Geber Jaecoo J7 SHS di Rute Berliku, 68 Km Murni Pakai Listrik
Uzone.id - Kelebihan utama dari mobil plug-in hybrid (PHEV) seperti Jaecoo J7 SHS adalah kemampuannya untuk berjalan menggunakan tenaga listrik, layaknya mobil listrik. Hal inilah yang bikin saya penasaran saat mudik Bogor-Sukabumi menggunakan Jaecoo J7 SHS.
Mumpung arus balik, tak ada salahnya juga untuk menguji seberapa jauh Jaecoo J7 SHS bisa melaju hanya dengan mengandalkan mode EV. Tapi pengujiannya sengaja dibuat menantang, yakni melalui rute Sukabumi, Cianjur, dan Cipanas, yang berliku dan naik-turun.
Perjalanan dimulai dengan kondisi baterai terisi penuh seratus persen. Mode berkendara langsung disetel ke mode Eco dengan penggerak murni EV. Hasilnya, SUV ini sukses menempuh jarak sejauh 68 kilometer tanpa membakar setetes pun bensin.
Jarak tempuh tersebut dicapai ketika indikator kapasitas baterai menyentuh angka 25 persen. Pada titik batas tersebut, sistem mobil secara otomatis langsung mengalihkan penggerak ke mode HEV (Hybrid Electric Vehicle).
Yang bikin saya kagum, Jaecoo J7 SHS sama sekali tidak ngos-ngosan saat melibat jalur Cianjur-Cipanas yang banyak nanjaknya. Mobil masih terasa sangat responsif dan bertenaga, walau mengaktifkan mode Eco.
Mobil ini memang punya motor listrik dengan spesifikasi yang nggak main-main. Motor listriknya sanggup memuntahkan torsi sebesar 310 Nm dengan tenaga mencapai 150 kW atau setara 201 HP. Tarikan instan khas mobil listrik ini yang membuat tanjakan panjang nan berliku, apalagi dipakai menyusul, terasa begitu enteng.
Salah satu fitur menariknya adalah regenerative braking. Jadi, sepanjang perbatasan Sukabumi-Cianjur, rutenya didominasi oleh turunan panjang.
Nah, sistem ini bekerja secara maksimal—selain menahan laju mobil, juga sekaligus menyuplai kembali daya listrik ke baterai. Inilah yang membuat daya listrik dari baterai berkapasitas 18,3 kWh bisa dijaga sehemat mungkin.
Tetap hemat dan ngegas di mode HEV
Kebetulan, saat sisa baterai menyentuh 25 persen dan mobil otomatis beralih ke mode HEV, kondisi jalan sedang macet-macetnya. Sistem transmisi pintar DHT (dedicated hybrid transmission) mampu bekerja dengan sangat mulus untuk mengatur transisi tenaga, di mana mesin Jaecoo J7 SHS tidak langsung meraung, melainkan mengambil alih peran secara halus.
Sebagai informasi, Jaecoo J7 SHS dibekali mesin bensin 1.5 liter yang didukung teknologi TGDI atau Turbocharged Gasoline Direct Injection. Mesin pembakaran internal ini berpadu dengan motor listrik, menghasilkan total tenaga gabungan yang amat buas mencapai 347 HP dan torsi puncak 525 Nm.
Walau baterainya 25 persen saja, tapi saat terjebak macet stop-and-go di jalur Cipanas-Puncak, sistem DHT secara pintar memastikan mesin bensin tidak membuang bahan bakar percuma. Sistem ini mengatur kapan mesin memutar roda, dan kapan bertindak sebagai generator untuk menyuplai daya ke motor listrik, membuat konsumsi bahan bakar tetap irit.
Bisa dicas layaknya mobil listrik
Namanya juga mobil PHEV, Jaecoo J7 SHS bisa juga dicas layaknya mobil listrik murni. Buat saya, inilah kelebihan pentingnya selama dipakai mudik. Tak usah khawatir dengan ketersediaan SPKLU yang masih sangat terbatas, karena mobil ini bisa diisi bensin, bisa juga dicas.
Soal pengecasan, Jaecoo J7 SHS sendiri sudah mendukung fitur pengisian daya cepat DC untuk mengisi baterai 18,3 kWh-nya.
Sayang, karena SPKLU di Sukabumi tidak banyak, saya pun harus pasrah menggunakan soket Type 2 untuk pengisian AC dengan daya maksimal 7 kW saja. Butuh waktu lebih dari 2 jam untuk mengisi penuh baterainya, normal lah karena bisa disambi untuk beristirahat sejenak cari makan, sambil meluruskan kaki.
Kesimpulannya, jangkauan murni listrik 68 km di jalanan yang kebanyakan menanjak, ditambah performa mode HEV yang juga efisien, membuat perjalanan jauh antarkota jadi lebih tenang tanpa cemas kehabisan daya di tengah jalan.