Data Center AWS Kena Drone Iran (Lagi), Layanan di Bahrain Terganggu
Uzone.id — Fasilitas Amazon
Web Services (AWS) kembali terkena serangan drone yang ditargetkan Iran ke
kantor dan infrastruktur milik Amerika Serikat. Kali ini, serangan drone
tersebut berimbas pada data center AWS di Bahrain.
Dalam keterangan yang disampaikan pihak Amazon, Rabu,
(25/03) lalu, gangguan tersebut disebabkan oleh aktivitas drone dan menjadi
serangan kedua bagi AWS dalam kurun waktu satu bulan.
Kini, pihaknya sedang bekerja sama dengan otoritas di Bahrain
untuk memprioritaskan keselamatan karyawan-karyawan mereka di Bahrain.
“AWS Bahrain Region telah mengalami gangguan akibat konflik yang sedang berlangsung. Kami bekerja sama erat dengan otoritas setempat dan memprioritaskan keselamatan personel kami selama upaya pemulihan,” kata perwakilan Amazon.
Serangan ini kembali menyebabkan layanan-layanan yang
menggunakan AWS di negara tersebut ikut mengalami gangguan. Oleh karena itu,
Amazon meminta pelanggan untuk segera melakukan migrasi data ke lokasi lain.
“Kami terus mendukung pelanggan yang terdampak, membantu
mereka bermigrasi ke AWS Region alternatif, dengan sebagian besar pelanggan
telah berhasil menjalankan aplikasi mereka dari berbagai belahan dunia,”
tambahnya.
Sementara itu, Amazon sendiri belum memberikan penjelasan
lebih lanjut apakah fasilitas mereka di Bahrain terkena serangan langsung drone
atau serangan terjadi di sekitar lokasi fasilitas mereka.
Saat ini, AWS terus membantu memindahkan pelanggan ke region
AWS lain sambil melakukan pemulihan, meski belum menjelaskan detail seperti
tingkat kerusakan atau berapa lama gangguan akan berlangsung.
Awal bulan Maret kemarin, AWS juga mengalami gangguan layanan dan pemadaman listrik akibat serangan yang terjadi di sekitar fasilitas di Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Amazon saat itu menyebut bahwa serangan tersebut menyebabkan
gangguan pada beberapa layanan seperti perbankan, platform pembayaran hingga
platform ride-hailing ikut terdampak dan tidak bisa beroperasi secara normal.
Serangan ini terjadi setelah pihak Islamic Revolutionary
Guard Corps (IRGC) melayangkan ancaman bahwa mereka tak segan-segan akan
menyerang kantor “pusat ekonomi dan bank” yang terkait dengan entitas AS dan
Israel di kawasan tersebut.
Beberapa yang masuk daftar tersebut antara lain
infrastruktur milik perusahaan AS dengan keterkaitan Israel, termasuk Google,
Microsoft, Palantir, IBM, Nvidia, dan Oracle dimana teknologi mereka banyak
digunakan untuk aplikasi militer.