Digilife

Curhat Bos Instagram: Feed Estetik Mati, Konten AI Susah Dideteksi

Muhammad Faisal Hadi Putra
Curhat Bos Instagram: Feed Estetik Mati, Konten AI Susah Dideteksi

Uzone.id - Bos Instagram, Adam Mosseri curhat soal realita media sosial saat ini yang penuh konten ‘karya’ AI yang diunggah pengguna. Ia blak-blakan menyebut bahwa era feed Instagram yang rapi, terkurasi, dan estetik sebenarnya sudah tamat, penyebabnya karena ledakan teknologi AI. 

Mosseri mengatakan, konten yang asli adalah ‘barang langka’ yang bakal dipalsukan secara massal. Menurutnya, segala hal yang membuat para kreator spesial, seperti kemampuan untuk menjadi diri sendiri, selalu terhubung, memiliki suara yang tidak bisa dipalsukan, kini bisa ditiru oleh siapapun dengan alat AI yang tepat.

“Deepfake semakin canggih. AI menghasilkan foto dan video yang tidak dapat dibedakan dari media yang direkam. Feed mulai dipenuhi dengan segala sesuatu yang sintetis. Dan di dunia itu, inilah yang menurut saya terjadi,” keluh Mosseri. 

Ia menyoroti, fenomena yang banyak orang menyebutnya sebagai ‘AI Bubble’ ini, membawa masalah baru di dunia perkontenan. Semuanya jadi terlihat terlalu sempurna, banyak polesan, bahkan kulit manusia terlihat terlalu mulus tanpa pori-pori.



Dengan AI pun, kamera ponsel telah membuat gambar yang tampak profesional menjadi umum. Dengan tegas Mosseri menyatakan, “tren ini merendahkan estetika.”

“Kecuali Anda berusia di bawah 25 tahun dan menggunakan Instagram, Anda mungkin menganggap aplikasi tersebut sebagai feed foto persegi,” katanya.

“Estetikanya dipoles: banyak riasan, penghalus kulit, fotografi kontras tinggi, pemandangan indah. Feed seperti itu sudah mati. Orang-orang sebagian besar berhenti berbagi momen pribadi untuk feed bertahun-tahun yang lalu,” sambung Mosseri.

Untungnya, Instagram punya fitur Stories dan Direct Message (DM), yang menurut Mosseri sebagai ‘rumah baru’ bagi konten-konten asli dan personal. Di sana, konten jauh dari kata sempurna, seperti foto yang buram, video goyang, atau momen sehari-hari yang diambil seadanya.

Justru di tengah gempuran konten yang dipoles AI, ketidaksempurnaan inilah yang akan menjadi tren baru ke depan. Ia memprediksi tren estetika apa adanya atau raw akan semakin mendominasi.

“Stories masih hidup dan berkembang karena menyediakan cara yang kurang menekan untuk berbagi dengan pengikut Anda, tetapi cara utama orang berbagi, bahkan foto dan video, adalah melalui DM,” ungkap Mosseri. 



Bakal sulit membedakan konten asli dan AI

Banyaknya konten AI di media sosial, langsung bikin bos Instagram pesimis. Ia ragu, platform media sosial bisa dengan cepat mengenali mana konten buatan pengguna yang asli dan mana konten garapan AI.

"Semua platform besar akan bekerja keras mengidentifikasi konten AI, tapi lama-kelamaan kinerjanya akan memburuk karena AI makin jago meniru realitas," ujarnya.

“Kita perlu memberi label yang jelas pada konten yang dihasilkan AI, dan bekerja sama dengan produsen untuk memverifikasi keasliannya saat pengambilan gambar—mengidentifikasi media yang sebenarnya, bukan hanya mengejar yang palsu.” pungkasnya.