Gencatan Senjata AS-Iran, Data Center AWS-Oracle Ikut Aman Sementara
Uzone.id — Presiden AS, Donald
Trump resmi mengumumkan gencatan senjata (ceasefire) dengan pemerintah Iran
selama kurang lebih 2 pekan. Kabar ini disampaikan dalam akun Truth Social
miliknya pada Selasa, (07/04).
Keputusan gencatan senjata diambil setelah pembicaraan
bersama dengan pemimpin Pakistan selaku moderator dan setelah Iran yang
akhirnya setuju untuk membuka Selat Hormuz.
“Berdasarkan pembicaraan dengan Perdana Menteri Shehbaz
Sharif dan Asim Munir dari Pakistan, serta atas permintaan menghentikan
kekuatan destruktif yang saat ini diarahkan ke Iran, dengan syarat Republik
Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman,
saya sepakat untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua
minggu,” kata Trump dalam pengumumannya.
Pengumuman ini pun kemudian dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Iran yaitu Abbas Araghchi yang menyebut bahwa kesepakatan sementara antara kedua belah pihak telah tercapai.
“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, angkatan bersenjata
kami juga akan menghentikan operasi pertahanannya,” ujarnya, dikutip dari Al
Jazeera.
Masyarakat Iran pun merespons keputusan Trump ini dengan
mendeklarasikan kemenangan perang di pihaknya.
Tak hanya masyarakat kedua belah pihak yang merayakan adanya
gencatan senjata ini, raksasa teknologi dunia seperti Oracle hingga AWS pun
sepertinya ikut bernapas lega mendengar kesepakatan tersebut.
Dengan adanya gencatan senjata ini, serangan terhadap
fasilitas-fasilitas mereka di Timur Tengah kemungkinan ikut terhenti meski
untuk sementara dan layanan-layanan cloud bisa terus beroperasi normal.
Bagaimana tidak, sepanjang konflik AS dan Iran,
infrastruktur milik raksasa teknologi seperti Google, AWS hingga Oracle ikut
menjadi sasaran rudal Iran.
Total ada 18 perusahaan yang menjadi target mereka, yaitu
Cisco, HP, Intel, Oracle, Microsoft, Apple, Google, Meta, IBM, Dell, Palantir,
Nvidia, JPMorgan, Tesla, GE, Spire Solutions, G42 hingga Boeing.
Perusahaan-perusahaan ini sebut sebagai target sah pembalasan karena dianggap terlibat dalam serangan terhadap Iran dan mendukung operasi militer yang dilakukan AS-Israel terhadap negara tersebut.
Dari 18 perusahaan ini, fasilitas AWS dan Oracle di Timur
Tengah sudah menjadi target empuk rudal Iran. Oracle disebut-sebut mengalami
beberapa kali serangan di sekitar fasilitas data center mereka, begitupun juga
dengan AWS yang beberapa kali dihantam rudal.
Akibatnya, hantaman misil tersebut membuat layanan-layanan
di sekitar Bahrain dan Uni Emirat Arab ikut terganggu dan bahkan down.
Layanan cloud milik Amazon Web Services (AWS) misalnya,
mereka dilaporkan menghadapi tekanan serius setelah pusat datanya terdampak
serangan drone Iran. Situasi ini menjadi pertama kalinya penyedia cloud besar
asal AS secara terbuka mengakui adanya ancaman militer langsung terhadap
infrastruktur fisiknya.
CEO AWS, Matt Garman, mengungkapkan bahwa tim perusahaan
saat ini bekerja tanpa henti untuk menjaga layanan tetap berjalan di tengah
eskalasi konflik.
“Tim kami sedang berusaha keras agar layanan tetap
tersedia,” ujar Garman.
Selama ini, penyedia cloud seperti AWS dikenal mampu
mengatasi berbagai gangguan, mulai dari bencana alam hingga pemadaman listrik.
Namun, serangan militer menghadirkan tantangan baru yang jauh lebih kompleks.