Games

Game Lokal Tak Cuma Jago Kandang, Ini Deretan Buktinya

Muhammad Faisal Hadi Putra •
Game Lokal Tak Cuma Jago Kandang, Ini Deretan Buktinya

Highlight Artikel

  • Direktur Game Kemenparekraf, Luat Sihombing, menyoroti kesuksesan game lokal Indonesia di pasar global dalam diskusi peluncuran white paper Tencent.
  • Bus Simulator Indonesia (BUSSID) buatan Maleo berhasil menembus pasar global dengan mengusung konten sangat lokal, termasuk klakson "Om Telolet Om", dan diunduh lebih dari 100 juta kali.
  • Coral Island dari Stairway Games sukses mengumpulkan lebih dari USD1,6 juta melalui Kickstarter, terjual lebih dari satu juta kopi, dan menghasilkan pendapatan melampaui USD25 juta.
  • Running Train, game simulasi kereta buatan solo developer Novatetsu Games, berhasil menargetkan ceruk pasar penggemar kereta di Jepang dan mendapatkan respons positif.

Uzone.id - Direktur Game dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Luat Sihombing, kasih beberapa contoh judul game buatan studio lokal yang berhasil menembus pasar global. Hal ini ia ungkap dalam sesi diskusi pada peluncuran white paper bertajuk ‘The Video Game Industry: Unlocking the Next Level of Economic and Social Development in Southeast Asia’ oleh Tencent dan Access Partnership.

Dalam salah satu agenda di World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 tersebut, Luat menjawab pertanyaan dari moderator Fedina Sundaryani, Country Director Indonesia ,Asia Group Advisors, mengenai kisah sukses industri game lokal di kancah global.

“Indonesia memiliki salah satu komunitas game terbesar dan paling antusias di kawasan ini. Apakah ada kisah sukses lokal—baik itu berupa studio, game, maupun acara—yang membuat Anda merasa sangat optimistis terhadap masa depan industri ini?” tanya sang moderator.

Luat kemudian menyebut Bus Simulator Indonesia, Coral Island, Running Train, hingga Acts of Blood, sebagai bukti bahwa studio game lokal bisa menjangkau pemain dari luar negeri dengan pendekatan yang berbeda-beda.

Direktur Game dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Luat Sihombing
Direktur Game dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Luat Sihombing

Bus Simulator Indonesia atau BUSSID buatan Maleo misalnya. Luat mengatakan, game ini mengusung konten yang sangat lokal, mulai dari kendaraan, suasana kota, livery busnya, sampai klakson khas ‘Om Telolet Om’.

Menurutnya, identitas lokal tersebut menjadi ciri khas Bus Simulator Indonesia. Game ini berhasil membangun basis pemain loyal di Indonesia, sebelum akhirnya menarik perhatian pemain dari negara lain.

“Bus Simulator memiliki konten yang sangat lokal dan pasar yang spesifik. Mekanik serta kontennya membuat game ini memiliki pengguna yang sangat loyal di Indonesia,” ujar Luat dalam WCCE 2026 di Jakarta.

“Berawal dari konten lokal untuk pasar lokal, mereka terus membangun ekosistem dan mendapatkan perhatian pengguna. Kemudian gaungnya sampai ke kawasan lain dan menarik pengguna dari India,” lanjutnya.

Sejak pertama kali rilis pada 2017 silam, Bus Simulator Indonesia sudah diunduh lebih dari 100 juta kali di Google Play Store. Malah, game ini juga memiliki basis penggemar yang lumayan besar di media sosial, termasuk komunitas yang rajin membuat mod serta livery bus-bus di Indonesia.

Dari Coral Island ke Acts of Blood


Selain Bus Simulator Indonesia, Luat turut menyoroti Coral Island buatan Stairway Games. Berbeda dari kebanyakan studio yang mencari pendanaan melalui publisher atau investor, Stairway Games memilih mengembangkan Coral Island melalui pendanaan dari komunitas di Kickstarter.

Awalnya, mereka hanya menargetkan pendanaan sebesar USD70.000. Namun, kampanye tersebut berhasil mengumpulkan USD1,63 juta dari 36.374 pendukung di Kickstarter.

“Coral Island memilih tidak mengikuti jalur pendanaan yang umum dari publisher maupun investor. Mereka memulainya dari Kickstarter dengan target sekitar USD70.000, tapi bisa mendapatkan lebih dari USD1,6 juta,” jelas Luat.

Setelah diluncurkan, Coral Island terus memperbarui kontennya untuk menjaga basis pemain. Berdasarkan laporan Access Partnership, game tersebut telah terjual lebih dari satu juta kopi dengan pendapatan melampaui USD25 juta atau lebih dari Rp451 miliar.


Nama game lainnya yang disebut Luat adalah Running Train, game simulasi kereta buatan Novatetsu Games. Game tersebut dikembangkan oleh seorang solo developer Indonesia, tetapi justru mengincar ceruk pasar penggemar kereta di Jepang.

Running Train menawarkan pengalaman menjadi masinis yang mengoperasikan kereta di jalur pedesaan Jepang sepanjang lebih dari 40 kilometer. Sejak dirilis di Steam pada Mei 2026, game ini mendapatkan respons sangat positif dari para pemain.

“Running Train dibuat oleh solo developer dan memiliki pasar yang sangat spesifik di Jepang. Dari audiens Jepang, game ini kemudian menjangkau audiens global dan angkanya juga cukup bagus di Steam,” tutur Luat.


Luat juga menyebut Acts of Blood dari Eksil Team asal Bandung. Game bergenre beat ’em up ini mengandalkan pertarungan tangan kosong yang cepat dan brutal, dengan latar kota fiktif Bandapa yang terinspirasi dari Indonesia.

Acts of Blood memang belum dirilis—dijadwalkan meluncur pada Desember 2026. Tapi, game ini sudah diarahkan untuk pasar global dengan dukungan berbagai bahasa, termasuk Inggris, Jepang, Korea, Prancis, Jerman, Spanyol, Rusia, dan Mandarin.

“Ini menunjukkan bagaimana developer Indonesia terus menjaga relevansi dan tumbuh bersama ekosistem. Mereka berusaha menjangkau pasar global dengan pendekatan produk yang berbeda-beda, dari konten lokal sampai konten global, tapi tetap memasukkan budaya lokal ke dalam game,” pungkas Luat.

FAQ Artikel

Siapa yang mengungkapkan kisah sukses game lokal Indonesia di pasar global?

Direktur Game dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Luat Sihombing, mengungkapkan kisah sukses ini dalam sesi diskusi peluncuran white paper Tencent.

Game lokal apa saja yang disebut Luat Sihombing berhasil menembus pasar global?

Luat Sihombing menyebut Bus Simulator Indonesia (BUSSID), Coral Island, Running Train, dan Acts of Blood sebagai contoh game lokal yang sukses di pasar global.

Bagaimana Bus Simulator Indonesia bisa sukses menjangkau pasar global?

Dengan mengusung konten yang sangat lokal seperti kendaraan, suasana kota, livery, hingga klakson "Om Telolet Om", game ini berhasil membangun basis pemain loyal di Indonesia sebelum menarik perhatian pemain dari negara lain seperti India.

Apa yang unik dari pendanaan game Coral Island?

Coral Island memilih jalur pendanaan dari komunitas melalui Kickstarter, berhasil mengumpulkan lebih dari USD1,6 juta dari target awal USD70.000, bukan melalui publisher atau investor umum.