Gebrakan Jawara SIC 7: Hidupkan AI dalam Bentuk 'Fisik'
Mengusung semangat global "Together for Tomorrow! Enabling People", SIC yang sudah eksis di Indonesia sejak 2019 ini memang didesain untuk mendukung anak muda dengan skill yang paling dicari industri saat ini, seperti Coding & Programming, Internet of Things (IoT), sampai ke pemahaman Artificial Intelligence (AI).
Program Batch 7 yang sudah kick-off sejak 15 Juli 2025 ini mengajak pesertanya belajar komplit. Lalu, pada 18 Februari 2026, telah diumumkan para pemenang terbaik dari masing-masing kategori, yaitu tingkat SMA/SMK/MA serta S1/D4/D3.
Bukan cuma dikasih teori, para peserta ini juga dikasih sesi praktik, mentoring eksklusif, sampai bedah studi kasus dari tantangan nyata di dunia kerja. Intinya, mereka nggak cuma disuruh paham teknologi, tapi didorong buat jadi problem solver.
Kategori Best Team SMA/SMK: "Alex", si AI Fisik dari Pekanbaru
Predikat Best Team tingkat SMA/K berhasil diamankan oleh Tim Lumyx dari SMA Dharma Yudha Pekanbaru, Riau. Mereka datang membawa Alex, sebuah Personal AI Assistant berbasis IoT yang bertugas jadi teman belajar cerdas. Lumyx diisi oleh Davin Loana (Backend), Rivaldo Andrew (Wiring & Hardware), Fraderik (Creative & Design), dan Suyan Kiadi (Frontend & Design).
Dengan lihat alat ini, kita harus lupain soal AI konvensional yang cuma berbentuk chatbot di layar HP. Alex dikembangkan sebagai perangkat fisik (embodied AI) yang benar-benar "hadir" di ruangan pengguna.
Sistemnya dirancang super kompleks dengan memori berlapis, yang bikin Alex seolah jadi 'agen hidup'. Alat ini nggak cuma menunggu disuruh, tapi bisa dengerin, mengamati, mengingat kebiasaan pengguna, dan bertindak sesuai konteks. Rasanya kayak punya asisten di dunia nyata.
Kategori Best Team Perguruan Tinggi: "PhysioTrack" dari Salatiga
Sementara itu, dari tingkat S1/D4/D3, predikat Best Team diraih oleh Tim Outliers dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah. Kalau tim SMA fokus ke asisten belajar, tim ini fokus ke sektor kesehatan lewat PhysioTrack. Outliers dipunggawai oleh Gaezka Ardhika Putra (Leader), Adriel Fabian Suryoto (Full-Stack Developer), Benedictus Samuel (AI/ML Engineer), dan Bagus Satrio Wicaksono (Firmware Engineer).
PhysioTrack adalah alat bantu cerdas berbasis IoT dan AI yang dirancang untuk mempermudah rehabilitasi pasien pasca-stroke. Dengan alat ini, pasien bisa melakukan latihan terapi yang nyaman dari rumah.
Aplikasinya sengaja dibikin sangat ringan dan user-friendly, jadi tetap lancar walau diakses pakai smartphone dengan spesifikasi pas-pasan.
Kerennya lagi, proses ini nggak berjalan sepihak. Sang terapis tetap punya kendali penuh untuk menyusun program terapi, memantau jalannya latihan, sampai mengevaluasi progres pasien dari jarak jauh berdasarkan data akurat yang terekam di sistem.
Harapan Besar soal Teknologi di Indonesia
Ernita Pramono, Head of Corporate Citizenship PT Samsung Electronics Indonesia, memberikan PhysioTrackng menarik soal ajang ini. Menurutnya, teknologi hari ini sudah naik level, bukan lagi sebatas alat, tapi kunci pembuka peluang untuk menyelesaikan masalah di dunia nyata.
"Melalui program Samsung Innovation Campus, bangsa Indonesia dibangun bukan hanya untuk menguasai teknologi, tetapi juga untuk mereka yang berani berpikir dan berkolaborasi agar bisa menciptakan perubahan yang nyata," ujar Ernita.
Hal senada juga ditegaskan oleh Bano Pribadi, yang menggarisbawahi bahwa pada akhirnya, sehebat apapun sebuah teknologi, yang paling penting adalah impact atau dampak positifnya terhadap masyarakat luas.
“Pada akhirnya, sehebat apa pun sebuah teknologi dikembangkan, yang paling penting adalah impact atau dampak positifnya terhadap masyarakat luas," ungkap Bano.
Lewat karya-karya revolusioner ini, terbukti kalau talenta muda Indonesia nggak cuma sekadar melek digital, tapi juga punya empati tinggi buat memecahkan masalah nyata di sekitarnya. Sekali lagi, selamat untuk para Jawara Samsung Innovation Campus Batch 7: Alex & PhysioTrack!