Google Ikut Rayakan HUT RI ke-80 Lewat Animasi Doodle ‘Pacu Jalur’
Uzone.id — Gak cuma masyarakat
Indonesia aja nih yang ikut memeriahkan HUT RI ke-80, mesin pencarian Google
juga ikut merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia lewat animasi Doodle yang mejeng
di laman pencarian utama hari ini, Minggu, (17/08).
Untuk animasi Doodle edisi kali ini, Google mengambil
kebudayaan Indonesia yang lagi booming yaitu Pacu Jalur, lengkap dengan baju
adat masyarakat Indonesia.
“Doodle hari ini merayakan ulang tahun ke-80 Hari Kemerdekaan Indonesia dan menampilkan Pacu Jalur, sebuah festival balap perahu tradisional dari Riau,” tulis Google dalam laman resminya.
Menggaet seniman asal Bandung, Wastana Haikal, Google turut memperingati hari Presiden RI pertama, Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan RI sebagai ‘lonceng’ yang menandakan kemerdekaan Indonesia.
Diambilnya Pacu Jalur sebagai inspirasi dari Doodle kali ini tak lepas dari viralnya tren ‘aura farming’ di media sosial yang menampilkan seorang anak yang sering disebut ‘tukang tari’ yang menari dengan penuh ‘aura’ di haluan perahu untuk mengatur kecepatan tim.
Sementara itu, dalam postingan sang seniman, ternyata Doodle Pacu Jalur ini sudah pernah dipajang Google saat HUT RI ke-77 atau pada tahun 2022 lalu.
"Berkat gebrakan Pacu Jalur, Google Doodle tahun ini memberi penghormatan pada Google Doodle Hari Kemerdekaan Indonesia 2022 yang terinspirasi dari Pacu Jalur dari Riau," tulisnya.
Dalam animasi ini, terlihat 5 karakter animasi yang
masing-masingnya menggunakan baju adat dari berbagai daerah, satu diantaranya
berada di haluan perahu dan bertugas sebagai ‘tukang tari’.
Sejarah singkat Pacu Jalur
Perahu tradisional ini awalnya berasal dari Kuantan
Singingi, Riau, dan digunakan sebagai sarana transportasi, namun dari tahun ke
tahun perahu ini kemudian berkembang menjadi ajang perlombaan yang disebut Pacu
Jalur.
Perahu Jalur sendiri dibuat dari satu batang pohon, uniknya
perahu ini dibuat tanpa dipotong, dibelah, atau disambung sehingga membutuhkan
waktu yang cukup panjang dalam proses pembuatannya.
Tak hanya itu, pembuatannya
juga masih membutuhkan proses yang cukup sakral sebagai bentuk penghormatan
kepada roh pohon, dan ditandai dengan acara seremonial yang megah ketika
selesai.
Setiap perahu dapat memuat 50 hingga 60 awak yang mendayung
atau menjaga keseimbangan tim mereka. Di bagian depan ada juru mudi yang
mengarahkan dan ‘tukang tari’ yang berada di ujung perahu yang bertugas
mengatur ritme setiap dayung.