Games

IGRS Kebobolan, Developer Soroti Review Manual dan Minim SDM

Muhammad Faisal Hadi Putra
IGRS Kebobolan, Developer Soroti Review Manual dan Minim SDM

Uzone.id - Insiden kebocoran Indonesia Game Rating System atau IGRS sedang menjadi sorotan. Bukan cuma membocorkan video gameplay dan ending rahasia dari game AAA seperti 007: First Light, insiden ini kabarnya juga mengekspos ribuan alamat email milik para developer game.

Developer seperti Riot Games pun akhirnya buka suara. Nic McConnell yang menjabat sebagai manajer rating usia dari Riot Games, memberikan pandangannya terhadap sistem IGRS di media sosial BlueSky. 

Berdasarkan pengalamannya mendaftarkan game Riot di IGRS, insiden ini sebenarnya bisa dipahami mengingat cara kerja sistem tersebut yang masih sangat konvensional.

Nic menjelaskan, developer game yang ingin mendapatkan rating IGRS diwajibkan mengisi survei singkat. Bersamaan dengan itu, mereka juga harus melampirkan link atau tautan berisi cuplikan video dan gambar untuk dinilai apakah ada unsur kekerasan, bahasa kasar, hingga konten dewasa.

Masalah utamanya ada pada proses peninjauan yang berjalan secara manual. Nic bercerita, Riot Games biasanya membagikan tautan video tersebut via Google Drive yang dikunci rapat. Namun, dalam prosesnya, beberapa staf IGRS sering meminta akses untuk membuka dokumen tersebut secara terpisah.

"Saya tidak kaget kalau ada tautan yang akhirnya terbuka lebih luas (ke publik) dari yang seharusnya saat proses manual itu terjadi," ungkap Nic, dikutip dari VGC.

Lebih lanjut, Nic juga menyoroti kondisi tim IGRS di lapangan. Ia mengaku sempat bertemu dengan perwakilan IGRS tahun lalu setelah berbulan-bulan menghubungi mereka via Instagram. Dari pertemuannya itu, ia menyadari bahwa akar masalahnya ada pada kurangnya sumber daya.

Menurut pandangan Nic, tim IGRS sebenarnya berisi orang-orang baik yang sudah berusaha maksimal. "Tapi mereka adalah tim kecil yang diberi tugas raksasa tanpa sumber daya yang memadai, dan selalu dikejar waktu," tambahnya.

Insiden kebocoran dari komite rating usia di sebuah negara sebenarnya bukan hal baru di industri game. Kasus serupa juga kerap menimpa sistem rating GRAC di Korea Selatan.

Meski begitu, Nic menegaskan bahwa proses di IGRS masih butuh banyak perbaikan. Sebagai langkah antisipasi ke depannya, ia menyarankan agar para developer maupun publisher game lebih berhati-hati.

"Saran saya untuk developer dan publisher, cukup bagikan materi yang paling relevan saja untuk disubmit (ke IGRS)," pungkasnya.