Dua Minggu Bersama Galaxy Buds Core: Ringkas, Cerdas dan Praktis
Uzone.id - Selama dua minggu penuh menggunakan Samsung Galaxy Buds Core, saya menemukan bahwa TWS ini menawarkan pengalaman yang cukup solid untuk gaya hidup aktif, tanpa harus mengeluarkan kocek yang dalam.
Meski posisinya sebagai TWS terjangkau di lini Samsung, Buds Core terasa matang dalam hal kenyamanan, suara, dan daya tahan baterai, terutama untuk pengguna yang banyak berpindah tempat.
Desain dan Kenyamanan
Galaxy Buds Core hadir dengan desain in-ear klasik khas seri Galaxy Buds, tapi kini dibekali wingtip kecil di ujung silikon yang membantu menjaga kestabilan saat bergerak.
Bobotnya hanya sekitar 5 gram per earbud, membuatnya sangat ringan dan nyaris tidak terasa di telinga.
Dalam keseharian, saya memakainya berjam-jam, dari pagi sampai sore, baik saat bekerja, di jalan, maupun berolahraga, tanpa rasa nyeri di telinga.
Wingtip ini benar-benar efektif menjaga posisi earbud tetap aman bahkan ketika saya jogging atau berjalan cepat.
Material bodinya solid, dengan sertifikasi IP54, artinya tahan terhadap debu dan cipratan air ringan. Jadi, saya tak khawatir saat memakainya di tengah gerimis atau saat keringatan di gym. Case-nya kecil dan ringan, mudah dibawa di saku, meski permukaan glossy-nya mudah tertempel sidik jari.
Kualitas Suara dan ANC
Untuk ukuran TWS dengan harga di bawah satu juta rupiah, saya harus akui kualitas suara Galaxy Buds Core berada di atas ekspektasi.
Setelah dua minggu penuh pemakaian, baik di rumah, kantor, hingga dalam perjalanan, karakter audio-nya terasa matang, tidak sekadar “cukup bagus untuk harganya”, tapi benar-benar menyenangkan didengar untuk waktu lama.
Samsung tampaknya memilih tuning yang aman namun efektif: vokal terdengar sangat jernih dan menonjol, terutama pada musik pop atau akustik. Lagu seperti “Lover” milik Taylor Swift atau “Yellow” dari Coldplay terdengar hangat, intim, dan tidak pecah di volume tinggi.
Di sisi lain, bass-nya punya hentakan yang pas — tidak terlalu dalam seperti seri Pro, tapi cukup padat untuk genre R&B dan EDM. Saya sempat memutar “Blinding Lights” milik The Weeknd, dan dentuman beat-nya masih terasa “berisi” meski detail instrumen di area mid tetap terjaga.
Di bagian treble, Buds Core tidak mencoba tampil terlalu terang. Nada tinggi seperti cymbal atau hi-hat terdengar lembut dan tidak menusuk telinga. Ini bisa jadi nilai plus bagi mereka yang mendengarkan musik dalam durasi panjang, karena tidak menimbulkan kelelahan audio (ear fatigue).
Secara keseluruhan, karakter suaranya cenderung seimbang dan mudah diterima semua telinga, bukan tipe earbud yang menonjolkan satu frekuensi saja.
Saya juga mencoba mendengarkan podcast dan video YouTube dalam perjalanan. Di sini, kejernihan suara manusia benar-benar terasa.
Tonalitas midrange yang stabil membuat suara pembicara terdengar natural, seolah-olah berada dekat dengan kita. Hal ini penting, karena banyak TWS murah gagal menjaga kejelasan suara manusia ketika ada musik latar atau efek suara di belakangnya.
Active Noise Cancelling (ANC)
Sekarang soal ANC-nya, inilah bagian yang paling mengejutkan. Fitur Active Noise Cancelling di Galaxy Buds Core terasa “bekerja sungguh-sungguh”, bukan sekadar gimmick. Dalam penggunaan saya selama dua minggu, saya sengaja membandingkan pengalaman memakai Buds Core di tiga situasi berbeda:
1. Di dalam LRT Jabodetabek,
2. Di dalam kafe yang ramai,
3. Dan saat bekerja di rumah dekat jendela yang menghadap jalan besar.
Hasilnya cukup konsisten. Saat berada di KRL, suara gesekan rel dan deru mesin berkurang sekitar 60 persen sampai dengan 70 persen, membuat saya bisa mendengarkan musik tanpa harus menaikkan volume terlalu tinggi.
ANC-nya bekerja paling efektif untuk meredam frekuensi rendah, seperti suara kendaraan, AC, atau kerumunan jauh, tapi tidak sepenuhnya menghilangkan suara manusia di dekat kita.
Artinya, ia cerdas menekan gangguan tapi tetap menjaga kesadaran lingkungan.
Di dalam kafe, efek ANC terasa seperti “gelembung sunyi”. Suara denting gelas dan percakapan sekitar jadi jauh lebih lembut, cukup untuk membuat saya bisa fokus mengetik artikel tanpa terdistraksi.
Namun, ketika seseorang berbicara langsung di hadapan saya, suaranya masih bisa terdengar samar — hal yang menurut saya justru positif, karena tidak membuat telinga terasa “tertutup penuh” seperti pada TWS mahal yang terlalu agresif.
Untuk penggunaan di rumah, ANC membantu mengurangi suara lalu lintas dan bising dari luar jendela. Rasanya seperti mematikan satu lapisan kebisingan tanpa kehilangan detail audio. Bahkan ketika saya memutar musik volume rendah, saya tetap bisa menikmati kedalaman suara tanpa terganggu latar belakang bising.
