Grab dan Ovo Amankan Data Pengguna Lewat Edukasi hingga AI
Uzone.id — Saat ini,
masyarakat tidak bisa lepas dari layanan digital, mulai dari pesan makan,
transportasi, hingga transaksi keuangan. Semakin banyak layanan digital yang
digunakan, semakin lebar pula resikonya, khususnya soal keamanan data pribadi.
Terkait hal tersebut, gelaran GRACS IPSS 2025 yang disokong
oleh Grab Indonesia dan Ovo mengambil topik tersebut sebagai salah satu
fokusnya. Konferensi ini juga turut membahas permasalahan lain termasuk tata
kelola, keamanan siber, privasi, dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di
Indonesia.
Memiliki tema “Trust by Design: Privacy, Security, and AI Governance for the Future”, acara ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai sektor dengan tujuan bahwa kepercayaan digital perlu dibangun sejak awal, bukan setelah masalah terjadi.
Seperti yang disampaikan sebelumnya, dengan semakin
banyaknya aktivitas digital, data pribadi menjadi salah satu aset paling
rentan. Mulai dari nomor telepon, lokasi perjalanan, hingga pola transaksi,
semua tersimpan di berbagai aplikasi.
Itu sebabnya, keamanan digital tidak lagi hanya urusan pemerintah atau perusahaan teknologi besar, tetapi menyangkut kehidupan pengguna setiap hari.
Menurut CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, keamanan digital
merupakan tanggung jawab kolektif yang memerlukan sinergi dari semua pihak,
seperti pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat.
“Kita perlu bergerak bersama untuk memastikan setiap inovasi
yang lahir tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi, tetapi juga menjunjung
tinggi aspek keamanan, etika, dan kepentingan publik,” katanya.
Ia melanjutkan, “Dengan kolaborasi lintas sektor yang kuat,
kita dapat membangun ekosistem digital yang lebih aman, tangguh, dan
berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.”
Neneng pun menegaskan bahwa Grab Indonesia terus memperkuat
perlindungan data dan pencegahan penipuan digital melalui beberapa langkah.
“Mulai dari edukasi pengguna dan mitra terhadap praktik
keamanan daring, peningkatan sistem deteksi fraud berbasis AI, hingga kerjasama
strategis dengan regulator dan lembaga penegak hukum untuk memperkuat
perlindungan data serta mencegah kejahatan siber,” jelas Neneng.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan transaksi dan interaksi dalam platform tetap aman. Hal ini penting karena ancaman digital seperti akun dibajak, phising, dan penipuan di aplikasi transportasi atau dompet digital masih sering terjadi.
“Indonesia saat ini memiliki pasar digital terbesar di Asia Tenggara, dan kepemimpinan nasional telah membuat peta jalan pemanfaatan AI. Namun, kita harus memastikan penggunaan AI ini aman mulai dari desain,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa hal ini perlu inovasi, partisipasi,
mitigasi risiko, dan komitmen untuk AI yang bertanggung jawab.
Sebagai salah satu platform ride-hailing yang banyak
digunakan di Indonesia, Grab Indonesia pun menegaskan pentingnya kolaborasi
lintas sektor untuk menghadapi ancaman siber.
Gelaran GRACS IPSS 2025, ISACA Indonesia Chapter bersama
dengan Grab Indonesia dan Ovo ini diharapkan bisa memperkuat kolaborasi antara
pemerintah hingga masyarakat untuk mendukung ekosistem digital yang aman.