Govtech

Diserbu AI, Literasi Digital di Indonesia Keteteran?

Susetyo Prihadi
Diserbu AI, Literasi Digital di Indonesia Keteteran?

Uzone.id - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) melaju kencang, tapi ada satu hal yang tertinggal: kesiapan manusia. Di Indonesia, literasi digital dinilai belum cukup kuat untuk menghadapi gelombang teknologi yang datang tanpa rem.

Akibatnya, masyarakat kini berada di posisi rawan, bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tapi juga berpotensi menjadi korban.

“Melalui sesi ini, peserta mendapatkan wawasan penting tentang bagaimana memahami, menyikapi, dan memanfaatkan teknologi di era AI secara bijak,” ujar Direktur UKK-PPM CEP-CCIT FTUI, Dr. Miktha Farid Alkadri, S.Ars, M.Ars, di acara seminar 'Membangun Literasi Digital di Tengah Kecerdasan Artifisial', yang diselenggarkan CCIT Fakultas Teknik, di Universitas Indonesia, beberapa waktu lalu.


Karena di lapangan, realitasnya tidak sesederhana itu. Lonjakan penggunaan AI, mulai dari pembuatan konten otomatis hingga manipulasi visual, tidak selalu diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memilah informasi. Fenomena seperti hoaks berbasis AI, deepfake, hingga penyalahgunaan data pribadi semakin sulit dikenali oleh pengguna awam.

               




Kesenjangan ini menjadi celah yang berbahaya. Tanpa literasi digital yang memadai, masyarakat bukan hanya rentan tertipu, tetapi juga bisa tanpa sadar ikut menyebarkan informasi yang menyesatkan.

Di sisi lain, AI memang menawarkan efisiensi tinggi di berbagai sektor. Dari pendidikan, pekerjaan, hingga industri kreatif, teknologi ini membuka peluang baru yang sebelumnya sulit dicapai. Namun, tanpa pemahaman yang cukup, manfaat tersebut justru berisiko hanya dinikmati oleh segelintir pihak yang lebih siap secara digital.

Edukasi literasi digital pun menjadi krusial, bukan sekadar untuk “mengikuti tren”, tetapi sebagai benteng utama menghadapi dampak negatif teknologi. Tantangannya, upaya edukasi sering kali tertinggal dibanding kecepatan inovasi yang terus melaju.

Editor in Chief Uzone Indonesia, Trisno Heriyanto, melihat langsung bagaimana perubahan ini terjadi dari dalam industri media.

“Setiap hari saya melihat bagaimana informasi dibuat, disebarkan, dan… disalahartikan,” ujarnya, di depan puluhan mahasiswa.


Trisno Heriyanto
Trisno Heriyanto

Menurutnya, AI memang membawa efisiensi besar dalam produksi konten. Dari tulisan, video, hingga visual, semuanya bisa dibuat lebih cepat. Namun, kecepatan itu justru menjadi pedang bermata dua.

“AI membuat semuanya makin cepat, tapi cepat tidak selalu berarti benar,” tegasnya.

Perubahan tidak hanya terjadi di sisi produksi, tetapi juga konsumsi informasi. Saat ini, sekitar 57 persen masyarakat Indonesia mendapatkan berita dari media sosial—platform yang sepenuhnya dikendalikan algoritma.

Artinya, apa yang dilihat pengguna bukan lagi hasil pilihan sadar, melainkan hasil kurasi sistem.

“Kita hidup di tengah banjir informasi, konten datang tanpa kita minta,” kata Trisno.

Dalam situasi ini, batas antara fakta dan manipulasi makin kabur.Risiko AI bukan lagi teori. Sejumlah kasus menunjukkan bagaimana teknologi ini digunakan untuk menipu secara nyata.




Mulai dari video deepfake tokoh publik untuk penipuan, hingga manipulasi konten yang merusak reputasi seseorang. Bahkan, teknologi AI kini digunakan untuk membuat identitas palsu yang bisa berinteraksi secara real-time dengan korban.


Dampaknya tidak main-main: kerugian finansial, kerusakan reputasi, hingga krisis kepercayaan terhadap informasi digital.

Literasi Digital Tak Cukup, Harus Pakai Etika

Di sisi lain, Kurnia Purwanto, Manager External Communications Telkomsel, menekankan bahwa tantangan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan kemampuan teknis.

Dalam materinya bertajuk ia menggambarkan dunia digital saat ini seperti lautan luas yang penuh arus informasi.


Kurnia Poerwanto
Kurnia Poerwanto

Tanpa kompas yang tepat, masyarakat akan mudah terseret arus—tanpa tahu mana arah yang benar. Pendekatan literasi digital, menurutnya, harus mencakup etika, kesadaran, dan tanggung jawab.

Di tengah semua kekhawatiran ini, satu hal menjadi garis tegas: AI bukan musuh utama.

“Bukan teknologinya yang berbahaya tapi bagaimana kita menggunakannya,” ujar Trisno.

Masalahnya, ketika teknologi berkembang lebih cepat dari kemampuan manusia untuk memahaminya, maka risiko akan selalu berada di depan.

Antara Mengendalikan atau Dikendalikan

Tanpa percepatan literasi digital yang serius, masyarakat hanya akan terus berada di posisi reaktif, mudah percaya, mudah menyebarkan, dan mudah terjebak.

Di titik ini, masa depan digital Indonesia dipertaruhkan.

Apakah publik akan naik kelas menjadi pengguna yang kritis dan adaptif?
Atau justru tetap menjadi target dari sistem yang mereka sendiri tidak pahami?

Jawabannya, untuk saat ini, masih belum meyakinkan.