Dollar Makin Tinggi, Harga Jual Mobil VinFast Bisa Naik
Uzone.id - Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar saat ini, belum membuat VinFast berencana untuk menaikkan harga jual mobilnya. Namun pabrikan Vietnam tersebut tak menutup kemungkinan menaikkan harga mobil jika kondisinya tak kunjung membaik.
Kariyanto Hardjosoemarto selaku CEO VinFast Indonesia mengatakan jika keadaan ekonomi semakin mendesak tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan harga.
Saat ini VinFast masih memantau perkembangan volatilitas dan dampaknya terhadap rantai pasok hingga biaya produksi.
"Tentu itu sebagai fenomena global yang terus kami cermati. Dan tentu kalau harga bahan bakunya meningkat harus dilakukan penyesuaian harga, tapi status per hari ini kami belum akan melakukan penyesuaian harga terlebih dahulu, kami masih memantau seberapa besar volatilitas nilai tukar baik rupiah, USD, dong, dan sebagainya," ujar Kariyanto, di Jakarta (20/5).
Kariyanto mengatakan saat ini VinFast masih menghitung berbagai aspek sebelum mengambil keputusan akhir pada kenaikan harga mobil listriknya.
Meskipun saat ini VinFast sudah merakit mobil listriknya secara lokal, namun masih terdapat beberapa komponen yang masih harus diimpor ke Indonesia.
"Karena memang banyak aspek, misalnya kita impor dari Vietnam, bahan baku, dan lain sebagainya, kita masih mencermati," sebut Kariyanto.
VinFast menegaskan tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Sebab perubahan harga berdampak luas pada rantai bisnis, termasuk pemasok, dan pihak lain yang terlibat dalam operasional perusahaan.
"Karena begitu kita melakukan penyesuaian harga, itu banyak efek turunannya, ke supplier, dan berbagai pihak yang terlibat, sehingga kami tidak ingin melakukan keputusan yang terburu-buru sehingga kita masih memantau terlebih dahulu," ungkap Kariyanto.
Sebelumnya diberitakan, beberapa pabrikan otomotif lainnya juga mengungkapkan hal yang serupa seperti Toyota, Chery, hingga BYD.
Seperti diketahui, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat mencapai level Rp17.676 per hari ini, Kamis (21/5). Kondisi ini merupakan refleksi dari tekanan ekonomi global yang meningkat.
Faktor utamanya dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menarik modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang.
Bagi industri otomotif, khususnya yang bergantung pada impor komponen, melemahnya rupiah secara langsung meningkatkan biaya produksi. Hal ini menciptakan tantangan ganda, seperti menjaga daya saing harga di tengah pasar yang sensitif sambil menanggung beban operasional yang lebih tinggi.