Ambient Sound & Mode Pintar
Selain ANC, Galaxy Buds Core juga punya fitur Ambient Sound atau mode transparansi. Selama dua minggu, saya sering menggunakan mode ini saat beraktivitas di luar ruangan.
Misalnya, ketika sedang berjalan di trotoar atau di dalam supermarket, fitur ini memungkinkan suara sekitar terdengar alami tanpa perlu melepas earbud. Tidak ada delay atau distorsi suara lingkungan — transisi dari ANC ke Ambient terasa cepat dan halus.
Menariknya, mode ini juga berguna saat berbicara dengan orang lain. Begitu fitur ini aktif, saya bisa langsung mendengar lawan bicara tanpa menekan tombol apa pun di ponsel. Transisi semacam ini terasa “smart”, karena mendukung mobilitas tinggi tanpa banyak interaksi manual.
Kualitas Mikrofon dan Panggilan Suara
Untuk urusan panggilan telepon dan meeting online, Galaxy Buds Core cukup bisa diandalkan berkat tiga mikrofon yang tertanam di tiap earbud — dua eksternal dan satu internal. Saat berada di ruangan tenang, suara saya terdengar jernih, bulat, dan stabil, bahkan untuk panggilan video di Google Meet atau Zoom.
Namun, kualitas mikrofon mulai menurun ketika berada di lingkungan ramai. Saat saya menerima telepon di pinggir jalan, beberapa kali lawan bicara mengatakan suara saya terdengar agak “bergaung” dan kadang disertai noise halus.
Ini karena sistem AI noise reduction-nya tidak seagresif model premium seperti Buds2 Pro. Meski begitu, untuk pengguna umum, performa ini masih tergolong sangat layak.
Dalam situasi normal seperti di kantor atau ruangan tertutup, Buds Core mampu menjaga suara tetap fokus pada pembicara tanpa banyak gangguan. Bahkan ketika saya sedikit menggerakkan kepala atau berbicara sambil berjalan, transmisi suara tetap stabil tanpa delay yang berarti.
Kualitas Audio
Dari dua minggu pemakaian intensif, saya menyimpulkan Galaxy Buds Core punya kualitas suara dan peredaman bising yang melebihi ekspektasi di kelasnya. Ia bukan earbud dengan profil suara paling detail, tapi justru unggul karena easy listening: ringan di telinga, halus di telinga, dan stabil di berbagai genre musik.
ANC-nya tidak sempurna, tapi cukup matang untuk perjalanan harian, efektif untuk menenangkan kebisingan kota, tanpa mengorbankan kenyamanan. Mikrofon-nya pun mampu memberikan kualitas komunikasi yang cukup jelas untuk kebutuhan kerja dan sosial.
Secara keseluruhan, kombinasi suara seimbang, ANC efektif, dan fitur Ambient yang responsif membuat Galaxy Buds Core terasa seperti TWS harian yang siap dipakai di mana pun, kapan pun.
Konektivitas dan Integrasi
Galaxy Buds Core menggunakan Bluetooth 5.3, yang membuat koneksinya cepat dan stabil. Pairing pertama kali ke ponsel Android terasa instan, terutama di perangkat Samsung yang langsung memunculkan pop-up koneksi otomatis.
Fitur Auto Switch juga sangat membantu — audio bisa berpindah otomatis dari ponsel ke tablet Samsung tanpa perlu memutus koneksi manual. Sayangnya, Buds Core belum mendukung multipoint sejati, jadi tidak bisa aktif di dua perangkat sekaligus di luar ekosistem Samsung.
Untuk pengguna iPhone, Buds Core tetap bisa dipakai sebagai earbud Bluetooth biasa, namun fitur lanjutan seperti pengaturan equalizer, ANC, dan kontrol sentuh tidak dapat diakses karena tidak ada aplikasi Galaxy Wearable di iOS. Jadi, performa terbaiknya memang terasa jika digunakan dengan ponsel Android.
Daya Tahan Baterai
Samsung mengklaim Buds Core mampu bertahan hingga 35 jam pemakaian total (termasuk case, dengan ANC nonaktif). Dalam praktiknya, saya mendapatkan sekitar 5–6 jam penggunaan aktif dengan ANC menyala dan volume sedang, hasil yang sesuai dengan ekspektasi.
Charging case-nya bisa mengisi ulang hingga tiga kali, dan pengisian ulang melalui port USB-C hanya memakan waktu sekitar satu jam lebih sedikit. Tidak ada fitur wireless charging, tapi untuk harga dan segmen ini, hal itu masih bisa dimaklumi.
Kesimpulan: TWS yang “Pas” untuk Mobilitas
Setelah dua minggu pemakaian penuh, saya bisa bilang Galaxy Buds Core adalah TWS yang tepat untuk pengguna aktif yang menginginkan keseimbangan antara harga, kenyamanan, dan performa.
Ia tidak berusaha jadi yang paling canggih, tapi justru unggul karena “pas di semua sisi”: ringan, enak dipakai lama, suaranya bagus untuk hiburan, dan ANC-nya cukup membantu saat di luar ruangan. Untuk commuting, kerja remote, atau olahraga ringan, Buds Core menjawab semua kebutuhan dasar dengan baik.
Kalau kamu pengguna Android yang sering berpindah tempat dan mencari TWS simpel tapi fungsional, Galaxy Buds Core layak dipertimbangkan sebagai pendamping harian.