Automotive

Indonesia Dipaksa Impor Etanol AS, Idenya Bahlil Lagi?

Brian Priambudi
Indonesia Dipaksa Impor Etanol AS, Idenya Bahlil Lagi?

Uzone.id - Masih ingat kan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, pernah mewajibkan BBM terkandung etanol 20 persen di Indonesia dengan alasan agar tidak bergantung pada BBM impor.

Tapi kali ini, Indonesia malah dipaksa untuk impor bahan bakar etanol dari Amerika Serikat (AS) lewat Perjanjian Perdagangan Timbal Balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART).

"Sampai ayam tumbuh gigi, kalau kita enggak reatif untuk melakukan ini (BBM campur etanol), enggak akan bisa kita dalam negeri semua," ujar Bahlil, dikutip Sabtu (21/2).

Bahlil berharap, dengan menggunakan BBM etanol bisa mewujudkan swasembada energi, bahkan PT Pertamina dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) sudah mulai membangun pabrik bioetanol di dalam negeri.



Sayangnya, mimpi swasembada energi itu seperti bersebrangan dengan keputusan Indonesia menyepakati ART dengan AS, karena diwajibkan impor etanol.

Di naskah final ART, tepatnya pada bagian Annex III (Article 2.23), ada tiga poin perjanjian yang disepakati Indonesia dan Amerika Serikat.

Poin pertama disebutkan, Indonesia tidak boleh mengadopsi/mempertahankan tindakan apapun yang mencegah impor bioetanol asal AS.





Kedua, Indonesia juga diharuskan memasok bahan bakar campuran bioetanol lima persen (E5) paling lambat 2028 dan bioetanol 10 persen (E10) paling lambat 2030.

Yang ketiga, Indonesia diwajibkan berusaha menuju E20 dengan mempertimbangkan pasokan dan infrastruktur.

Mencengangkannya lagi, pada Annex IV poin B nomor 2, Indonesia diharuskan mengimpor etanol dalam jumlah tertentu yang bisa dibilang cukup besar untuk kebutuhan tahunan.



"Indonesia harus memastikan, impor etanol asal Amerika Serikat ke Indonesia melebihi 1.000 metrik ton (1 juta kg) setiap tahunnya," tulis perjanjian tersebut.

1 juta kg etanol saja sudah setara lebih kurangnya 1,2 juta liter, memang secara ukuran spesifik bisa sedikit berbeda tergantung pada suhu dan kemurnian etanol.

Namun jumlah itu tetaplah banyak, dengan kandungan BBM bioetanol 10 atau 20 persen saja akan membuat stoknya berlebihan.

Pada akhirnya, industri etanol yang sedang dibangun di dalam negeri bisa tidak terpakai karena jumlah kewajiban impor yang sangat besar.