Google Drive Tambah Fitur AI untuk Deteksi Dokumen Berbahaya
Uzone.id — Ransomware saat ini
masih menjadi salah satu ancaman siber paling merusak bagi organisasi di
berbagai sektor. Serangan jenis ini bisa menyebabkan kerugian finansial besar,
penghentian operasional, hingga kebocoran data.
Data Mandiant yang merupakan bagian dari Google Cloud,
mencatat bahwa pada 2024 sekitar 21 persen dari seluruh insiden penyusupan
terkait dengan ransomware. Rata-rata kerugian dari insiden ini bahkan mencapai
lebih dari USD5 juta.
Salah satu yang rentan kena ransomware juga adalah file-file digital atau dokumen online yang banyak diakses secara publik, dan salah satu dampaknya adalah file-file yang corrupt atau tidak bisa dibuka.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Google Cloud pun resmi
meluncurkan fitur deteksi dan intervensi ransomware berbasis AI di Google Drive
for Desktop. Fitur ini pun sudah meluncur di Indonesia pada Rabu, (01/10).
“Apa yang kami luncurkan dan hadirkan hari ini adalah lapisan pertahanan yang benar-benar baru. Di satu sisi, solusi antivirus terus berupaya menghentikan ransomware agar tidak masuk, tetapi di sisi lain kami juga telah membangun perlindungan untuk menghentikan ransomware agar tidak efektif ketika berhasil menembus sistem,” kata Fanly Tanto, Country Director Indonesia, Google Cloud.
Nantinya, jika ada ransomware atau serangan mencurigakan,
fitur ini akan menghentikan sinkronisasi file secara otomatis dan memudahkan
pengguna memulihkan data hanya dengan beberapa klik.
Drive juga akan memberikan opsi untuk mengembalikan file ke
versi sebelum terinfeksi. Mekanisme ini memastikan file yang tersimpan di cloud
tetap aman dan tidak ikut terenkripsi.
Fitur baru ini juga bekerja dengan model AI eksklusif yang
dilatih menggunakan jutaan sampel ransomware dunia nyata.
AI akan
mendeteksi aktivitas mencurigakan, menghentikan penyebaran dengan otomatis, dan
memberi notifikasi kepada pengguna. Proses pemulihan file juga lebih sederhana,
tanpa perlu perangkat lunak tambahan.
Fitur proteksi ini berlaku untuk pengguna Google Workspace
yang menggunakan aplikasi Drive for desktop di Windows maupun macOS. Namun,
pengguna ChromeOS tidak terdampak karena sistem tersebut tidak rentan terhadap
ransomware.
Google merekomendasikan pengguna untuk memperbarui aplikasi ke Drive for desktop versi 114 atau lebih baru agar dapat menikmati antarmuka pemulihan yang optimal. Pada versi lama, proses sinkronisasi tetap bisa di pause saat deteksi terjadi, tetapi fitur pemulihan lebih terbatas.
Bagi tim TI, administrator tetap mendapat visibilitas penuh
melalui notifikasi di konsol Admin, serta dapat meninjau detail insiden lewat
pusat keamanan. Untuk mengaktifkannya bisa dilakukan dengan membuka fitur Admin
Console.
Setelah itu, buka Apps, Google Workspaces, Drive and Docs,
pastikan opsi Ransomware detection aktif (ON), lalu aktifkan Drive file
restoration.
Fitur ini tersedia dalam open beta mulai hari ini dan akan
disertakan tanpa biaya tambahan di sebagian besar paket Google Workspace.
“Secara keseluruhan, pertahanan baru ini akan membantu
melindungi bisnis, sekolah, rumah sakit, lembaga pemerintah, dan berbagai
organisasi lainnya dari gangguan serangan ransomware yang bisa sangat merusak,”
tambah Fanly Tanto.