Automotive

Dollar Meroket, BYD Gak Minat Naikin Harga Mobil?

Brian Priambudi
Dollar Meroket, BYD Gak Minat Naikin Harga Mobil?

Uzone.id - Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dollar semakin melemah dalam beberapa hari terakhir ini. Tentu kondisi ini berpengaruh, termasuk pada industri otomotif seperti BYD.

Meski kondisi nilai tukar rupiah sedang melemah terhadap dolar, BYD Motors Indonesia mengaku belum berencana menaikkan harga jual mobil mereka di Indonesia.

Luther T Panjaitan selaku Head of Public Relation and Government PT BYD Motors Indonesia mengatakan pihaknya sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan sebelum memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia.




"Kita telah memikirkan kondisi-kondisi ini melalui comprehensive study dan sempai saat ini kami masih tetap positif dan confidence dengan strategi yang kami miliki, baik secara produk, harga, juga promosi-promosi yang kami akan lakukan," ujar Luther di Jakarta, Senin (18/5).

Meskipun cukup percaya diri, Luther mengaku tidak menutup kemungkinan perusahaan akan menaikkan harga kendaraan di masa mendatang jika kondisinya tidak membaik.





"Kalau ditanya potensi mungkin saja, tapi saat ini tidak dalam strategi jangka pendek kami," jelasnya.

BYD memang masih melakukan impor secara utuh terhadap produk-produk mobilnya yang dijual di Indonesia. Strategi ini dilakukan secara paralel dengan pembangunan pabrik di Indonesia.

Kondisi tersebut tentu sangat sensitif terhadap melemahnya rupiah terhadap dolar. Berbeda dengan pabrikan otomotif yang sudah memiliki pabrik atau memproduksi produknya di dalam negeri serta TKDN yang tinggi.




Seperti diketahui, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencapai level Rp17.732. Kondisi ini merupakan refleksi dari tekanan ekonomi global yang meningkat.

Faktor utamanya dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menarik modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang.

Bagi industri otomotif, khususnya yang bergantung pada impor komponen, melemahnya rupiah secara langsung meningkatkan biaya produksi. Hal ini menciptakan tantangan ganda, seperti menjaga daya saing harga di tengah pasar yang sensitif sambil menanggung beban operasional yang lebih tinggi.