Grab Bantah Hengkang dari RI Imbas Aturan Potongan Ojol
Uzone.id — Grab
Indonesia menyanggah dengan tegas kabar yang menyebut kalau mereka akan
hengkang dari pasar Indonesia. Hal ini disampaikan langsung oleh Neneng
Goenadi, CEO Grab Indonesia dalam keterangan resminya.
“Grab menegaskan bahwa rumor mengenai rencana keluar dari
Indonesia adalah tidak benar,” kata Neneng dalam pernyataan tertulis yang
diterima Uzone.id, Kamis, (04/06).
Neneng juga menjelaskan bahwa Indonesia sendiri adalah
bagian dari ekosistem yang penting bagi perusahaan mereka.
“Kami telah hadir untuk Indonesia selama lebih dari 10 tahun dan kami berkomitmen untuk terus bertumbuh dan mengambil peran aktif dalam mendukung kehidupan masyarakat Indonesia,” tambahnya.
Tak sampai disitu, Neneng secara tak langsung menampik
alasan dibalik kabar mereka hengkang dari Indonesia.
Sebelumnya, tersiar kabar kalau penyebab mereka hendak
keluar dari Indonesia adalah karena kebijakan terbaru soal skema potongan tarif
ojek online 8 persen.
Dalam keterangan yang sama, Neneng mengatakan bahwa pihaknya
terus menghormati arahan dan kebijakan Pemerintah Indonesia dan berkomitmen
untuk terus berjalan selaras dengan agenda nasional dalam memperkuat ekonomi
digital kerakyatan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Grab akan terus berkolaborasi dengan pemerintah, mitra, dan seluruh pemangku kepentingan, karena bagi Grab, Indonesia bukan sekadar ekosistem, melainkan rumah tempat kami tumbuh bersama masyarakat,” tutur Neneng.
Selama beroperasi di Indonesia, Grab mengklaim bahwa
pihaknya telah memberikan kontribusi yang berdampak besar bagi jutaan
masyarakat Indonesia.
“Komitmen ini tercermin dari kontribusi Grab terhadap
sekitar 50 persen industri ride-hailing dan pengantaran online, dukungannya
dalam menciptakan 4,6 juta peluang kerja melalui digitalisasi UMKM, serta
program Grab untuk Indonesia senilai lebih dari Rp100 miliar bagi Mitra
Pengemudi,” ujarnya.
Rumor Grab Hengkang dari Indonesia
Kabar ini pertama kali muncul dari postingan akun @ecommurz
pada Rabu, (03/06) lalu, dimana Grab kabarnya sedang melakukan evaluasi dampak
finansial dari skema komisi 8 persen pada layanan ride-hailing mereka.
Menurut sumber dari akun tersebut, beberapa opsi yang
disebut antara lain menerapkan biaya tambahan yang cukup tinggi kepada konsumen
dan mitra, meskipun kebijakan tersebut dapat memicu penurunan permintaan.
Opsi lain dalam diskusi internal ini adalah pertimbangan
untuk mengurangi sebagian operasi hingga adanya potensi Grab keluar dari pasar
ride-hailing Indonesia, yang dinilai dapat memberikan dampak besar terhadap
perekonomian lokal.