Govtech

Dari SD hingga SMP, Padang Siapkan Jagoan Coding untuk Smart City

Hani Nur Fajrina
Dari SD hingga SMP, Padang Siapkan Jagoan Coding untuk Smart City

Uzone.id — Upaya membangun kota pintar tidak selalu dimulai dari proyek infrastruktur berskala besar. Di Padang, fondasi menuju smart city justru diletakkan dari ruang kelas, lewat pembinaan talenta digital sejak usia sekolah dasar dan menengah pertama.

Siswa SD dan SMP setempat menampilkan hasil karya digital mereka dalam babak final Coding Competition se-Kota Padang. Kegiatan yang digelar di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center pada 30 Januari lalu ini menjadi puncak kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang dengan Ruang Guru yang telah berjalan sejak Februari 2025.

Lebih dari sekadar kompetisi, program ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam membangun sumber daya manusia digital yang berkelanjutan.





Asisten I Setda Kota Padang, Tarmizi Ismail, yang hadir mewakili Wali Kota Fadly Amran, menegaskan bahwa pembinaan talenta digital muda merupakan bagian dari Program Unggulan pemerintah daerah untuk mewujudkan Padang Smart City.

“Pemerintah berkomitmen membangun kota pintar melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Kompetisi ini adalah cara kita mencari dan mengasah bibit muda agar siap menghadapi tantangan global,” ujar Tarmizi, seperti dikutip dari situs padang.go.id.

Menurutnya, kesiapan kota menghadapi era digital tidak hanya diukur dari seberapa canggih teknologinya, tetapi juga dari kualitas manusianya. Karena itu, penguatan kompetensi digital sejak dini menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan daerah.

Namun, Tarmizi juga mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kecakapan digital dan nilai-nilai budaya lokal.


Foto: dok. padang.go.id
Foto: dok. padang.go.id


“Ada tiga hal utama yang harus dimiliki anak-anak kita, yakni kualitas SDM yang mampu bersaing secara internasional, penguasaan teknologi, dan sikap yang beretika. Meski menguasai coding, siswa diharapkan tidak melupakan jati diri dan adat Minangkabau,” katanya.

Dari sisi implementasi, program ini juga memperkuat tata kelola pendidikan digital di tingkat sekolah. Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Nurfitri, menjelaskan bahwa pelatihan coding ini melibatkan 61 sekolah dengan total 1.545 siswa.

Tidak hanya siswa yang menjadi sasaran, program ini juga membangun kapasitas guru sebagai penggerak transformasi digital. Sebanyak 150 guru telah mengikuti 15 sesi pelatihan intensif untuk mengintegrasikan pembelajaran teknologi ke dalam aktivitas belajar mengajar.

“Program ini tidak berhenti pada siswa. Kami juga memperkuat ekosistem digital sekolah melalui pelatihan guru. Dengan begitu, pembelajaran teknologi bisa berlanjut secara berkesinambungan,” ujar Nurfitri.

Dari ribuan peserta, panitia menyeleksi 100 karya terbaik, terdiri dari 50 karya tingkat SD dan 50 karya tingkat SMP, yang ditampilkan pada babak final.

“Ini bukti bahwa anak-anak kita sudah mampu menguasai teknologi di usia dini. Mereka tidak hanya menggunakan gawai, tapi sudah bisa menciptakan karya,” katanya.



Keberhasilan ini membuka peluang replikasi program ke sekolah-sekolah lain yang belum terjangkau pada periode pertama. Guru-guru yang telah dilatih diharapkan menjadi motor penggerak digitalisasi di lingkungan sekolah masing-masing.

Bagi pemerintah daerah, pendekatan ini memperkuat aspek tata kelola (governance) dalam pembangunan pendidikan, karena menciptakan sistem yang berkelanjutan, tidak bergantung pada proyek jangka pendek.

Tarmizi pun berpesan kepada para peserta agar menjadikan kompetisi ini sebagai titik awal, bukan tujuan akhir.

“Bagi yang belum juara, jangan berhenti belajar. Perjalanan menuju masa depan digital baru saja dimulai. Yang terpenting adalah terus berkembang dan tetap rendah hati,” ujarnya.