Infrastruktur Penting AS Jadi Sasaran Empuk Peretas Iran
Uzone.id - Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat menerapkan gencatan senjata selama dua pekan pada Selasa (7/4). Meski begitu, di hari yang sama, pemerintah AS juga mewanti-wanti adanya eskalasi serangan siber dari kelompok peretas sokongan Iran yang secara spesifik menargetkan sistem infrastruktur kritis di AS.
Info saja, dalam pernyataan resminya, Presiden AS Donald Trump sepakat melakukan gencatan senjata usai berdiskusi dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir.
"Mereka meminta saya untuk menahan kekuatan penghancur yang dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui Pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu," tegasnya.
Peringatan ini dirilis secara gabungan oleh FBI, NSA, CISA, dan Departemen Energi AS, seperti dikutip dari Techcrunch.
Lembaga-lembaga intelijen ini menyebut bahwa para peretas ini secara aktif mengeksploitasi sistem yang terhubung ke internet di berbagai sektor vital, seperti fasilitas pengolahan air bersih dan limbah, energi, hingga infrastruktur milik pemerintah daerah.
Walau tidak merinci nama targetnya secara spesifik, lembaga-lembaga AS ini menegaskan kalau peretasan tersebut memang dirancang untuk melumpuhkan operasional dan sudah menimbulkan kerugian finansial.
Sistem yang jadi sasaran empuk adalah Programmable Logic Controllers (PLC) dan produk SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition). Kedua perangkat ini dipakai untuk mengatur alat-alat dan sistem industri berat.
Disebutkan, para peretas ini mampu memanipulasi informasi yang muncul di layar perangkat. Malah, mereka juga bisa mengacak-acak file proyek yang menyimpan berbagai konfigurasi penting dari mesin-mesin tersebut.
Sejak konflik AS-Iran bergulir, ada satu grup peretas Iran bernama Handala yang dituding menjadi dalang di balik rentetan insiden siber yang terjadi.
Salah satu insiden besar pernah menimpa raksasa teknologi medis AS, Stryker. Kelompok ini berhasil membobol sistem dan menghapus data dari ribuan perangkat karyawan secara jarak jauh. Aksi sabotase ini dilakukan dengan mengeksploitasi tools keamanan internal milik perusahaan itu sendiri.
Kelompok ini juga dituding FBI sebagai pihak yang bertanggung jawab atas bocornya sebagian isi email pribadi milik Direktur FBI, Kash Patel.
Selain serangan siber, Iran juga menargetkan beberapa perusahaan teknologi. Terakhir, fasilitas server cloud milik Amazon Web Service (AWS) di Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan rudal Iran pada Rabu (1/4).