Honda Nyerah Jualan Mobil di Korsel, Sebulan Cuma Laku 84 Unit
Uzone.id - Honda nyerah jualan mobil di Korea Selatan (Korsel), padahal pabrikan asal Jepang ini sudah berjualan selama lebih dari dua dekade. Penjualan yang terus lesu jadi alasan utama Honda akhirnya ‘lempar handuk’ di pasar mobil Korea Selatan.
Keputusan untuk cabut dari pasar mobil Korsel ini akan berlaku efektif di penghujung tahun 2026. Meski begitu, lini bisnis sepeda motor Honda dipastikan tetap beroperasi normal.
Mulai menjajakan kendaraan di Korsel sejak 2004 lewat model Accord dan CR-V, Honda memang kesulitan memikat konsumen lokal. Pasar Korsel memang terbilang menantang karena didominasi kuat oleh merek tuan rumah seperti Hyundai dan Kia. Belum lagi, merek China seperti BYD yang kian agresif berekspansi di sana.
Faktanya, seperti dikutip dari Reuters, tahun lalu Honda cuma sanggup menjual kurang dari 2.000 unit mobil, anjlok lebih dari 20 persen dibanding tahun sebelumnya.
Data dari Asosiasi Importir & Distributor Otomotif Korea bahkan mencatat, hanya 84 unit mobil Honda yang terdaftar sepanjang bulan lalu.
Pencapaian ini sangat jomplang kalau melihat performa mereka di Amerika Serikat (AS), di mana 13.612 unit Honda Accord ludes terjual hanya di bulan Maret saja.
Walau begitu, torehan 84 unit di Korsel masih sedikit di atas beberapa merek asing lain seperti Cadillac (75 unit), Peugeot (72 unit), Ford (35 unit), Lincoln (20 unit), dan Chevrolet (6 unit).
Namun, angka tersebut tetap tak ada apa-apanya dibanding merek impor favorit seperti Tesla dengan 11.130 registrasi di bulan Maret, disusul BMW dengan 6.785 unit dan Mercedes-Benz yang berhasil mendistribusikan 5.419 unit.
Honda menyebut, langkah mundur ini diambil untuk merespons dinamika perubahan pasar otomotif domestik dan global. Keputusan ini merupakan hasil pertimbangan matang untuk memusatkan sumber daya perusahaan demi mendongkrak daya saing di jangka menengah dan panjang.
Kabar ini tentu mengecewakan para pemilik mobil Honda di sana. Namun, pabrikan berjanji tidak akan lepas tangan dan terus memberikan jaminan layanan purna jual secara penuh, mulai dari suplai suku cadang, perawatan, servis, hingga urusan klaim garansi.
Nasib kurang mujur Honda bukan cuma terjadi di Korsel, mereka juga kelimpungan menghadapi persaingan ketat di berbagai pasar kunci Asia lainnya.
Di China, angka penjualan ritel mereka terjun bebas 60 persen dalam lima tahun terakhir, menyisakan sekitar 646.000 kendaraan pada 2025. Imbasnya, Honda bersiap menutup setidaknya satu fasilitas pabrik patungan di sana.
Rapor merah ini juga merembet ke Asia Tenggara, di mana penjualan tahunan mereka dilaporkan ikut merosot di Thailand, Malaysia, dan Indonesia.