Gadget

Harga HP Naik Gila-gilaan, Oppo Masih Nomor Satu

Muhammad Faisal Hadi Putra
Harga HP Naik Gila-gilaan, Oppo Masih Nomor Satu

Uzone.id - Pasar smartphone Indonesia melemah pada awal 2026. Dari laporan  Counterpoint bertajuk ‘Indonesia Smartphone Tracker’, pengiriman HP di Indonesia turun 9 persen secara year-on-year (YoY) pada kuartal pertama (Q1) 2026. 

Penurunan ini, seperti disampaikan Senior Analyst Counterpoint Shilpi Jain, dipicu oleh krisis pasokan memori yang membuat harga smartphone naik, sehingga konsumen memilih menunda membeli ponsel baru.

Padahal, menurut Shilpi, ekonomi Indonesia sedang berada di level tertinggi dalam 14 kuartal terakhir, didorong oleh belanja pemerintah dan pergeseran musim libur ke awal tahun yang ikut meningkatkan konsumsi domestik.

Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk mengangkat pasar smartphone di dalam negeri. Kenaikan harga akibat inflasi pasar memori terasa pada model lama maupun produk baru, dengan rentang kenaikan sekitar 7 sampai 45 persen.

“Segmen entry-level menjadi yang paling terdampak, karena konsumen menunda pembelian atau lebih memilih HP bekas,” kata Shilpi, dikutip Uzone.id pada Sabtu (23/5).

Oppo di puncak, Samsung tumbuh


Menurut Counterpoint, Oppo masih menjadi raja pasar smartphone Indonesia pada Q1-2026 dengan pangsa pasar 22 persen, padahal pengirimannya turun 24 persen dibanding tahun sebelumnya. 

Posisi Oppo terbantu oleh portofolio kelas menengah yang lebih luas, termasuk lini A Series. Segmen ini dinilai lebih tahan terhadap tekanan harga, karena konsumennya tidak sesensitif pembeli di kelas entry-level.

Di posisi kedua ada Xiaomi yang menguasai 21 persen pangsa pasar. Pengiriman Xiaomi juga turun 4 persen secara YoY, dipengaruhi persaingan di segmen mid-range dan keterlambatan peluncuran beberapa produk.

Counterpoint menilai kalau Xiaomi masih mampu menjaga posisinya di segmen entry-level lewat Redmi A Series. Lini ini menawarkan ragam kelebihan yang menarik, namun tetap dijual dengan harga yang lebih terjangkau.

Xiaomi juga terus memperkuat kanal ritelnya lewat konsep baru yang lebih menonjolkan integrasi ekosistem perangkat, bukan cuma smartphone.

Sementara itu, Samsung menjadi satu-satunya merek di lima besar yang mencatat pertumbuhan positif. Pengirimannya naik 8 persen dibanding tahun sebelumnya, ditopang harga ritel yang lebih stabil dan loyalitas pengguna yang kuat.

Samsung Galaxy S26 Series disebut menjadi primadona bagi Samsung, bahkan jauh lebih baik dari Galaxy S25 Series sekalipun. 

Nasib berbeda dialami Vivo dan Infinix. Keduanya sama-sama mencatat penurunan pengiriman lebih dari 30 persen pada Q1-2026.

Penurunan ini juga disebabkan oleh melemahnya segmen harga di bawah USD150 atau Rp2,6 jutaan. Kenaikan harga dan minimnya peluncuran baru membuat konsumen di kelas ini semakin menahan diri untuk membeli HP baru.

Meski begitu, Vivo dan Infinix mulai memperluas portofolio ke kelas menengah. Infinix bahkan mulai mengarahkan produknya ke segmen yang lebih tinggi, seperti Infinix Note 60 Pro yang disebut mulai membidik kelas yang disebut ‘affordable flagship’.

Apple dorong pasar premium di Indonesia


Kategori ‘Others’ pun mencatatkan kenaikan pangsa pasar yang besar. Pada Q1-2026, kategori ini menguasai 16 persen pangsa pasar smartphone di Indonesia, atau naik dari 8 persen pada kuartal yang sama tahun lalu.

Kenaikan ini terutama didorong oleh Apple. Counterpoint menyebut, Apple terus tumbuh konsisten sejak larangan penjualan produknya di Indonesia dicabut pada April 2025.

Pertumbuhan Apple juga ikut mengerek segmen premium dengan harga di atas USD600 atau Rp10,6 jutaan. Pada Q1-2026, segmen premium mencatat kontribusi tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 8,3 persen dari total pengiriman smartphone di Indonesia.

Segmen premium juga tumbuh 30 persen secara YoY. Kondisi ini menunjukkan tren premiumisasi masih berjalan, ketika sejumlah brand lebih fokus mendorong produk kelas atas untuk mengimbangi lemahnya permintaan di segmen entry-level.

Sebaliknya, segmen entry-level dengan harga di bawah USD150 justru turun tajam 19 persen dari tahun sebelumnya. Segmen ini menjadi yang paling terdampak kenaikan harga, karena konsumennya lebih sensitif terhadap perubahan harga perangkat.

Counterpoint memperkirakan harga smartphone di Indonesia masih berpotensi naik dalam beberapa waktu ke depan, seiring biaya komponen yang terus meningkat.

Pengiriman smartphone juga diprediksi masih akan melemah hingga paruh kedua 2026, karena konsumen kemungkinan tetap menunda pembelian HP baru.