Automotive

Gaikindo Ingatkan Risiko Jangka Panjang Perang Harga Mobil

Brian Priambudi
Gaikindo Ingatkan Risiko Jangka Panjang Perang Harga Mobil

Uzone.id - Belakangan ini, produsen mobil asal China kerap menawarkan harga-harga produk yang kompetitif. Hal ini tentu menguntungkan konsumen, namun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengingatkan dampak risiko dalam jangka panjang.

Pemain-pemain baru dari China memang banyak menawarkan mobil dengan harga yang sangat murah, terutama di segmen mobil listrik.

Kukuh Kumara selaku Sekretaris Umum Gaikindo mengutarakan pandangannya terhadap fenomena ini yang sedang terjadi di Indonesia.



Menurutnya industri otomotif adalah sektor strategis yang memiliki dampak penting ke ekonomi nasional.

"Ini adalah industri yang sangat strategis dan penting sekali. Kita tidak ingin ini jadi medan perang harga. Harusnya bisa menjadi lahan untuk basis produksi industri kendaraan bermotor di kawasan ASEAN," ujar Kukuh di GIIAS 2025.

Kukuh mengakui, banyak pemain baru dari China memberikan dinamika baru di industri otomotif Indonesia.





Di satu sisi, harga yang bersaing tentu menguntungkan konsumen jika melihat fenomena ini dalam jangka pendek saja. Di sisi lain, menurut Kukuh perang harga ini berpotensi mengganggu stabilitas industri dalam jangka panjang.

"Sekarang kita mengalami tahapan berikutnya lagi, kita harus berubah. Kita menghadapi hal baru dengan masuknya kendaraan baru dari Tiongkok, harganya juga kompetitif," ungkapnya.

Kukuh juga menerangkan, perang harga bukan satu-satunya yang sedang dihadapi industri otomotif saat ini.



Dirinya menyampaikan belakangan ini, daya beli produk mobil sedang mengalami penurunan. Menurutnya hal ini dikarenakan naiknya harga mobil tidak sebanding dengan pendapatan konsumen.

Kajian menunjukkan, kelas menengah yang jumlah 10-11 juta itu, income-nya naiknya 3 persen 1 tahun. Namun, harga mobil yang menjadi incaran utama kelas menengah tadi, naiknya 7,5 persen. Jadi gap-nya makin lama makin besar. Itu yang harus diantisipasi," sebut Kukuh.

Kukuh menambahkan, jika penjualan mobil di Indonesia terus turun juga akan berbahaya bagi ekosistem industri otomotif nasional.