (9/12).



Hariono menjelaskan jenis-jenis baterai dengan bahan nikel seperti NMC, NCA, dan LCO dikenal memiliki risiko api yang tinggi karena dapat menghasilkan oksigen internal ketika rusak.

Reaksi ini menyebabkan api cepat membesar, sulit dikendalikan dan berpotensi menimbulkan ledakan.

Polytron sendiri memilih teknologi Lithium Iron Phosphate alias LFP karena memiliki stabilitas thermal yang jauh lebih baik dan tidak menghasilkan oksigen jika rusak.

"Baterai LFP punya titik mulai thermal runaway pada suhu 250-300 derajat celcius, jauh lebih tinggi dibandingkan cell NMC yang bisa mengalami thermal runaway pada kisaran 170-220 derajat celcius," jelas Hariono.





Bagi Polytron, perbedaan ini berdampak sangat besar bagi pengguna, terutama ketika motor digunakan di kondisi cuaca panas, melewati kemacetan, atau peningkatan suhu saat pengisian daya.

Baterai yang Polytron gunakan pada motor listrik juga sudah melalui pengujian nail penetration dan mechanical impact untuk memastikan sel nya tidak terbakar ataupun meledak meskipun mengalami tusukan, tekanan tinggi, hingga kerusakan fisik.

Selain itu, desain battery pack yang menjadi lapisan proteksi juga dirancang menggunakan struktur heatsink berbahan aluminium yang berfungsi sebagai pelindung sekaligus pendingin.

Sehingga baterai pada motor listrik Polytron diklaim bisa melalui benturan, getaran, gesekan, dan paparan panas ekstrim.



Battery pack juga dirancang dengan sertifikasi IP67 yang membuat baterai tahan terhadap air, banjir, dan kondisi lingkungan yang ekstrim.

Ditambah lagi terdapat Battery Management System (BMS) lengkap dengan sensor temperatur, sistem pemutusan arus otomoatis ketika overcharge atau over-discharge, serta mekanisme cell balancing untuk menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang.

Polytron juga telah melakukan riset perbandingan antara baterai LFT dengan baterai Graphene Lead Acid yang banyak digunakan pada produk motor listrik yang diklaim juga menjadi teknologi baterai baru.

Namun Polytron menemukan baterai Graphene Lead Acid memiliki waktu pengisian yang lebih lama, efisiensi lebih rendah, tingkat self-discharge lebih tinggi, serta bobot yang jauh lebih berat.

"Di Polytron, keselamatan pengguna motor listrik tidak pernah menjadi area kompromi. Kami memilih cell LFP bersertifiaksi yang lolos pengujian paling ketat, termasuk nail penertration test, untuk memastikan keamanan mereka bahkan dalam skenario kecelakaan ekstrem. Kami percaya bahwa industri kendaraan listrik hanya bisa berkembang jika pengguna merasa aman dan percaya dengan teknologinya," ujar Josaphat Bagus Purnama selaku Head of Design, Quality, and Assurance EV Polytron dalam kesempatan yang sama.