Automotive

Dolar Naik Ugal-Ugalan, Harga Mobil Toyota di Indonesia Bakal Naik?

Brian Priambudi
Dolar Naik Ugal-Ugalan, Harga Mobil Toyota di Indonesia Bakal Naik?

Uzone.id - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp17.500, ini jelas memicu kekhawatiran di banyak sektor, termasuk dunia otomotif nasional. Pertanyaan besarnya, apakah lonjakan dolar ini bakal otomatis bikin harga mobil meroket?

Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM), Bansar Maduma, memberikan kepastian kalau mereka sedang mati-matian menjaga harga mobil tetap stabil. Mereka sadar banget kalau rupiah melemah, dampaknya ke industri itu besar.

Tapi di sisi lain, Bansar bilang kalau Toyota nggak mau semua kenaikan biaya produksi ini langsung ‘dibebani ke kantong konsumen.

“Di kondisi saat ini, seperti diketahui bahwa dolar sudah sangat tinggi. Namun yang pasti kami selalu monitor. Kami tidak mau bahwa ini semua dibebankan oleh customer, jadi kita terus monitor,” ujar Bansar kepada awak media baru-baru ini.



Pernyataan ini jelas jadi sinyal kuat bahwa Toyota Indonesia masih tarik ulur dan nggak mau gegabah dalam menaikkan harga jual kendaraannya.

Meskipun mobil Toyota punya Tingkat Kandungan Lokal (TKDN) yang lumayan tinggi, industri otomotif kita itu masih butuh banyak banget komponen impor, bahan baku, sampai teknologi dari luar negeri.

Jadi, begitu dolar menguat, biaya impor komponen ini otomatis membengkak yang berujung pada biaya produksi mobil ikut terpengaruh secara keseluruhan.

Bahkan pabrikan yang sudah punya fasilitas lokal pun tetap kena imbasnya, karena memang rantai pasok industri otomotif itu sifatnya global.





Menghadapi tekanan kurs dolar yang ‘ugal-ugalan’ ini, Toyota nggak mau sendirian. Bansar menegaskan bahwa mereka aktif berkoordinasi dengan seluruh ‘ekosistem’ produksi, mulai dari supplier sampai principal global.

“Khususnya kalau misalkan kenaikan dolar, pastinya kita akan bekerjasama dengan Toyota Group. Kita bukan hanya kami sebagai distributor, tapi juga kami disupport oleh manufacturer dan juga supplier,” jelas Bansar.

Bansar juga membeberkan kalau proses bikin mobil itu panjang banget, melibatkan banyak pihak: supplier Tier 3, Tier 2, Tier 1, manufacturer, distributor, sampai dealer. Karena itu, mereka semua lagi putar otak buat cari solusi supaya pelemahan rupiah ini dampaknya ke harga mobil bisa diminimalisir.

Artinya, Toyota mau jaga kepercayaan konsumen mereka di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan.



“Kita akan semaksimal mungkin, untuk bisa mengurangi impact yang terjadi di customer. Sehingga customer juga lebih trust kepada merek Toyota, dan tidak akan meninggalkan mereka,” tegasnya.

Strategi menahan harga ini dinilai realistis. Toyota sadar, kalau harga naik terlalu tinggi, konsumen bisa mikir dua kali buat beli, atau malah pindah ke merek lain yang harganya lebih ramah di kantong.

Meskipun saat ini Toyota berjuang keras menstabilkan harga, peluang harga naik di kemudian hari tetap ada. Jika kurs dolar terus betah di level tinggi dalam jangka waktu lama, tekanan biaya produksi pasti akan makin berat, dan produsen serta supplier nggak akan sanggup menanggungnya sendirian.

Ketika hal ini terjadi, kenaikan harga mobil biasanya dilakukan bertahap dan nggak sekaligus buat semua model. Penyesuaian akan dilakukan secara selektif, tergantung seberapa besar kandungan impor di mobil tersebut, dan tentunya kondisi pasar otomotif nasional.

Tapi, yang jelas, dari pernyataan resmi ini, konsumen bisa sedikit lega karena Toyota nggak mau ambil langkah instan untuk langsung menaikkan harga di tengah kondisi rupiah yang lagi loyo ini.