Diduga Operasi Ilegal, CEO OnePlus Jadi Buronan di Taiwan
Uzone.id - Otoritas hukum Taiwan mengeluarkan surat penangkapan untuk CEO OnePlus, Pete Lau. Kasus hukumnya serius, Pete Lau dituduh atas dugaan melakukan praktik bisnis dan rekrutmen ilegal di wilayah Taiwan.
Kantor Kejaksaan Distrik Shilin di Taiwan mengungkap bahwa sang CEO tidak bergerak sendiri. Dua warga lokal bermarga Lin dan Cheng ikut terseret dan kini telah didakwa karena membantu memuluskan operasi ilegal tersebut.
Untuk mengakali aturan ketat Taiwan soal investasi dari China, mereka diduga mendirikan perusahaan di Hong Kong, lalu mendaftarkan cabangnya di Taiwan sejak 2015. Agar tidak terlalu mencolok, entitas yang awalnya membawa nama OnePlus ini kemudian berganti nama menjadi ‘Sonar’ pada Mei 2019 untuk menyamarkan jejak.
Jaksa pun menemukan adanya aliran dana bernilai fantastis di operasi ini. Dikutip dari Taiwan News, aliran dana mencapai TWD2,3 miliar atau setara Rp1,2 triliun yang masuk ke cabang Taiwan dalam kurun waktu 2015 hingga 2021.
Uang tersebut disamarkan seolah-olah sebagai pendapatan dari jasa R&D dan penjualan aset, padahal aslinya digunakan untuk biaya operasional, membeli peralatan, dan menggaji karyawan.
Dana itu juga digelontorkan untuk membiayai perekrutan lebih dari 70 insinyur lokal. Mereka dipekerjakan secara spesifik untuk menggarap penelitian dan pengembangan (R&D) software, verifikasi, hingga pengujian aplikasi ponsel.
Berdasarkan keterangan para saksi, hasil kerja keras tim Taiwan ini digunakan secara eksklusif untuk jajaran produk OnePlus dan induk perusahaannya, Oppo. Jadi, kantor cabang ini murni bekerja untuk pusat, bukan mencari klien sendiri.
Saat diperiksa, Cheng mengaku posisinya hanya formalitas sebagai perwakilan legal untuk urusan pajak. Ia berdalih tidak menerima gaji dan tidak tahu menahu soal dapur perusahaan.
Sementara Lin, menjabat sebagai Direktur R&D. Ia mengaku bahwa dirinya ditunjuk langsung oleh Pete Lau untuk mewawancarai dan memimpin tim. Namun, ia menegaskan bahwa semua keputusan strategis tetap dikendalikan penuh oleh Pete Lau dari kantor pusat di Shenzhen.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari OnePlus maupun pihak Pete Lau terkait surat penangkapan tersebut.