Efek BBM Etanol 10 Persen: Mobil Listrik Makin Dilirik?
Uzone.id - Pemerintah menargetkan kandungan etanol sebanyak 10 persen pada BBM di tahun 2026 nanti. Apakah ini salah satu langkah agar masyarakat beralih ke mobil listrik?
Yannes Martinus Pasaribu selaku Pakar Industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menilai penerapan BBM etanol 10 persen tidak mempengaruhi penjualan kendaraan listrik.
"Sebenarnya, bioetanol dan EV tidak bersaing untuk segmen pengguna yang ada saat ini, meski sama-sama mengedepankan ramah lingkungan," ujar Yannes seperti dikutip dari Antara.
Menurutnya saat ini masyarakat Indonesia masih belum begitu peduli pada isu ramah lingkungan. Sehingga dengan adanya kebijakan etanol 10 persen justru tak membuat masyarakat beralih ke mobil listrik.
Menurutnya, mobil bekas dengan tahun muda justru menjadi alternatif karena masih kompatibel dengan bahan bakar E10.
"Segmen ini, yang dipaksa secara finansial tidak mampu membeli EV baru yang mahal dan secara praktis terhalang oleh minimnya infrastruktur di luar kota besar. Sehingga, solusi paling rasional bagi mereka adalah lari ke pasar mobil bekas ICE yang lebih muda dan sudah kompatibel dengan bioetanol E10," jelasnya.
Perlu diketahui, sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mewajibkan BBM dengan kandungan etanol 10 persen alias E10 di 2026.
Bahkan Bahlil mengaku Presiden Prabowo sudah meneyetujui mandatori campuran etanol 10 persen untuk BBM.
Alasan kebijakan ini diterapkan adalah untuk mengurangi emisi karbon serta ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.
Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, Profesor Tri Yuswidjajanto mengatakan memang terdapat kekhawatiran mengenai etanol yang bisa merusak mesin. Menurutnya ini tidak berdasar, karena hanya berpengaruh terhadap tenaga mesin yang kecil sekali.
"Pengaruhnya terhadap tenaga mesin cuma sekitar 1 persen, tidak terasa, dan kendaraan tidak rusak," ungkapnya.