Headline

InfraNexia Pegang Fiber Telkom, Internet 100 Mbps Kian Terbuka

Hani Nur Fajrina
InfraNexia Pegang Fiber Telkom, Internet 100 Mbps Kian Terbuka

Uzone.id – Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar Telkom Indonesia belum lama ini memutuskan untuk melakukan pemisahan (spin-off) bisnis infrastruktur serat optik ke entitas baru bernama InfraNexia. Artinya, aset jaringan fiber optik Telkom akan dialihkan ke InfraNexia.

Dari penjelasan Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, pemisahan ini bertujuan menciptakan entitas yang lebih fokus, efisien, dan fleksibel dalam mengelola serta mengembangkan infrastruktur jaringan, sekaligus membuka peluang kolaborasi strategis dengan mitra maupun investor di masa depan.

“Aksi korporasi ini menjadi salah satu strategi jangka menengah yang kami sebut TLKM 30. Jadi, ini merupakan satu transformasi jernih kira-kira targetnya itu adalah di 2030. Melalui TLKM 30, kami ingin memperkuat daya saing perusahaan, salah satunya fundamental berupa operational excellence dan service excellence,” tutur Dian saat jumpa pers penandatanganan akta pemisahan InfraCo di Gedung Telkom Landmark Tower, Jakarta, Kamis (18/12).


Foto: Uzone.id
Foto: Uzone.id


Ia menyambung, “yang kedua, optimalisasi aset strategis, yaitu InfraNexia ini. Kami mengoptimalkan aset digital yakni fiber optik. Salah satu objektif dari InfraNexia adalah memberikan layanan konektivitas lebih besar dan luas lagi agar industri telekomunikasi lebih berkembang, dan juga efisien.”

Optimis kecepatan internet 100 Mbps

Dengan terbentuknya InfraNexia, lantas apa yang akan dirasakan langsung oleh masyarakat dan sektor telekomunikasi di Indonesia?

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF), I Ketut Budi Utama, menyampaikan bahwa konektivitas berbasis fiber optik yang dibawa InfraNexia tentunya akan berkontribusi dalam pencapaian target kecepatan internet 100 Mbps yang tengah digalakkan pemerintah.

“Setelah spin-off ini, ya memang tujuan kami membuat layanan fiber menjadi lebih cepat, lebih murah, dan lebih bagus. Semuanya akan dibikin efisien seperti kata Ibu Dian. Di satu tahun pertama ini, kita akan memilah semua aset-aset fiber yang ada, topologinya kami cermati juga, sehingga jaringan bisa lebih cepat,” tutur I Ketut Budi.



Ia melanjutkan, “apalagi dengan adanya program Komdigi, di mana tahun 2031 target rata-rata kecepatan internet harus 100 Mbps gitu. Sekarang saya rasa ekosistemnya belum memungkinkan untuk itu. Kita perbaiki jaringan sehingga bisa lebih efisien dan pasti akan lebih baik setelah itu.”

I Ketut Budi lebih lanjut menjelaskan, secara bandwidth, layanan fiber optik Telkom –dalam hal ini InfraNexia– memiliki hubungan dengan gateway internasional, karena trafik banyak datang dari luar negeri.

“Kita sekarang punya data center, jadi kita akan menurunkan CDN-CDN itu [Content Delivery Network], server-server yang ada di luar Google selama ini ke Indonesia. Kalau itu terjadi, kita bisa mengurangi cost kita keluar, jadi kecepatan 100 Mbps itu sangat mudah. Karena jaringan kita di dalam negeri itu luar biasa luas. Sekarang yang bikin susah itu karena kita harus akses keluar dan server seperti Google, Facebook itu di luar. Tapi mereka sudah mulai turun ke Indonesia dan kita siapkan data centernya. Itu akan masuk di environment kita, network-nya kita, data center kita. Kita akan kejar ke situ [kecepatan 100 Mbps],” jelasnya.



Siap dukung smart city di RI

Tak hanya tujuan kecepatan internet mencapai 100 Mbps, InfraNexia juga diyakini akan mendukung pengembangan smart city di berbagai lokasi di Indonesia.

I Ketut Budi mengatakan bahwa InfraNexia akan mendukung para pemain enterprise, terutama sektor pemerintah untuk realisasi smart city.

“Satu kelebihan TIF, kita sudah memiliki semacam pedoman bahwa kita akan unlock semua aset kita, jadi kita sudah diberikan keleluasaan untuk melakukan seperti menyewa, begitu. Untuk solving semaksimal mungkin jaringan yang dibutuhkan untuk smart city – mungkin dari aplikasi ataupun service. Jaringan seperti CCTV hingga digitalisasi yang dibutuhkan, pasti kita akan support,” pungkas I Ketut Budi.

Diketahui, Telkom meresmikan pelepasan atau spin-off InfraNexia ini yang baru berada di tahap pertama. Nilai aset InfraNexia di tahap awal ini sekitar Rp35 triliun, lalu nanti setelah proses pemisahan bisnis rampung, total nilai aset yang dikelola InfraNexia diprediksi tembus Rp90 triliun.

Rencananya, Telkom akan mengalihkan hampir seluruh bisnis dan aset Fiber Connectivity 99,99 persen ke InfraNexia, dengan proses yang masih bertahap, saat ini baru di angka 50 persen.