Hati-hati Scam Online Saat Lebaran, Simak 4 Tips Ini Biar Aman
Uzone.id – Menjelang Lebaran
Idulfitri 2026, aktivitas belanja online hingga aktivitas digital lainnya
seperti pengiriman barang hingga transfer uang ikut meningkat pesat. Hal ini
pun dimanfaatkan dengan baik oleh penjahat siber yang juga terus melancarkan
aksinya lewat berbagai modus penipuan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga
November 2025 terdapat 64.933 laporan penipuan transaksi belanja online dengan
total kerugian mencapai Rp1,14 triliun. Angka ini menjadikan penipuan belanja dan transaksi online sebagai salah satu modus yang paling banyak dilaporkan.
Secara umum, ada beberapa pola penipuan yang kerap muncul
menjelang hari raya, berikut diantaranya:
Modus Social Engineering atau Soceng
Modus ini sering terjadi akhir-akhir ini dimana pelaku
berpura-pura menjadi pihak terpercaya, seperti kurir, petugas bank, atau
layanan pelanggan. Korban biasanya diminta memberikan data sensitif seperti OTP
atau password, yang kemudian digunakan untuk mengambil alih akun.
Modus Baiting
Modus yang satu ini memanfaatkan iming-iming promo besar, giveaway atau tawaran kerja dengan keuntungan cepat. Contohnya diskon tidak masuk akal atau program komisi yang berujung pada permintaan transfer dana sebagai bentuk deposit.
Contohnya promo atau diskon yang terlalu bagus untuk menjadi
kenyataan, seperti “Diskon 90 persen hanya 5 menit” atau “Voucher terbatas
untuk 50 orang pertama”.
Phishing
Modus yang satu ini pasti tidak aneh lagi, pelaku biasanya
mengirim tautan palsu yang menyerupai situs resmi. Tujuannya untuk mencuri data
login atau informasi kartu kredit saat korban memasukkan data.
Untuk menghindari risiko ini, pastikan seluruh informasi dan
transaksi diakses melalui kanal resmi serta periksa kembali alamat situs
sebelum memasukkan data akun.
Sebagai salah satu platform ecommerce di Indonesia, Blibli
pun mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dengan menerapkan beberapa langkah
sederhana bernama “JEDA” sebelum mengambil keputusan, baik saat beraktivitas
online maupun offline.
Untuk mengurangi risiko penipuan digital dengan berbagai modus, masyarakat pun dianjurkan menerapkan
prinsip “JEDA”, yaitu:
- Jangan reaktif
- Evaluasi informasi
- Double-check sumber
- Ambil keputusan dengan tenang
Langkah ini dinilai efektif untuk membantu masyarakat berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan, terutama saat menghadapi informasi yang mendesak atau mencurigakan.
Blibli juga mengingatkan agar pengguna selalu mengakses
layanan melalui kanal resmi dan tidak mudah percaya pada tautan atau pesan yang
tidak jelas sumbernya.
Head of Public Relations Blibli, Nazrya Octora, mengatakan
bahwa derasnya arus informasi menjelang Lebaran kerap membuat masyarakat
lengah.
“Situasi dan informasi yang serba cepat utamanya jelang
Lebaran seringkali membuat kita lengah. Oleh karena itu, penting bagi kita
semua untuk mulai mempraktikkan JEDA sebelum bereaksi,” katanya.