Automotive

BYD Masuk Daftar Hitam Amerika, Diduga jadi Mata-Mata

Bagja Pratama
BYD Masuk Daftar Hitam Amerika, Diduga jadi Mata-Mata

Uzone.id - Washington kembali meningkatkan tekanan terhadap sektor teknologi dan industri China. Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) baru saja memperbarui daftar perusahaan yang mereka nilai memiliki keterkaitan dengan militer China. 

Langkah ini memasukkan sejumlah nama besar ke dalam daftar, termasuk produsen mobil listrik BYD, yang berpotensi memperuncing tensi persaingan strategis di bidang teknologi, ekonomi, hingga keamanan nasional antara Amerika Serikat dan China.



BYD menjadi salah satu nama besar yang masuk dalam pembaruan daftar perusahaan militer China versi Pentagon yang dirilis pada awal pekan ini. 

Selain BYD, daftar tersebut juga mencakup sejumlah perusahaan raksasa lainnya seperti Alibaba, Baidu, CXMT, YMTC, Unitree, RoboSense, hingga WuXi AppTec.

Pentagon menyebut perusahaan-perusahaan yang masuk dalam daftar memenuhi syarat sebagai “perusahaan militer China” yang beroperasi di Amerika Serikat. 

Meski demikian, perusahaan yang tercantum masih memiliki kesempatan untuk mengajukan permohonan penghapusan dari daftar tersebut.

Meskipun status tersebut tidak secara langsung menjatuhkan sanksi instan, konsekuensi reputasi dan bisnis bagi perusahaan-perusahaan tersebut diprediksi cukup signifikan, terutama dalam operasional di pasar Amerika Serikat. 

Melansir Reuters, berdasarkan regulasi terbaru, Departemen Pertahanan AS melarang adanya kontrak langsung dengan perusahaan yang terdaftar mulai akhir Juni 2026. 

Kebijakan ini akan semakin diperketat mulai tahun 2027, di mana pemerintah AS dilarang membeli produk maupun layanan dari perusahaan-perusahaan tersebut, termasuk melalui pembelian via pihak ketiga. 

Meski demikian, perusahaan yang tercantum masih memiliki ruang untuk mengajukan permohonan agar nama mereka dihapus dari daftar tersebut.

Menanggapi keputusan Pentagon, beberapa perusahaan langsung memberikan bantahan. Alibaba menyatakan tidak ada dasar yang mendukung pencantuman mereka dalam daftar tersebut. 

Baidu pun menolak keras keputusan ini dan menegaskan akan menempuh jalur hukum untuk membersihkan nama perusahaan. 

Pemerintah China turut mengecam keras langkah Washington melalui Kedutaan Besar China di Washington. 

Beijing menilai pembuatan daftar tersebut bersifat diskriminatif dan mendesak Amerika Serikat untuk menghentikan praktik yang menghambat terciptanya lingkungan bisnis yang adil dan setara bagi perusahaan-perusahaan China.

Craig Singleton, pengamat dari Foundation for Defense of Democracies, menilai langkah Pentagon ini menunjukkan pergeseran paradigma Washington dalam memandang persaingan teknologi. 

Amerika Serikat kini tidak lagi melihat perusahaan-perusahaan ini sebagai entitas yang terisolasi, melainkan memperlakukan seluruh ekosistem teknologi China sebagai bagian dari medan persaingan strategis. 



Bagi BYD, yang tengah agresif melakukan ekspansi ke berbagai pasar global seperti Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin, perkembangan ini menjadi tantangan baru. 

Walaupun belum berdampak langsung terhadap penjualan kendaraan di banyak negara, status tersebut diyakini akan menambah pengawasan serta hambatan bisnis bagi BYD di pasar Amerika Serikat di masa mendatang.